Warga Desa Aliyan Gelar ‘Keboan Banyuwangi’

Mohon Agar Diberikan Rejeki Yang Melimpah

Banyuwangi SERU – Ribuan masyarakat Banyuwangi memadati Desa Aliyan, Kecamatan Rogojampi. Mereka berduyun-duyun ke desa Aliyan untuk melihat secara langsung ritual permohonan kelimpahan rejeki hasil bumi kepada Tuhan Yang Maha Esa, Minggu (9/9/2019) pagi.

Warga Desa Aliyan meyakini, pada bulan Syuro ada beberapa warga yang kerasukan roh halus dan bertingkah layaknya Kebo (kerbau-red). Dari moment tersebut, warga setempat melakukan ritual, dan mengarak manusia berpenampilan layaknya kerbau diarak berkeliling empat penjuru desa tersebut. Bahkan saat diarak keliling penjuru desa tersebut, ada rombongan kerbau (manusia berpenampilan seperti kerbau) menceburkan ke kubangan layaknya kerbau asli.

Kepala Desa Aliyan, Anton Sujarwo mengatakan untuk merealisasikan acara ini, masyarakat desa Aliyan saling bergotong royong, menyiapkan segala kebutuhan ritual tersebut, mulai membangun gapura yang terbuat dari janur, dan menggantung hasil bumi yang digantung disepanjang jalan desa Aliyan ini.

Menurut Anton, hasil bumi yang digantung itu sebagai perlambang gemah ripah loh jinawi desa Aliyan ini, dengan kata lain lambang kesuburan dan kesejahteraan. Sebelum acara kebo-keboan ini, terlebih dahulu digelar kenduri (selamatan) masal. “Tradisi keboan ini, sangat dinanti warga masyarakat desa Aliyan, bahkan warga Aliyan yang ada diperantoan akan mudik, ingin turut memeriahkan acara ini, dan bergotong royong menyiapkan segala sesuatunya. Dan acara Keboan ini juga sebagai silaturahmi warga desa,” ujar Kades Aliyan, Anton Sujarwo.

Lanjut Anton Sujarwo, saat  menggelar acara kenduri di empat penjuru (user bumi), ada sejumlah petani yang berkumpul. Setelah itu, ada beberapa petani yang kerasukan roh. Adanya petani yang kerasukan roh tersebut, dimulainya acara ider bumi mengelilingi empat penjuru mata angin. Ketika melakukan ider bumi itu, ‘kerbau-kerbau’ tersebut bertingkah layaknya petani yang sedang melakukan aktivitas bertani, seperti bercocok tanam, membajak sawah, menaburkan benih hingga mengairi sawah. “Apa yang dilakukan oleh keboan itu sebagai gambaran para petani bercocok tanam, mulai membajak sawah, menaburkan bibit padi, hingga mengairi sawah,” paparnya.

Sementara bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, tradisi ‘keboan’ Aliyan  ini tradisi asli warga desa Aliyan yang harus dilestarikan. Dan acara ini bagian dari Banyuwangi Festival sebagai apresiasi Pemerintah terhadap kekayaan asli warga lokal. Dimasukkannya tradisi keboan Aliyan ini, juga sebagai bentuk apresiasi warga dalam menjaga warisan para leluhur. “Banyuwangi boleh maju, namun kita tetap menjaga budaya dan tradisi yang dimiliki oleh masyarakat, dan Pemerintah tidak akan meninggalkan tradisi-tradisi ini. Apalagi tradisi ini sangat bagus, mengajarkan masyarakat harus guyub, saling gotong royong antar sesama warga,” kata bupati Anas.

Apalagi, lanjut bupati Anas perkembangan pariwisata Banyuwangi sangat maju. Majunya pariwisata ini tidak lepas dari kekayaan budaya asli yang ada di desa-desa, yang dikemas dalam atraksi budaya. “Ciri khas tradisi budaya ini sebagai identitas yang membedakan budaya Banyuwangi dengan budaya daerah lainnya. Agar tradisi ini terus berkembang Pemerintah akan mendorong dan mengembangkan atraksi daerah ini menjadi daya tarik wisatawan yang datang ke Banyuwangi,” pungkasnya. (tut/syn)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *