Jember, Seru.co.id – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jember sukses menuai pujian di tingkat nasional. Apresiasi ini diraih berkat langkah masif Pemkab Jember dalam membenahi validitas data warga miskin secara terintegrasi.
Pujian tersebut datang langsung dari Wakil Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin), Iwan Sumule. Hal itu disampaikan dalam forum nasional yang dihadiri berbagai kementerian, lembaga, serta belasan perwakilan pemerintah daerah di Jakarta.
“Pengalaman Kabupaten Jember dapat menjadi referensi strategis bagi percepatan pengentasan kemiskinan yang lebih terpadu dan berdampak,” seru Iwan Sumule, Jumat (22/5/2026).
Iwan menambahkan, persoalan utama pengentasan kemiskinan selama ini kerap terganjal oleh masalah validitas data dan tumpang tindih program. Oleh sebab itu, integrasi data yang akurat menjadi kunci utama.
“Percepatan pengentasan kemiskinan harus didukung penguatan kualitas data, ketepatan program, dan koordinasi pusat serta daerah yang efektif,” ujarnya.
Merespons apresiasi tersebut, Bupati Jember Muhammad Fawait menegaskan komitmennya untuk terus membangun kebijakan yang berbasis pada kondisi riil di lapangan.
Saat ini, Pemkab Jember menerapkan intervensi sosial berbasis data mikro By Name By Address (BNBA). Langkah ini guna memastikan seluruh aliran bantuan tepat sasaran, baik dari APBN, APBD, maupun CSR perusahaan.
Langkah konkret ini terbukti ampuh. Angka kemiskinan di Jember berhasil turun dari 9,01 persen pada 2024 menjadi 8,67 persen pada 2025.
“Yang kami bangun bukan hanya sekadar pendataan, tetapi memastikan negara hadir melalui program yang tepat sasaran. Karena bantuan yang baik adalah bantuan yang diterima oleh warga yang memang layak dan sesuai kondisi lapangan,” paparnya.
Pria yang karib disapa Gus Fawait itu menekankan, pembaruan data faktual secara langsung. Menjadi penentu efektivitas kebijakan pemerintah ke depan.
“Pemerintah harus bekerja dengan data yang akurat agar kebijakan yang diambil tidak meleset dari kebutuhan masyarakat. Dari data yang valid inilah lahir langkah-langkah yang mampu menghadirkan keadilan sosial secara nyata,” tandasnya.
Sebagai informasi, salah satu terobosan besar Jember yang mencuri perhatian nasional adalah pelibatan lebih dari 20 ribu ASN. Mereka diterjunkan langsung ke lapangan selama satu bulan untuk melakukan ground check.
Berbekal teknologi digital, para ASN memverifikasi 39 indikator kemiskinan dari rumah ke rumah. Proses ini berhasil memvalidasi 98 persen target dari kelompok masyarakat paling miskin (Desil 1).
Dari aksi jemput bola ini, terungkap sejumlah fakta lapangan yang krusial. Di antaranya temuan 16.766 warga yang telah meninggal dunia serta 10.703 kepala keluarga yang sudah pindah namun masih tercatat sebagai penerima bantuan. (sgt/mzm)









