Malang, SERU.co.id – Universitas Brawijaya (UB) kembali mengukuhkan tiga guru besar dari lintas disiplin ilmu pada awal Juni 2026. Ketiganya menghadirkan gagasan inovatif untuk menjawab tantangan di sektor perikanan hingga pembangunan ekonomi lokal berbasis komunitas.
Ketiganya dikukuhkan oleh Rektor UB, pada Rabu (10/6/2026). Berikut daftar tiga profesor UB yang baru saja dikukuhkan beserta inovasi yang dihasilkan:
Daftar Isi
Prof Ir Bambang Semedi MSc PhD: MARINESCAPE Bantu Nelayan Hadapi Perubahan Iklim
Prof Ir Bambang Semedi MSc PhD merupakan guru besar dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK). Dalam orasi ilmiahnya, Prof Bambang memperkenalkan MARINESCAPE (Marine Intelligence System for Spatio-Temporal Catch Prediction). Inovasi ini merupakan sistem berbasis penginderaan jauh berbasis kecerdasan buatan untuk memprediksi zona potensial penangkapan ikan.
“Perubahan iklim telah mengubah suhu permukaan laut dan pola arus, sehingga migrasi ikan bernilai ekonomi seperti cakalang semakin sulit diprediksi. Kondisi tersebut berdampak pada meningkatnya biaya operasional dan risiko kerugian nelayan,” seru Prof Bambang.
Ia pun mengembangkan pemanfaatan data satelit yang dianalisis menggunakan teknologi machine learning dan deep learning MARINESCAPE. Sistem tersebut mampu memetakan lokasi potensial ikan secara lebih akurat, sehingga memudahkan penangkapan ikan
“MARINESCAPE hadir sebagai sistem pendukung pengambilan keputusan yang membantu nelayan beradaptasi terhadap perubahan lingkungan laut secara lebih cepat dan akurat. Dengan demikian, sistem ini memudahkan penangkapan ikan dan meningkatkan nilai ekonomi nelayan,” ungkapnya.
Prof Erni Sofia Murtini STP MP PhD: Dorong Diversifikasi Pangan Berbasis Serealia Lokal
Prof Erni Sofia Murtini STP MP PhD merupakan guru besar dari Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem (FTAB). Dalam penelitiannya, Prof Erni menekankan pentingnya diversifikasi pangan nasional melalui pengembangan serealia lokal dan pelestarian makanan tradisional Indonesia.
“Ketergantungan masyarakat kita terhadap beras dan gandum masih menjadi tantangan bagi ketahanan pangan nasional. Padahal, Indonesia memiliki berbagai sumber pangan lokal yang belum dimanfaatkan secara optimal,” terangnya.
Ia menyebutkan, salah satunya sorgum yang mampu tumbuh di lahan dengan tingkat kesuburan rendah. Menurutnya, meningkatnya tren produk bebas gluten di dunia dapat menjadi peluang untuk mengembangkan serealia lokal seperti sorgum.
“Pemanfaatan serealia lokal akan mengurangi ketergantungan kita terhadap bahan baku impor. Maka diperlukan inovasi dan modernisasi tanpa menghilangkan nilai budaya yang terkandung dalam makanan tradisional, agar tetap relevan dengan selera generasi masa kini,” ujarnya.
Prof Dr Sri Muljaningsih SE MSP: Model LILY Perkuat Ekonomi Berbasis Komunitas
Prof Dr Sri Muljaningsih SE MSP merupakan guru besar yang baru saja dikukuhkan dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB). Ia memperkenalkan Model LILY (Local Integrated Livelihood Yield) yang berfokus pada pengembangan nilai tambah sumber daya lokal. Hal itu dilakukan melalui pendekatan ekonomi sirkular berbasis komunitas.
Model tersebut mengintegrasikan aspek kewirausahaan, komunitas dan spiritualitas dalam menciptakan nilai ekonomi dari potensi lokal yang tersedia. Menurutnya, masyarakat dan pelaku UMKM memiliki peluang besar untuk mengembangkan produk bernilai tambah dari sumber daya alam di lingkungan mereka.
“Model LILY menempatkan komunitas sebagai pusat penciptaan nilai. Sehingga, manfaat ekonomi dapat dirasakan secara lebih luas dan berkelanjutan,” ujarnya.
Prof Sri meyakini, pendekatan tersebut mampu memperkuat ekonomi lokal dan menciptakan lapangan kerja baru. Hal tersebut mendorong tumbuhnya kewirausahaan berbasis sumber daya alam yang berkelanjutan.
“Salah satu contoh komoditas yang kami dorong yaitu salak suwaru. Kami berupaya mengembangkan budidaya salak suwaru yang tidak hanya berfokus pada nilai ekonomi, tapi juga berbasis pengembangan petani lokal. Mereka kami dorong jmmelalukan diversifikasi olahan produk yang bernilai jual dan bermanfaat,” bebernya.
Dengan pengukuhan ketiga guru besar tersebut, UB memperkuat kapasitas akademiknya sekaligus menghadirkan berbagai inovasi di tengah masyarakat. Diharapkan, inovasi tersebut memberikan solusi bagi tantangan perubahan iklim, ketahanan pangan dan pembangunan ekonomi berkelanjutan di Indonesia. (bas/mzm).









