Mempelajari Sistem Kemitraan Produksi Benih, Mahasiswa MBKM PSDKU Universitas Brawijaya Kediri Ikuti Supervisi Lapang PT Wira Agro Nusantara Sejahtera

Mempelajari Sistem Kemitraan Produksi Benih, Mahasiswa MBKM PSDKU Universitas Brawijaya Kediri Ikuti Supervisi Lapang PT Wira Agro Nusantara Sejahtera

Identitas penulis

  1. Ayu Prabaningrum (Mahasiswa Prodi Agribisnis, Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan, Universitas Brawijaya PSDKU Kediri)
  2. Sulis Tiani (Mahasiswa Prodi Agribisnis, Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan, Universitas Brawijaya PSDKU Kediri)

Mahasiswa Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) PSDKU Universitas Brawijaya Kediri yang melaksanakan magang di PT Wira Agro Nusantara Sejahtera berkesempatan mengikuti kegiatan supervisi lapang sebagai bagian dari proses pembelajaran untuk memahami secara langsung bagaimana sistem kemitraan produksi benih dijalankan.

Bacaan Lainnya

PT Wira Agro Nusantara Sejahtera menjalin kerja sama dengan petani di berbagai wilayah dalam memproduksi benih. Kemitraan tersebut dilakukan karena perusahaan memiliki keterbatasan lahan dan sumber daya manusia untuk melaksanakan seluruh proses produksi benih secara mandiri. Oleh karena itu, kegiatan supervisi lapang menjadi salah satu upaya penting untuk memastikan proses produksi benih tetap berjalan sesuai standar yang telah ditetapkan perusahaan.

Kegiatan supervisi pertama dilaksanakan pada Selasa (26/5/2026) dengan mengunjungi lahan milik Bapak Maksum, selaku Contact Grower (CGR) yang mengoordinasikan petani mitra di wilayah Plosorejo, Kecamatan Kunjang, Kabupaten Kediri. Pada lahan tersebut dibudidayakan kacang panjang varietas OT 222 milik PT Wira Agro Nusantara Sejahtera. Selain melakukan pemantauan kondisi pertanaman, petugas perusahaan bersama mahasiswa magang juga menyalurkan dukungan sarana produksi berupa pupuk NPK 16-16-16 merek Pak Tani kepada Bapak Maksum.

Berdasarkan informasi yang disampaikan petani, pertanaman kacang panjang telah memasuki masa panen akhir. Sebagian besar hasil panen telah dipetik dan kondisi tanaman mulai menunjukkan gejala penuaan, seperti daun yang menguning. Ketika ditanya mengenai kendala yang dihadapi selama budidaya, Bapak Maksum menyampaikan bahwa serangan penyakit downy mildew serta kondisi cuaca yang tidak menentu menjadi tantangan utama dalam proses produksi.

Seluruh petani mitra di wilayah Plosorejo-Kunjang saat itu sedang menanam jagung. Hal tersebut bukan tanpa alasan karena setelah masa panen jagung yakni memasuki musim penghujan awal di bulan Oktober-November akan dilakukan penanaman Buncis milik PT Wiranusa. Batang tanaman jagung yang telah dipanen, dimanfaatkan sebagai lanjaran untuk menopang pertumbuhan buncis sehingga dapat menekan biaya budidaya.

Mahasiswa juga memperoleh wawasan mengenai pola tanam yang diterapkan petani di wilayah tersebut. Sebagian besar petani mitra di Plosorejo-Kunjang saat ini menanam jagung sebelum memasuki musim tanam buncis pada awal musim penghujan sekitar bulan Oktober hingga November. Setelah dipanen, batang jagung dimanfaatkan sebagai lanjaran untuk menopang pertumbuhan tanaman buncis sehingga dapat membantu menekan biaya budidaya.

Menariknya, penanaman buncis di wilayah tersebut umumnya dilakukan secara serempak oleh para petani. Selain mempermudah pelaksanaan budidaya, kebiasaan ini juga menumbuhkan semangat kebersamaan dan motivasi di antara petani untuk memperoleh hasil panen terbaik. Persaingan yang sehat tersebut secara tidak langsung mendorong petani untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil panen.

“Wong ngeten niki tandur bareng-bareng nggih, mangke nek panen akeh-akehan hasil sopo sing angsal paling akeh, Mbak. Dados damel guyonan, (Kami menanam bersama-sama seperti ini. Nanti saat panen biasanya saling membandingkan siapa yang memperoleh hasil paling banyak. Hal itu menjadi bahan candaan sekaligus penyemangat bagi para petani)” ujar Bapak Maksum.

Kegiatan supervisi kemudian dilanjutkan ke lahan milik Bapak Amirul, selaku Contact Grower (CGR) petani mitra di Kecamatan Purwoasri, Kabupaten Kediri. Pada lokasi tersebut, mahasiswa dan petugas perusahaan melakukan pemantauan terhadap pertanaman semangka varietas SK 57 dan SK 68. Berdasarkan hasil pengamatan, tanaman semangka telah memasuki masa panen terakhir. Seiring bertambahnya umur tanaman, kondisi pertanaman tidak lagi seoptimal pada awal masa produksi yang ditandai dengan daun mulai mengering dan layu serta kualitas buah yang mulai mengalami penurunan. Meskipun demikian, secara umum kualitas buah semangka yang dihasilkan masih tergolong baik dan layak panen..

Supervisi berikutnya dilaksanakan pada hari Selasa (2/6/2026) di Desa Pelem, Kecamatan Pare. Pada lokasi ini, mahasiswa melakukan pengamatan terhadap pertanaman kacang panjang varietas OT 222. Meskipun tidak bertemu secara langsung dengan petani mitra, kondisi pertanaman dapat diamati dengan baik. Tanaman terlihat tumbuh sehat dengan warna daun yang hijau merata serta tidak ditemukan gejala serangan downy mildew maupun daun menguning. Pada pertanaman tersebut, petani juga memanfaatkan tanaman jagung sebagai lanjaran bagi pertumbuhan kacang panjang.

Melalui kegiatan supervisi lapang, mahasiswa MBKM PSDKU Universitas Brawijaya Kediri memperoleh pengalaman dalam mengamati kondisi pertanaman secara langsung serta memahami pentingnya peran supervisi dalam sistem kemitraan produksi benih. Kegiatan ini menjadi sarana pembelajaran mengenai bagaimana perusahaan dan petani mitra membangun komunikasi, mengidentifikasi permasalahan budidaya, serta bekerja sama untuk menghasilkan benih yang berkualitas.

 

disclaimer

Pos terkait

iklan lowongan marketing seru.co.id