RSSA Awali Vaksinasi Campak Nakes di Kota Malang, Pelaksanaan Bertahap Empat Hari

RSSA Awali Vaksinasi Campak Nakes di Kota Malang, Pelaksanaan Bertahap Empat Hari
RSSA mengawali vaksinasi campak untuk tenaga kesehatan di Kota Malang. (Seru.co.id/bas)

Malang, SERU.co.id – Rumah Sakit dr Saiful Anwar (RSSA) mengawali vaksinasi Measles-Rubella (MR) untuk tenaga kesehatan-medis di Kota Malang. Hal ini dilakukan untuk mencegah penularan campak, dengan pelaksanaan vaksinasi bertahap selama empat hari.

Ketua Tim Kerja Pelayanan RSSA, dr Diana Wati Ekasari mengatakan, vaksinasi menyasar total 1.224 orang. Mereka sebelumnya telah melalui proses skrining dan pendataan melalui sistem microplanning dari Dinas Kesehatan.

Bacaan Lainnya

“Yang menjadi sasaran adalah tenaga kesehatan maupun non-tenaga kesehatan yang berisiko kontak dengan pasien. Mereka sebelumnya sudah mengisi data skrining melalui Google Form sesuai ketentuan dari Dinkes Jatim,” seru Diana, Selasa (12/5/2026).

Ia menjelaskan, hasil skrining menunjukkan terdapat sekitar 104 peserta yang membutuhkan dua dosis vaksin. Hal ini dikarenakan belum pernah menerima vaksin MR sebelumnya atau tidak memiliki riwayat vaksinasi yang jelas.

Sejumlah tenaga kesehatan dan non kesehatan mengantre vaksinasi yang digelar secara bertahap. (Seru.co.id/bas)
Sejumlah tenaga kesehatan dan non kesehatan mengantre vaksinasi yang digelar secara bertahap. (Seru.co.id/bas)

“Kalau yang sudah pernah satu kali vaksin, maka cukup satu kali suntikan lagi. Tapi kalau belum pernah atau lupa riwayat vaksinnya, maka membutuhkan dua dosis,” ungkapnya.

Untuk peserta yang memerlukan dosis kedua, vaksin lanjutan diberikan kembali setelah jeda 28 hari dari vaksin pertama. Pelaksanaan vaksinasi di RSSA berlangsung selama empat hari, yakni pada 11, 12, 13 Mei dan dilanjutkan kembali pada 21 Mei 2026 setelah libur bersama.

“Program ini dilakukan menyusul adanya peningkatan kasus campak atau Kejadian Luar Biasa (KLB) campak di sejumlah daerah. Di Kota Malang sendiri, kalau pasien campak tentu sudah ada, tetapi belum ada laporan tenaga kesehatan yang terjangkit campak,” jelasnya.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Penyakit Tropik Infeksi RSSA, dr Heri Sutanto SpPD-KPTI FINASIM membenarkan, campak merupakan penyakit menular. Peningkatan kasus campak turut dipengaruhi celah vaksinasi pada masa pandemi Covid-19, ketika sejumlah vaksin dasar anak sempat tidak optimal.

“Virus campak sebenarnya selalu ada. Ketika ada generasi yang vaksinasinya tidak lengkap, maka risiko penularannya meningkat. Saat kasus meningkat, penularannya bisa meluas ke kelompok rentan seperti Lansia maupun penderita penyakit penyerta,” terang Heri.

Ia menuturkan, campak dapat menimbulkan komplikasi lebih berat pada orang-orang dewasa. Terutama orang dengan komorbid seperti diabetes, hipertensi, gangguan autoimun, hingga kondisi kelelahan yang menurunkan daya tahan tubuh.

“Pada orang dewasa, respon imun yang berlebihan justru bisa memicu gejala lebih berat, seperti sesak napas atau penyakit kulit parah. Maka vaksinasi menjadi langkah penting untuk menekan risiko keparahan dan penularan virus tersebut,” tuturnya.

Adapun terkait efek samping setelah vaksinasi, umumnya tidak dialami oleh orang dewasa. Meski demikian, peserta vaksinasi di RSSA diwajibkan menjalani observasi selama 15 menit setelah suntik untuk memantau kemungkinan reaksi alergi atau keluhan lain. (bas/mzm)

disclaimer

Pos terkait

iklan lowongan marketing seru.co.id