Malang, SERU.co.id – Sanggar budaya anak Nareswari menggelar pelatihan batik melalui program ‘Harmonisasi Griya Kriya Topeng Ramah Difabel dan Pasar Seni Bareng’. Pelatihan ini mempertemukan anak-anak difabel dengan dengan mahasiswa Desain Fashion Universitas Ciputra untuk mendorong inklusivitas kemandirian ekonomi.
Panitia Pelatihan Batik, Brelliane Semesta Pratiwi mengungkapkan, para peserta difabel mengikuti pelatihan secara gratis. Kegiatan ini menjadi bagian dari pemanfaatan hasil kelola Dana Abadi Kebudayaan Tahun 2025 yang didukung Kementerian Kebudayaan.
“Program ini terdiri dari beberapa rangkaian kegiatan, yakni membatik, membuat dan melukis topeng, hingga diamond painting. Seluruh rangkaian program akan berlangsung mulai Mei sampai Agustus 2026,” seru Brelliane usai pelatihan di Griya Kriya Ramah Difabel, Sabtu (16/5/2026).
Ia mengatakan, puncak rangkaian program berlangsung pada 1 Agustus mendatang di Griya Kriya Ramah Difabel. Nantinya akan ada parade tari, sendratasik, bazar UMKM dan penampilan tari topeng oleh anak-anak difabel.

“Sebagian peserta yang ikut pelatihan batik hari ini juga akan tampil dalam acara puncak tersebut. Selain itu, hasil karya peserta rencananya dipamerkan di sejumlah lokasi, seperti hotel, gedung kesenian dan sanggar budaya,” ungkapnya.
Instruktur pembatik, Yuharsita SPsi MM mengatakan, pelatihan ini dirancang dengan metode khusus ramah difabel. Dengan begitu, setiap materi pelatihan mudah dipahami peserta.
“Di sini kita lebih mengenalkan teknik yang paling sederhana, mudah dipahami dan bahasa yang mereka bisa mengerti. Harapannya, nanti mereka bisa mandiri membuat batik yang disesuaikan dengan kemampuan teman-teman difabel,” jelasnya.
Diakuinya, peserta tidak hanya dikenalkan teknik membatik, tetapi juga diarahkan untuk memiliki peluang usaha mandiri ke depannya. Menurutnya, keterampilan membatik dapat menjadi bekal kemandirian ekonomi bagi para peserta.
“Kami mendorong kemandirian ekonomi yang inklusif lewat pelatihan ini. Ke depannya, ini bisa menjadi bekal untuk memulai UMKM demi kehidupan yang lebih baik,” kata perempuan yang akrab disapa Mbak Sita itu.
Ia menambahkan, pendampingan bagi pelaku usaha batik juga tersedia melalui berbagai lembaga, termasuk Balai Diklat Industri (BDI) Kementerian Perindustrian. Pendampingan tersebut meliputi strategi pemasaran hingga pengembangan jejaring usaha.
“Kalau di Malang bisa masuk ke paguyuban atau asosiasi, karena dari asosiasi bisa membantu jejaring mereka. Termasuk memudahkan akses pendampingan dari Disnaker dan Diskopindag,” tambahnya.
Dalam pelaksanaan pelatihan membatik, turut melibatkan mahasiswa Program Studi Fashion Design and Business Universitas Ciputra Surabaya. Mereka hadir berkunjung dan ikut belajar membatik secara langsung bersama anak-anak difabel.
Dosen Fashion Design and Business Universitas Ciputra, Janet Rine Teowarang SDs MDs mengatakan, pihaknya sudah lama berkolaborasi dengan pihak sanggar. Kolaborasi tersebut bertujuan menanamkan nilai inklusi sosial kepada mahasiswa melalui interaksi langsung dengan teman-teman difabel.
“Mereka hadir langsung di sini, supaya bisa mengenal teman-teman difabel dan belajar saling menghargai. Inklusi sosial itu yang ingin kami bangun dalam pembelajaran ini,” terangnya.
Janet menambahkan, mahasiswa juga akan menggelar presentasi desain ulang motif batik hasil karya peserta difabel. Kemudian dilanjutkan dengan mini fashion show yang menampilkan karya para mahasiswa.
“Kami juga akan mengadakan fashion presentation dan mini fashion show bersama teman-teman di sini. Harapannya, kita bisa terus saling belajar,” pungkasnya. (bas/mzm)









