Tak Harus Linier, Sultoni Kharis Motivasi Mahasiswa FMIPA Berani Eksperimen Bermimpi Besar dan Sejahtera

Tak Harus Linier, Sultoni Kharis Motivasi Mahasiswa FMIPA Berani Eksperimen Bermimpi Besar dan Sejahtera
Sultoni Kharis SSi menjawab pertanyaan awak media. (rhd)

Malang, SERU.co.id – Mendapatkan pekerjaan tak harus linier dengan jurusan yang ditempuh, bahkan alumni FMIPA mampu lebih dominan dan sejahtera. Salah satu alumni Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Brawijaya (FMIPA UB) jurusan Kimia 1994, Sultoni Kharis SSi membuktikan dan memotivasi mahasiswa mengubah mindset tersebut. Dengan berani eksperimen dari hal kecil dan bermimpi besar mengubah sesuatu menjadi unik dan bernilai tinggi.

Pria kelahiran Lamongan, 11 Juni 1975 ini mengungkapkan, menangkap peluang pekerjaan dimulai dari kemauan yang kuat. Serta kemampuan yang bisa diperoleh dari mana saja, bahkan di era digital saat ini cukup mudah mengakaes beragam informasi dan keilmuan terupdate.

“Karena saya anak desa dengan keterbatasan ekonomi, mulai SD sampai SMA di Lamongan. Saya bisa lulus SMA itu karena jualan telur ayam, belajar dari orang-orang desa, menabung sampai punya 60 ekor ayam. Saya belajar cara merawat ayam kampung, mulai pakan sampai kebersihan kandang, sehingga setiap hari bisa panen 40 butir telur ayam,” seru Sulton, sapaan akrabnya kepada SERU.co.id.

Merubah Mindset Mengembangkan Potensi Kecil dan Bermimpi Besar

Saat didapuk sebagai tamu alumni, pria yang kini menduduki jabatan sebagai Senior SQC PT Petro Oxo Nusantara ini memberikan contoh relevan terkini. Kebiasaan berpikir jeli saat kecil dan terlatih berpikir besar melakukan eksperimen saat menempuh kuliah di FMIPA, menjadikannya berpikir berani, efektif dan efisien.

Sultoni Kharis SSi (kiri), bersama Prof Dr Chomsin Sulistya Widodo SSi MSi PhD dan Prof Solimun, saat Ngopi SAM FMIPA. (rhd)
Sultoni Kharis SSi (kiri), bersama Prof Dr Chomsin Sulistya Widodo SSi MSi PhD dan Prof Solimun, saat Ngopi SAM FMIPA. (rhd)

Merujuk pengalaman SMA, ketika memiliki beberapa ekor ayam, cara berpikirnya bukan menjual ayamnya, namun bagaimana mengembangkan dan menjual potensi ayam. Sembari mengembangbiakkan ayam menjadi beberapa puluh ekor, dirinya menjual sebagian telur untuk kebutuhan pakan ayam dan dirinya membiayai sekolah.

“Jika mahasiswa memiliki modal ayam kampung 100 ekor, itu bisa mencukupi biaya hidup dan kebutuhan hingga lulus kuliah. Jika harga telur saat ini Rp2.500 per butir, bisa omzet Rp250 ribu dikurangi pakan Rp50 ribu, jadi untung Rp200 ribu untuk 1-2 hari. Tentunya harus paham literasinya bagaimana meningkatkan produktivitas ayam petelur unggul dan kualitas telurnya,” beber pria yang loyal di PT Petro Oxo Nusantara sejak tahun 2000.

Terbentuknya Beragam Mindset Karena Terbiasa Eksperimen di FMIPA

Keuntungan masuk FMIPA, dirinya terbiasa menganalisa hampir semua hal yang ditemuinya, lalu mencoba eksperimen, gagal maupun sukses itu pilihan. Di sela pekerjaan utamanya, Sulton selalu tertantang terhadap hal-hal baru maupun hal biasa agar memiliki keunikan.

“Tahun 2000-an, saya mencoba membuat perangsang makanan ikan atau nutrisi penggemuk ikan bandeng. Waktu itu belum banyak yang mencoba eksperimen itu, akhirnya sukses dan laku keras. Namun karena ada beberapa bahan formula naik dan langka, selain modal pribadi dan sibuk pekerjaan utama, akhirnya pupus,” kilas mantan Ketua Himpunan Mahasiswa Kimia ini.

Dari Hobi Jadi Bisnis

Diakuinya, Sulton suka wisata kuliner dan mencicipi menu baru, maupun menu lama dengan keunikan dan rasa nikmat mengandalkan racikan bumbu dan cara pengolahan. Misal nasi goreng, bisa diolah menggunakan beragam bumbu dan cita rasa khas asal masing-masing daerah, dipadukan daerah lainnya.

“Alhamdulillah, dari eksperimen tersebut saya mewujudkannya dengan mendirikan sebuah restoran dengan beragam menu unik. Cukup sukses, namun baru setahun berjalan terdampak covid-19, hingga akhirnya saya putuskan tutup. Tapi hobi memasak dan eksperimen menu masih saya lakukan hingga sekarang,” terang pria yang bekerja pada perusahaan kimia dasar yang memproduksi 2 ethyl hexanol, iso buthanol, N-butanol, CO2 Liq dan Neo Penthyl Glycol.

Disebutkannya, mahasiswa boleh berpikir besar, namun harus tahu bagaimana memulai dan berani melangkah dari tahapan paling kecil. Karena hasil besar dimulai sejak dari hal kecil bahkan nol, berani mencoba, konsisten pada proses dan tak pernah putus asa hingga berhasil.

“Siapa yang tahu, dari hobi bisa menghasilkan, Jika kita tahu ilmunya, berani eksperimen dan berhasil, kesuksesan akan mengikuti,” ucap lulusan tahun 1999 ini.

Eksperimen Perkawinan Silang Bebek Unggulan

Meski bukan berlatar belakang pendidikan peternakan, pengalaman beternak ayam meningkat menjadi peternak bebek. Karena terbiasa eksperimen, Sulton mencoba mengawinkan beberapa jenis bebek, salah satunya bebek Peking dengan mentok.

“Saya eksperimen kawin silang beberapa jenis bebek, untuk bebek Peking dengan mentok hasilnya sangat luar biasa. Ukuran bebeknya besar, ukuran telur juga lebih besar dan enak, dagingnya juga gurih dan empuk,” terang pria yang pernah menjabat Kabid Penelitian dan Pengembangan Organisasi Ikatan Mahasiswa Kimia Indonesia tingkat nasional.

Tak hanya fokus pada persilangan, Sulton juga melakukan eksperimen formulasi makanan ternak khusus bebek. Dirinya melakukan riset dengan mengolah dan mengkombinasikan berbagai macam pakan.

Alumni FMIPA UB dengan Beragam Profesi

Berdasarkan sampel kuesioner dari 1.300 alumni, profesi lulusan FMIPA UB tak hanya linier dengan jurusan yang ditempuh saat kuliah. Bahkan beberapa alumni memiliki pekerjaan sampingan, meski di pekerjaan utama memiliki penghasilan lebih dari cukup.

“Hampir 50 persen lulusan muda boleh disebut telah mapan dan sejahtera. Kalau lebih senior lagi, lebih 80 persen alumni sejahtera dengan penghasilan rata-rata dua digit bahkan lebih. Artinya, mahasiswa FMIPA memiliki masa depan lebih cerah dan tak harus linier dengan jurusan, linier mungkin akan lebih baik,” paparnya.

Berdasarkan data sampel, beberapa profesi alumni ternyata tak harus linier dengan jurusan yang ditempati saat ini. Di antaranya:
• Karyawan Swasta menduduki peringkat pertama sebesar 33 persen,
• Pegawai Negeri/TNI/Polri 30,9 persen,
• Lainnya 15,4 persen,
• Usaha sendiri 12,2 persen,
• Karyawan BUMN/BUMD 6,4 persen,
• Aktifis LSM/NGO 0,7 persen,
• Pensiunan 0,6 persen
• Politikus 0,2 persen
• Tidak menjawab 0,9 persen

“Sementara dosen dan guru, yang linier dengan jurusan di FMIPA masuk dalam kategori Pegawai Negeri. Rata-rata penghasilan mereka sudah jauh di atas UMR, bahkan ada yang dua digit, yang tiga digit itu pemilik bimbel sekaligus pengawas,” tandas Sekretaris Umum IKA MIPA UB ini.

Senada, Wakil Dekan III FMIPA UB, Prof Dr Chomsin Sulistya Widodo SSi MSi PhD menyampaikan, alumni FMIPA UB dikenal paling loyal pada perusahaan. Terbukti mereka memiliki masa kerja lebih lama dalam satu perusahaan, lantaran posisi tersebut sulit mencari penggantinya.

“Salah satunya, Pak Sultoni Kharis ini, di PT Petro Oxo Nusantara sejak tahun 2000. Dan masih banyak alumni-alumni lainnya karena posisinya strategis dan pendapatannya di atas rata-rata,” ungkap Chomsin. (rhd)

 

disclaimer

Pos terkait

iklan lowongan marketing seru.co.id