BPBD Kota Malang Petakan 13 Ribu Rumah Rawan Bencana, 53 Ribu Jiwa Masuk Zona Rentan

BPBD Kota Malang Petakan 13 Ribu Rumah Rawan Bencana, 53 Ribu Jiwa Masuk Zona Rentan
Kepala Pelaksana BPBD Kota Malang menjelaskan, pihaknya telah merampungkan peta rawan bencana. (bas)

Malang, SERU.co.id – BPBD Kota Malang telah memetakan sekitar 13 ribu rumah di kawasan rawan bencana. Berdasarkan pemetaan tersebut, tercatat sebanyak 53 ribu jiwa masuk zona rentan terdampak.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Malang, Prayitno mengungkapkan, pihaknya telah menyelesaikan pemetaan wilayah rawan bencana hingga tingkat kelurahan. Bahkan peta tersebut telah dilengkapi titik permukiman warga dan jumlah penduduk yang berpotensi terdampak.

Bacaan Lainnya

“Pemetaan tersebut dilakukan bersama tim ahli dari Universitas Negeri Malang (UM). Ini menjadi langkah antisipasi menghadapi
ancaman cuaca ekstrem dan bencana hidrometeorologi di wilayah perkotaan,” seru Prayitno saat dikonfirmasi, Kamis (14/5/2026).

Ia mengatakan, hasil kajian telah diserahkan kepada seluruh lurah. Peta rawan bencana itu dapat digunakan sebagai acuan penanganan cepat ketika terjadi kondisi darurat.

“Dari 57 kelurahan di Kota Malang, ada sekitar 40 kelurahan yang memiliki titik rawan cukup spesifik. Datanya bahkan sudah sampai tingkat RT/RW dan jumlah kepala keluarga yang terdampak,” ungkapnya.

Berdasarkan hasil pemetaan, tercatat sebanyak 13.465 rumah dan bangunan masuk kategori rawan terdampak bencana. Potensi ancamannya beragam, mulai banjir, tanah longsor hingga cuaca ekstrem yang dapat memicu pohon tumbang.

“Sementara itu, jumlah warga yang berada dalam kategori rentan mencapai 53.860 jiwa. Data tersebut tidak hanya memuat lokasi, tetapi juga identitas warga sampai kelompok usia prioritas evakuasi saat terjadi bencana,” terangnya.

Menurut Prayitno, keberadaan data detail tersebut akan mempermudah pemerintah kelurahan dalam menentukan langkah cepat penanganan di lapangan. Selain itu, data juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan penyusunan program mitigasi dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang).

“Sekarang lurah sudah punya peta kerawanan masing-masing wilayah. Jadi ketika ada ancaman bencana, penanganannya bisa langsung tepat sasaran,” ujarnya.

Dari hasil analisis BPBD Kota Malang, banjir masih menjadi ancaman dengan tingkat risiko paling tinggi di perkotaan. Kondisi geografis wilayah yang berbentuk cekungan membuat aliran air dari kawasan utara dan selatan bermuara ke Kota Malang.

“Karena itu, optimalisasi drainase menjadi salah satu fokus penanganan pemerintah daerah melalui organisasi perangkat daerah teknis terkait. Sementara relawan kebencanaan diarahkan untuk memperkuat langkah pencegahan dan meminimalisir dampak saat bencana,” jelasnya.

Selain banjir, ancaman cuaca ekstrem juga menjadi perhatian serius, khususnya risiko pohon tumbang akibat angin kencang. Meski pemangkasan pohon rawan terus dilakukan, perubahan cuaca yang tidak menentu tetap berpotensi memicu kejadian tak terduga.

“Harapannya peta risiko bencana tidak hanya digunakan saat penanganan darurat. Tapi juga menjadi dasar pengurangan risiko bencana, supaya dampak yang ditimbulkan dapat ditekan semaksimal mungkin,” tandasnya. (bas/ono)

 

disclaimer

Pos terkait

iklan lowongan marketing seru.co.id