Sumba, SERU.co.id – Sebuah kaki palsu bekas menjadi awal persahabatan lintas negara antara Neldi, anak asal Pulau Sumba Indonesia dan Kim Sejin dari Korea Selatan. Pertemuan mereka dalam sebuah kegiatan kemanusiaan pada 2009 menautkan dua kehidupan yang tumbuh dengan disabilitas dan luka masa kecil. Dari momen itulah terjalin ikatan persaudaraan selama lebih dari 16 tahun hingga mempertemukan mereka kembali pada 2025.
Kisah Neldi Kecil
Neldi lahir dan tumbuh besar di Pulau Sumba, Nusa Tenggara Timur. Pada usia tujuh tahun, sebuah kecelakaan mengubah hidupnya selamanya. Dalam kepercayaan keluarga dan lingkungan sekitarnya, penyakit yang diderita Neldi dianggap sebagai ulah roh jahat.
Neldi kecil pun dibawa ke seorang dukun. Kakinya dibungkus daun bambu dan dibiarkan selama hampir sebulan. Alih-alih sembuh, luka itu justru membusuk. Tak ada pilihan lain selain kaki Neldi harus diamputasi.
Pasca amputasi, kepercayaan diri Neldi runtuh. Ia menutup diri, bahkan berhenti sekolah selama setahun. Dunia terasa terlalu berat bagi seorang anak yang tiba-tiba kehilangan kakinya, bahkan juga mimpinya.
Namun, harapan itu kembali muncul pada 2009. Dalam sebuah kegiatan yang digelar oleh Compassion, organisasi kemanusiaan Kristen global yang fokus pada pengembangan anak-anak dari keluarga miskin, Neldi bertemu Sejin, seorang remaja dari Korea. Sejin lahir tanpa kaki kanannya dan menjalani banyak operasi, bahkan baru bisa berjalan saat berusia empat tahun.
Bagi Neldi kecil, Sejin bukan sekadar tamu dari negeri jauh. Ia seperti kakak yang memahami rasa sakitnya. Namun bagi Sejin, pertemuan itu juga mengguncang batinnya.
“Aku sudah berdoa kepada Tuhan agar diberi kaki yang kuat dan kakak laki-laki yang kuat. Tapi mengapa justru seseorang dengan disabilitas yang lebih parah datang kepadaku?,” cerita Sejin, dikutip dari YouTube HiMUSTARD, Sabtu (3/1/2025).
Alih-alih marah atau menolak, Sejin justru merasa seolah sedang bercermin. Neldi adalah versi lain dari dirinya.
Sejin telah menggunakan kaki palsu sejak kecil. Di keluarganya, kaki palsu bukan benda murah. Ia tidak pernah tega membuang kaki-kaki palsu lamanya, meski sudah tak terpakai. Ia menyimpannya satu per satu.
Hingga suatu hari, ia tahu, kaki-kaki itu bisa diwariskan. Ketika kaki palsu Sejin dicoba pada Neldi, hasilnya nyaris mustahil dipercaya. Tinggi dan ukuran kakinya pas, seolah memang ditakdirkan.
Sejak hari itu, Neldi kembali berdiri. Lebih dari itu, ia kembali percaya pada dirinya sendiri. Sejin bertekad menjadi kakak bagi Neldi. Sejak saat itu, tanpa disadari, Neldi juga mendapatkan seorang ibu.
Perjuangan Hidup Sejin
Tak hanya Neldi, Sejin juga menapaki jalan luar biasa. Ia dikenal sebagai “perenang kaki robot”, dan menjadi mahasiswa termuda (15) di Fakultas Ilmu Olahraga Universitas Sungkyunkwan.
Lahir tanpa bagian bawah kaki kanan, kaki kiri, dan tiga jari tangan kanan, Sejin justru menemukan kebebasan di dalam air. Ia menjuarai berbagai kompetisi, meraih tiga emas di Kejuaraan Renang Junior Disabilitas Nasional 2009 di Inggris. Bahkan dinobatkan sebagai salah satu Pahlawan Muda untuk Memimpin Korea. Kisah hidupnya telah diterbitkan dalam buku teks etika dan bahasa Korea untuk sekolah dasar.
Namun dunia dewasa tak selalu ramah. Saat memasuki dunia kerja, Sejin menyadari, sebelum melihat prestasi, orang-orang lebih dulu memeriksa satu hal, apakah kotak “disabilitas” dicentang. Meski begitu, ia tak berhenti untuk terus bermimpi.
Sosok di Belakang Layar
Perjuangan Sejin dan Neldi tak bisa dilepaskan dari sosok Yang Jeong-sook. Wanita berusia 44 tahun itu mengadopsi Sejin, yang ia temui saat menjadi sukarelawan di panti asuhan pada tahun 1998. Yang telah bekerja sebagai pengasuh bayi, sopir dan konselor untuk membesarkan Sejin.
Hidup mereka jauh dari kata mudah. Ada masa ketika mereka bahkan tak mampu membeli beras. Ibu Sejin bekerja apa saja, mengantar paket, mencuci mobil sejak pagi, menjadi sopir pengganti demi masa depan anaknya.
Sikap demikian tidak lahir begitu saja, namun dari luka pribadinya. Ibu kandung Yang Jeong-sook meninggal tak lama setelah melahirkannya. Ia tumbuh tanpa sosok ibu, sempat tersesat, menyimpan dendam, dan terus bertanya: “Bagaimana hidupku jika aku punya ibu?”
Hingga akhirnya ia sadar, masa lalu tak bisa diubah. Satu-satunya yang bisa dilakukan hanyalah menciptakan masa depan berbeda. Khususnya bagi anak-anak yang membutuhkannya. Yang pun mendukung dan mengupayakan semua mimpi Sejin.
Sebuah Reuni
Program sponsor Compassion biasanya berakhir ketika anak memasuki usia dewasa. Namun ketika keluarga Sejin mengetahui Neldi terancam tak bisa melanjutkan kuliah karena biaya, mereka mengambil keputusan besar dengan menanggung biaya pendidikannya.
Tak hanya kaki palsu, Neldi mendapatkan kesempatan hidup. Ia kembali bersekolah, melanjutkan kuliah dan menembus segala keterbatasan. Hingga akhirnya, Neldi lulus cumlaude dari universitas. Sebuah pencapaian yang dulu terasa mustahil bagi anak kecil dari Sumba yang pernah kehilangan segalanya.
Ibu Sejin mengaku sangat bangga. Baginya, mendapatkan pekerjaan saja sudah berat bagi penyandang disabilitas. Namun, Neldi berhasil membuka pintu-pintu baru lewat pendidikan.
Setelah terpisah selama 12 tahun, pada 2025, Sejin dan keluarganya akhirnya datang ke Indonesia untuk merayakan kelulusan Neldi.
Ibu Kim sempat mengira pertemuan itu akan canggung. Ia takut melihat kebencian atau luka di mata Neldi.
Namun yang ia temukan justru sebaliknya. Tatapan itu masih sama, lembut, bersih, penuh syukur. Saat Sejin dan Neldi berdiri berhadapan, mereka bukan lagi anak kecil. Mereka dua pria dewasa, dengan kaki robot, luka lama dan mimpi yang terus tumbuh. (aan/mzm)








