Nabi Muhammad SAW; Teladan Terbaik Sepanjang Zaman

Nabi Muhammad SAW; Teladan Terbaik Sepanjang Zaman
Supraptini, S.Pd

Oleh : Supraptini, S.Pd
Guru Matematika SMP Islam Sabilillah Malang

Menjadi seorang muslim dan pengikut Nabi besar  Muhammad SAW merupakan sebuah keistimewaan tersendiri bagi seorang muslim. Karena bagaimana tidak, sosok nabi Muhammad sebagai penutup para nabi atau nabi terakhir di muka bumi adalah sosok yang sangat berpengaruh dalam penyebaran agama Islam dan menjadi sosok panutan yang paling istimewa bagi umat Islam di seluruh dunia. Beliau menjadikan Islam sebagai agama yang cinta damai dan mengajarkan kepada pengikutnya apa yang terbaik.

Tidak heran meskipun beliau sudah lama meninggal, namun ajaran kebaikan dan mukjizatnya berupa kitab suci Al-Qur’an tetap menjadi petunjuk kebaikan bagi umat Islam di seluruh dunia saat ini. Selain itu, sosoknya begitu istimewa di mata masyarakat Islam sehingga hari kelahirannya dirayakan dengan penuh kegembiraan dengan mengadakan hari raya keagamaan dan dimaksudkan untuk meneladani akhlak dan perilaku beliau selama masih hidup bagi umat-umat setelahnya. Tidak heran jika banyak sekali sikap teladan Rosulullah yang selalu diajarkan oleh para orang tua, guru, atau para pemuka agama Islam untuk terus disebarkan dan diteladani dengan baik.

Sebagai salah satu dari lima nabi yang diberi gelar ulul azmi yakni gelar yang diberikan kepada para nabi yang memiliki keteguhan hati yang tinggi, meskipun diterpa berbagai rintangan saat menjalankan tugas menyampaikan ajaran Islam, beliau tetap sabar dan bertekad untuk mampu melewatinya. Oleh karena itu, sangat baik bagi kita umat Islam meneladani sifat-sifat dari nabi Muhammad SAW tersebut sebagai panduan kita untuk menjalani kehidupan di dunia ini agar kita senantiasa melakukan kebaikan dan percaya dengan kuasa Tuhan. 

Nabi Muhammad menjadi panutan bagi seluruh umat Islam di dunia. Sosok Nabi Muhammad SAW adalah seorang yang mulia dan istimewa. Mulia karena akhlaknya merupakan lambang akhlak Al-Qur’an. Spesial karena beliau adalah satu-satunya model  sempurna yang harus kita tiru. Sempurna secara fisik dan sempurna secara moral. Moralitas dalam keluarga, agama dan masyarakat. Sebagai seorang nabi (utusan Allah), ia menerima wahyu berupa kitab suci Al-Qur’an, yang diturunkan kepada Nabi Muhammad melalui malaikat Jibril oleh Allah SWT, adalah sebagai petunjuk untuk semua orang di seluruh dunia, memberikan petunjuk yang akan membimbing mereka, membuat mereka bahagia dan damai sepanjang hidup mereka, baik di dunia ini maupun di akhirat.

Nabi Muhammad SAW diutus ke dunia ini untuk memperbaiki akhlak manusia, yang  pada saat masuknya Islam masih dikenal sebagai zaman kebodohan di Mekah pada waktu itu. Era dimana masyarakat memiliki kebiasaan buruk. Suka minum-minuman keras, yang kaya menindas yang miskin, yang kuat menindas yang lemah, sangat membenci anak perempuan, jika memiliki anak perempuan dianggap memalukan, maka tindakan biadab dilakukan terhadap gadis-gadis yang hidup. Dan masih banyak lagi kebiasaan buruk lainnya

Maka Allah mengutus Nabi Muhammad SAW untuk mengingatkan orang-orang yang jahil agar meninggalkan perbuatan-perbuatan buruk mereka dan menyembah Allah SWT. Dipandu oleh Al-Qur’an, Nabi Muhammad SAW tetap berada di tengah-tengah masyarakat Jahiliyah untuk menyelamatkan mereka dari kerusakan moral.

Banyak teladan-teladan yang sudah dicontohkan beliau semasa hidupnya. Dan saat ini di era dunia yang terjadi krisis moral, teladan Nabi Muhammad SAW perlu kita contoh, perlu kita terapkan agar kita selamat dunia dan akhirat.

Teladan Nabi Muhammad dalam kehidupan sehari-hari yang perlu kita lakukan antara lain:

1.  Kerendahan Hati

Kerendahan hati merupakan sifat watak yang sangat penting dimiliki setiap orang, karena sifat inilah yang melahirkan berbagai sikap luhur dan menentramkan kehidupan kita. Seperti yang disampaikan oleh Nabi Muhammad, beliau selalu rendah hati kepada siapapun dan tidak pernah menyombongkan diri bahkan atas kehormatan dan keistimewaannya.

2. Akhlak Mulia

Rasulullah SAW pastinya memiliki akhlak yang paling mulia untuk dijadikan teladan bagi umatnya. Akhlaknya yang paling mulia selalu menyertakan pendapat yang baik, dia tidak pernah melakukan hal-hal buruk, berperilaku kasar dan tidak pernah berteriak.

Rasulullah SAW tidak pernah membalas perbuatan buruk yang menimpanya kepada siapapun. Bahkan, beliau mendoakan orang yang telah menganiayanya dengan perbuatan baik.

3. Kecintaan kepada orang lain

Kecintaan Nabi Muhammad terlihat dari sifat-sifatnya yang sangat mulia. Beliau dikenal lemah lembut terhadap para sahabatnya, memaafkan mereka dan memohokan maaf kepada Allah SWT atas dosa dan kesalahan mereka. Selain itu, nabi juga mengenal anak-anak dengan baik. Dikatakan bahwa ketika Nabi Muhammad sedang berdoa, dia mendengar seorang anak kecil menangis dan menjadi khawatir tentang anak itu. Kemudian Nabi mempercepat shalatnya karena mengetahui bahwa ibunya pasti sangat khawatir dengan tangisan anaknya.

4.  Toleran

Sifat Nabi selanjutnya yang harus dimiliki setiap muslim adalah selalu bersikap toleran. Sifat inilah yang menjadikan seseorang taat kepada Allah SWT. Sebisa mungkin misalnya, kesabaran menghadapi cobaan atau kejadian yang tidak menyenangkan dan kemampuan menerimanya dengan sepenuh hati.

5. Kedermawanan pada sesama

Nabi Muhammad dikenal karena kebesaran dan kedermawanannya. Bahkan ketika beliau memiliki kekayaan, beliau selalu berjuang menggunakan kekayaannya untuk jalan Allah. Kemurahan hatinya banyak diceritakan dalam banyak hadits, salah satunya dalam hadits berikut:

“Rasulullah didatangi oleh seorang laki-laki yang meminta sesuatu kepadanya. Maka Rasulullah memerintahkan untuk memberi seseorang kambing dalam jumlah yang sangat banyak, yang jumlahnya sama dengan jarak antara dua gunung. Akhirnya laki-laki itu kembali kepada kaumnya seraya berkata: “Wahai kaumku, masuklah ke dalam agama Islam, karena Muhammad akan memberimu hadiah agar kamu tidak lagi khawatir akan kemiskinan.” (HR.Muslim)

Meneladani kisah dan sifat Nabi Muhammad SAW memberikan pelajaran bagi kita untuk selalu berbuat baik dan menjadi pribadi yang berakhlak mulia serta tidak menuntut balasan baik juga dari perbuatan baik kita agar terhindar dari rasa pamrih dan riya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *