BEM se-Jatim Ajak Mahasiswa Perkuat Pemahaman Sebelum Bersikap

BEM se-Jatim Ajak Mahasiswa Perkuat Pemahaman Sebelum Bersikap
Para pemateri dan peserta diskusi 'Perkembangan Dinamika Global dan Nasional dari Berbagai Perspektif.' (ist)

Malang, SERU.co.id – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Jawa Timur (Jatim) memilih satu langkah sederhana namun penting, yakni mengajak mahasiswa memperkuat pemahaman sebelum mengambil sikap (bersikap). Dalam menghadapi konflik geopolitik, ancaman siber yang semakin kompleks, hingga carut marutnya negeri ini maupun dinamika global.

Melalui Diskusi Publik bertajuk ‘Perkembangan Dinamika Global dan Nasional dari Berbagai Perspektif,’ di Hyde Coffee, Rabu (17/6/2026) sore. Menghadirkan Ahli Geopolitik dan Media, Yusuf R. Hakim; Staf Ahli Kementerian HAM, Penta Peturun; Direktur Eksekutif di Institute for Defence, Security and Peace Studies (IDSPS), Mufti Makarim, dan diikuti mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Jawa Timur.

Bacaan Lainnya

Ahli Geopolitik dan Media, Yusuf R. Hakim menjelaskan, dunia sedang memasuki fase perubahan besar ditandai pergeseran bentuk ancaman antarnegara. Jika sebelumnya pertahanan negara berpusat pada kekuatan darat, laut, dan udara, kini ruang digital telah menjadi medan baru yang sangat menentukan.

“Negara modern saat ini bergerak menguasai dunia siber. Ancaman yang dihadapi tidak lagi selalu berupa serangan militer, tetapi bisa melalui sektor geo-ekonomi, teknologi, media, dan penguasaan informasi,” seru Yusuf.

Para pemateri mengajak mahasiswa perkuat pemahaman sebelum bersikap. (ist)
Para pemateri mengajak mahasiswa perkuat pemahaman sebelum bersikap. (ist)

Menurut Yusuf, perkembangan teknologi informasi telah menciptakan tantangan baru berupa disinformasi dan polarisasi sosial yang diproduksi secara sistematis melalui media digital. Kondisi tersebut membuat masyarakat harus memiliki kemampuan berpikir kritis, agar tidak mudah terjebak dalam manipulasi informasi.

“Indonesia tidak kekurangan orang pintar. Yang kita butuhkan adalah orang-orang yang tetap berpikir kritis dan realistis dalam membaca setiap perkembangan yang terjadi,” tegasnya.

Sementara itu, Staf Ahli Kementerian HAM, Penta Peturun mengingatkan, Indonesia memiliki posisi yang sangat strategis dalam percaturan global. Kekayaan sumber daya alam, jumlah penduduk besar, serta posisi geografis yang penting. Menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara yang memiliki nilai strategis tinggi di tengah persaingan global.

“Dalam konteks global, semua hal bisa terjadi. Karena itu kita harus cerdas membaca situasi dan mampu menempatkan kepentingan Indonesia di tengah dinamika politik dunia yang semakin kompleks,” ujarnya.

Mahasiswa Tak Boleh Hanya Menjadi Penonton

Diskusi tersebut tidak hanya menjadi ruang transfer pengetahuan, tetapi juga memunculkan kesadaran baru di kalangan mahasiswa. Dimana mahasiswa tak boleh hanya menjadi penonton dalam perubahan zaman, namun perlu memahami akar persoalan sebelum mengambil sikap.

Koordinator Wilayah Bank PTNU JATIM asal Tuban, Hasan Husaini menilai, mahasiswa perlu memahami akar persoalan sebelum mengambil sikap maupun melakukan gerakan sosial.

“Kita harus memahami persoalan terlebih dahulu sebelum bergerak. Mahasiswa harus berdiskusi, merawat demokrasi, dan memahami kondisi nasional maupun global. Agar gerakan yang dilakukan memiliki arah yang jelas dan memberi manfaat bagi masyarakat,” terangnya.

Menurut Hasan, forum-forum diskusi seperti ini menjadi bekal penting bagi generasi muda untuk menghadapi tantangan masa depan yang semakin kompleks. Di tengah memanasnya situasi geopolitik dunia, mahasiswa Jawa Timur harus mulai menyiapkan jawabannya sendiri. Bukan dengan retorika atau sikap reaktif, melainkan melalui diskusi, literasi, dan penguatan nalar kritis sebagai modal menghadapi perubahan zaman yang semakin tidak pasti.

“Sebab di era perang informasi dan persaingan global saat ini, kekuatan sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh senjata dan ekonomi. Tetapi juga oleh kualitas berpikir generasi mudanya,” ungkapnya.

Senada, perwakilan Kementerian Luar Negeri BEM Universitas Islam Malang (Unisma), Intan menilai, diskusi tersebut membuka wawasan mahasiswa. Mengenai pentingnya mengambil peran dalam menghadapi berbagai tantangan global.

“Kami mendapatkan banyak perspektif baru. Mahasiswa bukan hanya dituntut memahami informasi, tetapi juga harus mampu mengevaluasi diri dan mempersiapkan kontribusi nyata bagi bangsa di masa depan,” ujarnya.

Forum Diskusi Tak Harus Berpusat di Kota Besar, Harus Menjangkau Daerah

Peserta lainnya, Muhammad dari Pasuruan, berharap diskusi mengenai geopolitik, ekonomi, dan masa depan Indonesia tak hanya berlangsung di kota-kota besar. Namun juga mampu menjangkau kota kecil hingga daerah-daerah pelosok.

“Forum seperti ini harus diperbanyak di berbagai daerah. Semakin banyak mahasiswa yang memahami persoalan global, semakin siap pula generasi muda Indonesia menghadapi tantangan masa depan,” katanya.

Baginya, diskusi publik yang menghadirkan para ahli dari berbagai bidang menjadi sarana penting untuk memperluas wawasan. Sekaligus membangun kesadaran kolektif tentang arah perjalanan bangsa. (rhd)

 

disclaimer

Pos terkait

iklan lowongan marketing seru.co.id