Jakarta, SERU.co.id – BMKG memprediksi musim kemarau 2026 berlangsung lebih panjang dan lebih kering akibat pengaruh El Nino dan variabilitas iklim global. Kondisi tersebut meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di sejumlah wilayah rawan seperti Riau dan Kalimantan. Pemerintah pun memperkuat kesiapsiagaan melalui patroli udara hingga penguatan sistem peringatan dini untuk mencegah Karhutla meluas.
Daftar Isi
Kemarau Datang Lebih Cepat dan Lebih Kering
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani mengatakan, musim kemarau tahun ini diperkirakan lebih kering dibanding rata-rata normal dalam 30 tahun terakhir.
“Sebagian besar wilayah Indonesia mulai memasuki musim kemarau pada April-Juni 2026. Hingga akhir Maret 2026, sekitar tujuh persen Zona Musim (ZOM) di Indonesia telah memasuki musim kemarau. Jumlahnya diperkirakan terus bertambah signifikan,” seru Faisal, dikutip dari website BMKG, Selasa (19/5/2026).
Menurut BMKG, kondisi ENSO dan Indian Ocean Dipole (IOD) memang masih berada pada fase netral hingga akhir Maret 2026. Namun, hasil pemodelan iklim menunjukkan ENSO berpotensi berkembang menjadi El Nino pada semester kedua 2026. Hal tersebut dapat memperparah kekeringan di sejumlah wilayah Indonesia.
“Musim kemarau akan datang lebih cepat dan lebih panjang. Dengan curah hujan di bawah normal dibandingkan rata-rata musim kemarau sebelumnya,” ujar Faisal.
Pemerintah Waspadai Ancaman Karhutla
Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni menegaskan, potensi kebakaran tahun ini diperkirakan lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya. Terutama akibat musim kering yang lebih panjang.
“Saya meminta masyarakat dan perusahaan meningkatkan kewaspadaan. Khususnya dalam aktivitas pembukaan lahan yang menggunakan api. Penggunaan api secara sembarangan dalam proses land clearing dapat memicu kebakaran yang meluas,” ujarnya, dilansir dari website Kemenhut.
Hotspot Naik Tajam, Riau Jadi Wilayah Terparah
Data pemantauan menunjukkan, ancaman karhutla mulai meningkat sejak awal tahun. Berdasarkan pantauan hotspot melalui sistem Sipongi, jumlah titik panas pada periode 1 Januari–5 April 2026 mencapai 702 titik. Meningkat drastis dibanding periode yang sama tahun 2025 yang hanya 125 titik.
Sementara itu, luas areal karhutla pada Januari–Februari 2026 tercatat mencapai 32.637,43 hektare. Pada Maret 2026, luas kebakaran diperkirakan bertambah sekitar 10.175,48 hektare.
Provinsi Riau menjadi wilayah dengan kebakaran terluas mencapai sekitar 8.858 hektare. Disusul Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Nusa Tenggara Timur dan Kepulauan Riau.
Sebagai langkah antisipasi, Badan Nasional Penanggulangan Bencana telah menyiapkan 16 helikopter water bombing dan 12 helikopter patroli. Selain patroli udara, pemerintah juga mengoptimalkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk membasahi lahan gambut dan wilayah rawan kebakaran.
Akademisi Ingatkan Ancaman Asap seperti 2015
Dosen Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada, Fiqri Ardiansyah menilai, persoalan karhutla tidak hanya terkait faktor cuaca. Namun juga tata kelola kehutanan dan praktik pembukaan lahan yang masih menggunakan api.
“Lemahnya pengawasan dan kurangnya pembuatan sekat bakar membuat api mudah meluas. Terutama di kawasan gambut. Kondisi terburuknya adalah terulang kembali kabut asap seperti 2015 yang berdampak pada kesehatan, aktivitas ekonomi, transportasi, dan penerbangan,” pungkasnya. (aan/mzm)









