Malang, SERU.co.id – Ketidakjelasan status pengelolaan Velodrome Kota Malang tidak menghambat proses pembinaan atlet. KONI Kota Malang memastikan, pembinaan atlet tetap menjadi prioritas sambil menunggu kepastian pengelolaan Velodrome.
Wakil Ketua I KONI Kota Malang, Drs. Wasto SH MH mengungkapkan, Velodrome tetap menjadi pusat latihan atlet balap sepeda. Pembinaan pun terus berjalan meski hingga kini belum ada kejelasan mengenai siapa pihak yang bertanggungjawab sebagai pengelola resmi fasilitas tersebut.
“Latihan tetap berjalan di sini. Bahkan atlet-atlet dari luar Kota Malang, termasuk atlet provinsi, juga masih berlatih di Velodrome,” seru Wasto usai menemui para atlet yang berada di asrama Puslatda Velodrome.
Wasto menegaskan, keberlangsungan pembinaan atlet menjadi prioritas utama KONI. Hal itu juga menjadi bagian dari persiapan menjelang pelaksanaan Turnamen Piala Gubernur yang dijadwalkan berlangsung pada 11–12 Juli mendatang.
Di tengah keterbatasan kondisi, pensiunan Sekretaris Daerah Kota Malang itu mengapresiasi kegigihan para atlet. Ia menyebut, para atlet baik dari dalam dan luar daerah yang rutin berlatih maupun menjalani Puslatda tidak pernah mengeluhkan keadaan.
“Kalau dilihat memang masih ada kekurangan fasilitas. Tetapi yang terpenting pembinaan tetap berjalan dan para atlet masih bisa memanfaatkan Velodrome sebagai tempat latihan,” jelasnya.
Di sisi lain, KONI Kota Malang tetap mendorong pemerintah segera menuntaskan persoalan administrasi pengelolaan Velodrome. Kepastian mengenai pengguna barang dinilai penting, agar koordinasi pengelolaan, pemeliharaan fasilitas, hingga pengajuan anggaran dapat berjalan lancar.
Ia menjelaskan persoalan tersebut muncul karena aset Velodrome masih berada dalam kewenangan beberapa pihak. Tanahnya merupakan aset Pemkot Malang, lintasan balapan dibangun oleh PB ISSI, sedangkan bangunan pendukung merupakan aset Pemprov Jawa Timur.
“Karena itu, Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Pemprov Jawa Timur dan Pemerintah Kota Malang dapat menjadi solusi sementara. Nanti kalau proses hibah ke Pemkot Malang selesai dilakukan, pengelolaannya semakin jelas,” terangnya.
Selain status pengelolaan, keterbatasan anggaran pemeliharaan juga menjadi perhatian. Wasto mengatakan, selama ini belum ada anggaran khusus untuk operasional Velodrome.
“Setahu saya tidak ada anggaran khusus dari Disporapar, kecuali perawatan terbatas saat Porprov tahun lalu. Itu dicatat sebagai anggaran pemeliharaan manakala sudah jelas pengguna barangnya, lalu ditambahkan menjadi nilai aset yang masih tercatat belum menjadi kumulatif asetnya,” tandasnya. (bas/ono)









