Era Disrupsi AI, Alumni Fakultas MIPA UB Buktikan Lulusan Sains Makin Dibutuhkan Industri

Era Disrupsi AI, Alumni Fakultas MIPA UB Buktikan Lulusan Sains Makin Dibutuhkan Industri
Dua alumni Fakultas STeM UB berbagi kisah sukses di era disrupsi AI. (Seri.co.id/bas)

Malang, SERU.co.id – Fakultas STeM (sebelumnya Fakultas MIPA) Universitas Brawijaya terus memperkuat branding keilmuan sains modern dengan menghadirkan dua alumni suksesnya. Di era disrupsi AI, keduanya memaparkan pembuktian bahwa lulusan sains makin dibutuhkan industri.

Alumni pertama, Prof Agus Suryanto mengungkapkan, matematika saat ini memiliki peran sangat penting dalam perkembangan teknologi modern. Termasuk artificial intelligence (AI), data science, statistika, aktuaria, hingga informatika.

“AI itu dibangun oleh matematika. Semua berangkat dari algoritma dan proses berpikir yang sistematis. Jadi matematika tidak akan tergantikan oleh AI, justru matematika yang memajukan AI,” seru Prof Agus, dalam acara bertajuk Let’s Talk Ngopi SAM (Ngobrol dan Ngopi Santai Bersama Media, Kamis (21/5/2026).

Guru Besar Departemen Matematika UB itu mengatakan, perkembangan teknologi justru semakin memperluas kebutuhan terhadap lulusan matematika dan sains. Pasalnya, kemampuan utama yang dibangun dalam ilmu matematika bukan hanya soal berhitung.

“Ilmu matematika itu melatih pola pikir analitis, logis, sistematis dan teliti dalam menyelesaikan persoalan. Itu yang membuat mereka cepat beradaptasi di berbagai bidang pekerjaan,” jelasnya.

Ia menyebut, lulusan matematika UB saat ini banyak bekerja di berbagai sektor strategis. Mulai dari perbankan, industri teknologi informasi, lembaga pemerintahan, perusahaan asuransi, aktuaria, hingga dunia penelitian dan pengembangan industri.

Lebih lanjut, ia membagikan pengalamannya dalam bidang pemodelan matematika yang diaplikasikan dalam berbagai persoalan nyata. Mulai dari pemodelan gelombang air untuk kebutuhan industri dan hidrodinamika, bahkan ia pernah mengaplikasikannya dalam pengendalian hama pertanian.

“Selain itu, ilmu matematika pernah saya terapkan dalam analisis penyebaran penyakit saat pandemi Covid-19. Dari situ bisa diprediksi perkembangan penularan dan strategi pengendaliannya,” bebernya.

Sementara, Alumni selaku pemateri kedua, Drs Sunarno menuturkan, ilmu dasar yang dipelajarinya saat kuliah sangat membantu dalam dunia usaha dan industri. Menurutnya, lulusan sains memiliki kemampuan problem solving dan adaptasi yang kuat.

“Alumni Fakultas STeM UB mampu berkembang di berbagai sektor pekerjaan maupun bisnis. Ilmu kimia yang dulu saya pelajari, mengantarkan saya sampai saat ini menjadi Direktur PT Samudra Embun Anugerah,” kata dia.

Perusahaan tersebut bergerak di bidang mesin pengolah air minum dan depot air minum isi ulang. Ilmu kimia yang dipelajari Sunarno membantunya menghasilkan produk air mineral, RO Bio & hexagonal alkali.

“Semua jenis air tersebut bermanfaat bagi kesehatan tubuh dengan karakteristik masing-masing. Dari ilmu kimia juga, saya mengerti standar air layak minum hingga pengelolaan air limbah, sampai bisa dikembalikan ke alam lagi,” terangnya.

Diakuinya, dampak pelepasan air tercemar limbah tanpa pengolahan yang benar akan mengancam biota air. Hal itu diakibatkan oleh tingginya parameter BOD (Biological Oxygen Demand).

“Bakteri di sungai akan menghabiskan ketersediaan oksigen terlarut hanya untuk mengurai polutan tersebut. Makanya, saat oksigen tidak mampu mengurai polutan, air menghitam dan ikan-ikannya mati,” terangnya.

Kini, Sunarno juga aktif sebagai ​pakar pengolahan limbah sekaligus praktisi di sejumlah perusahaan. Ia berharap, mahasiswa sains dengan keilmuan kimia juga dapat mengembangkan diri dengan inovasi keilmuan berbasis AI.

“Ini sekaligus menjadi sarana Fakultas STeM UB untuk memperkenalkan transformasi wajah pendidikan sains modern kepada masyarakat. Dengan begitu, calon mahasiswa bisa melihat bidang strategis ini yang memiliki prospek luas di era perkembangan AI dan industri modern,” tandasnya. (bas/mzm)

disclaimer

Pos terkait

iklan lowongan marketing seru.co.id