Gerakan 21 Hari Vegan Edukasi Pola Makan Nabati Kader Posyandu Kota Malang

Gerakan 21 Hari Vegan Edukasi Pola Makan Nabati Kader Posyandu Kota Malang
Gerakan 21 Hari Vegan edukasi pola makan sehat berbasis nabati untuk kader Posyandu di Kelurahan Rampal Celaket. (bas)

Malang, SERU.co.id – Kegiatan edukasi pola makan sehat berbasis protein nabati digelar oleh gerakan/organisasi 21 Hari Vegan di Kota Malang. Edukasi ini menyasar kader Posyandu di Kota Malang, salah satunya di Kelurahan Rampal Celaket.

Outreach Coordinator 21 Hari Vegan, Oktariani mengungkapkan, pihaknya terus menggencarkan edukasi pola makan berbasis nabati (plant-based). Edukasi ini menjadi upaya meningkatkan kesehatan masyarakat sekaligus menjaga lingkungan.

Bacaan Lainnya

“Fokus kami pada pola makan nabati tidak lepas dari kekhawatiran terhadap perubahan iklim dan dampak kesehatan. Pembukaan lahan peternakan menyebabkan deforestasi serta penggunaan antibiotik pada pakan ternak berpotensi memicu masalah kesehatan, termasuk resistensi antibiotik,” seru Okta, Selasa (28/4/2026).

Gerakan 21 Hari Vegan Edukasi Pola Makan Nabati Kader Posyandu Kota Malang
Kader Posyandu antusias mengikuti edukasi pola makan sehat berbasis nabati. (bas)

Ia melanjutkan, atas kekhawatiran tersebut, pihaknya terus mengedukasi kader-kader lingkungan dan masyarakat terkait pentingnya mengutamakan protein nabati. Langkah ini diharapkan mampu mendorong perubahan pola makan masyarakat secara bertahap

“Hari ini kami menyasar kader Posyandu sebagai bagian dari proyek percontohan. Kami berharap perubahan kecil dalam pola makan bisa berdampak besar bagi masa depan bumi,” ungkapnya.

Ke depan, 21 Hari Vegan akan menyasar sekolah-sekolah, seperti SDK Cor Jesu di bulan Mei mendatang. Pihaknya juga menjalin kolaborasi dengan sektor swasta, termasuk hotel untuk memperluas cakupan edukasi ini.

Dalam kegiatan tersebut, Dokter Umum Bersertifikasi Gizi Nabati, dr Rochelle Vernique Siem menekankan manfaat pola makan berbasis nabati. Tidak hanya menyehatkan tubuh, tapi juga berperan dalam mencegah penyakit kronis.

“Di Indonesia masih belum banyak dikenal. Tapi penelitian di luar negeri sudah sangat kuat, terbukti efektif untuk pencegahan penyakit kronis,” jelasnya.

Ia menambahkan, pola makan nabati dapat diterapkan pada semua usia, termasuk anak-anak. Namun penerapannya untuk anak-anak tetap harus dalam pengawasan tenaga medis yang memahami nutrisi nabati.

“Pendekatan yang dianjurkan tidak harus 100 persen vegan, tapi dominasi makanan nabati. Jangan sampai hanya konsumsi sayur dan buah tanpa memperhatikan kebutuhan protein, zat besi, kalsium dan vitamin B12,” terangnya.

Rochelle juga menyoroti dampak konsumsi makanan ultra proses dan berlebihan dari sumber hewani yang kurang menyehatkan. Hal itu dapat mengakibatkan peningkatan penyakit tidak menular (PTM) seperti jantung koroner, stroke, diabetes dan kanker.

“Sebaiknya masyarakat mulai beralih ke makanan utuh (whole food) secara bertahap. Perubahan pola makan tidak bisa instan, perlu proses dan adaptasi,ā€ katanya.

Dari sisi kuliner, Chef Nova Swandara Putra menuturkan, pilihan olahan nabati sangat beragam dan tidak terbatas pada tahu dan tempe. Sayuran, jamur, hingga kacang-kacangan dapat diolah menjadi berbagai menu menarik.

“Yang paling sederhana bisa mencoba menu praktis seperti sandwich berbahan sayur dan kacang-kacangan, serta jus kombinasi buah dan sayur. Untuk anak-anak yang tidak suka sayur bisa disiasati dengan olahan kreatif, seperti nugget berbahan tempe atau tahu yang dicampur kacang merah,” ujarnya.

Melalui pendekatan edukasi, diharapkan mampu mendorong masyarakat untuk lebih sadar akan pentingnya pola makan sehat. Dengan beralih ke pola makan nabati, masyarakat turut berkontribusi terhadap kelestarian lingkungan. (bas/ono)

 

disclaimer

Pos terkait

iklan lowongan marketing seru.co.id