Batu, SERU.co.id – Kesadaran masyarakat akan gaya hidup sehat kini membawa angin segar bagi para pelaku UMKM di sektor pangan. Abdullah Dzikri, seorang pengusaha keripik buah dan sayur asal Kota Batu, mengungkapkan, meningkatnya kepedulian masyarakat terhadap healthy food (makanan sehat) berbanding lurus dengan permintaan keripik buah dan sayur di pasar.
”Meningkatnya kepedulian masyarakat terhadap healthy food telah berdampak pada meningkatnya kebutuhan keripik buah dan sayur,” seru Abdullah.
Dalam memenuhi permintaan pasar yang semakin selektif, pemilihan metode penggorengan menjadi kunci utama kualitas produk. Menurut Abdullah, saat ini terdapat dua metode yang paling umum digunakan dalam industri keripik, yakni Deep Frying dan Vacuum Frying. Meskipun keduanya bertujuan menghasilkan tekstur renyah, terdapat perbedaan signifikan dalam proses dan hasil akhirnya:
”Kalau pakai Deep Frying itu menggunakan suhu tinggi mencapai 185°C, sehingga prosesnya jauh lebih cepat. Sebaliknya, Vacuum Frying memerlukan waktu lebih lama karena suhu dibatasi maksimal hanya 80°C saja,” seru Dzikri sapaannya.
Dzikri mengungkapkan, perbedaan yang paling mencolok terlihat pada visual produk. Pada metode Deep Frying, warna keripik akan berubah dari warna asli bahan bakunya akibat suhu tinggi. Sementara itu, teknologi vacuum frying mampu menjaga warna asli buah dan sayur tetap stabil meski telah melalui proses penggorengan. Penggunaan suhu rendah pada vacuum frying juga dianggap lebih mampu menjaga kandungan nutrisi dalam sayur dan buah dibandingkan penggorengan biasa.
“Ini sejalan dengan preferensi konsumen healthy food yang menginginkan camilan yang tidak hanya enak, tetapi juga tetap memiliki kemiripan nutrisi dan tampilan dengan bahan segarnya,” imbuhnya.
Dzikri juga menambahkan, strategi pemilihan teknologi ini menjadi kunci bagi pengusaha untuk tetap bersaing di tengah tren pasar yang semakin peduli kesehatan. Beberapa jenis sayur yang dibuat keripik antara lain kentang, jamur, brokoli, wortel, ubi, kacang panjang, jagung dan terong. (dik/ono)








