Malang, SERU.co.id – Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa bersama 22 daerah di se-Jawa Timur secara serentak melakukan proses pembongkaran dan penanaman bibit tebu baru, serta melakukan pemanenan secara simbolis batang tebu, Kamis (18/6/2026). Guna meningkatkan produktivitas tebu nasional dan mempercepat swasembada gula, Pemprov targetkan bakal melakukan bongkar ratoon lahan seluas 54.897 hektar.
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa menjelaskan, proses bongkar ratoon tersebut dilakukan secara maraton agar program tersebut segera terealisasi. Kegiatan yang dilaksanakan berpusat di Kabupaten Malang tersebut merupakan bentuk sinergi antara pemerintah pusat, daerah, BUMN gula dan petani.
“Kita ini secara maraton bongkar ratoon. Fokusnya bongkar ratoon, karena kita ingin replanting ya, dengan kualitas bibit yang diharapkan makin bagus. Bibit ini semua disiapkan oleh Kementan,” seru Khofifah.
Dirinya berharap, dengan peremajaan tanaman tebu dan pemilihan bibit unggul tersebut diharapkan menghasilkan tebu berkualitas tinggi. Sehingga nantinya gula yang dihasilkan dari bahan baku yang baik juga memiliki kualitas yang baik pula.
“Dengan bibit yang bagus, harapan kita productivity. Dengan berbagai teknologi yang dimungkinkan melalui laboratorium-laboratorium yang canggih, yang dimiliki perguruan tinggi, apalagi oleh Kementan, bukan sesuatu yang impossible. Kita untuk bisa meningkatkan yang di sini maksimal masih 150 ton per hektar, bisa 250 ton per hektar seperti yang pernah dihasilkan di Gondanglegi, Malang ini,” jelasnya.
Khofifah menegaskan, Jawa Timur memiliki peran yang strategis dalam mendukung produksi gula nasional. Dikarenakan Jawa Timur merupakan salah satu sentra pertanian tebu terbesar di Indonesia. Dengan ini, Jatim diharapkan menjadi pemotor pergerakan peningkatan produktivitas melalui berbagai program transformasi budidaya, termasuk program bongkar ratoon ini.
“Tadi saya sampaikan, bahwa ini ekosistem hulu-hilir atau ke market. Oleh karena itu, memang harus dijaga semua pihak, jangan gula rafinasi (gula murni dengan sukrosa hampir 100 persen) merembes ke pasar. Kalau gula rafinasi merembes ke pasar, nggak kompatibel hasil dari gula petani ini,” jelasnya.
“Selain kualitas bibitnya, juga ada proses penebangan, ada proses penggilingan yang juga harus dikawal. Oleh karena itu, petugas lapangan pertanian menjadi penting untuk mengawal ini semuanya,” imbuh Khofifah.
Sementara itu, Direktur Tanaman Semusim dan Tahunan Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian RI Abdul Roni Angkat menjelaskan. Program bongkar ratoon ini menjadi salah satu fokus pemerintah dalam meningkatkan tebu rakyat. Dengan harapan tidak lagi ada impor gula konsumsi dan meningkatkan kesejahteraan para petani.
“Panen dan tanam tebu serentak ini merupakan salah satu strategi yang didorong pemerintah untuk memperbaiki produktivitas tebu. Tanaman tebu yang telah mengalami penurunan produktivitas perlu diremajakan, agar potensi hasil kembali bisa optimal,” tuturnya.
Dirinya menjelaskan, demi mensukseskan program tersebut Kementerian Pertanian akan terus memberikan dukungan melalui penyediaan benih unggul, pendampingan teknis. Serta berbagai program penguatan budidaya yang berorientasi pada peningkatan produksi dan efisiensi usaha tani tebu.
Sebagai informasi, Pemerintah Provinsi Jawa Timur targetkan melakukan peremajaan pada 54.897 hektar lahan tebu. Yang terdiri dari 48.315 hektar proses bongkar ratoon dan 6.582 hektar perluasan area tanah. Sedangkan untuk Kabupaten Malang, target bongkaran tersebut seluas 7.500 hektare lahan tebu. (wul/ono)









