Menghidupkan Kembali “De Kleine Zwitserland”, Batu Heritage Walk 2026 Gali Potensi Museum Hidup di Kota Batu

Menghidupkan Kembali "De Kleine Zwitserland", Batu Heritage Walk 2026 Gali Potensi Museum Hidup di Kota Batu
Peserta Batu Heritage Walk saat berada di beberapa titik kunjungan. (Dok.DKKB)

​Batu, SERU.co.id – Puluhan penggiat budaya, sejarawan, Tour Guide dan wisatawan menyusuri jejak-jejak arsitektur Hindia Belanda dalam gelaran “Batu Heritage Walk 2026”, Selasa (20/1/2025). Kegiatan yang mengusung tema eksplorasi De Kleine Zwitserland (Swiss Kecil di Jawa) ini bertujuan untuk mereaktivasi ruang publik melalui narasi sejarah yang selama ini tersembunyi di balik modernitas kota.

​Dipandu oleh DPC Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Kota Batu, perjalanan dimulai dari titik ikonik Pos Ketan Legenda di kawasan Alun-alun. Rute sepanjang koridor sejarah ini melewati 14 titik, mulai dari Titik Nol Batu, kawasan elit Juliana Staat, hingga berakhir di Omah Djamoe Cak Mad Berlin. ​

Bacaan Lainnya

M. Ikhsan, perwakilan dari Mandala Creative House sebagai salah satu inisiator kegiatan menyatakan, Heritage Walk ini bukan sekadar jalan-jalan biasa, melainkan sebuah upaya “Experience Journey” untuk menyatukan masa lalu dengan masa depan kreatif Kota Batu.

​”Kami ingin mengubah persepsi masyarakat bahwa bangunan tua bukan hanya benda mati. Melalui kegiatan ini, kita ingin mengonversi bangunan tua menjadi sebuah Living Museum. Setiap sudut memiliki cerita yang membentuk DNA Kota Batu sebagai kota peristirahatan dan pusat ekonomi sejak era kolonial,” seru M. Ikhsan di sela kegiatan.

M. ​Ikhsan juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menjaga warisan budaya. Penyelenggaraan ini melibatkan kolaborasi antara Dewan Kesenian Kota Batu, Jelajah Kampung, Batu Creative Hub, hingga jaringan nasional ICCN (Direktorat Aktivasi Budaya & Pusaka).

​”Kolaborasi ini adalah kunci. Kita ingin memastikan bahwa narasi sejarah seperti kisah Maestro Affandi di Losmen Kawi atau sejarah kemanusiaan di RS Margi Rahayu tidak hilang ditelan zaman. Target kami adalah mendorong pengembangan paket wisata yang berkelanjutan. Sehingga sejarah bisa memberi dampak ekonomi bagi masyarakat lokal melalui pariwisata berbasis budaya,” imbuh Sekretaris DKKB ini.

Dalam kegiatan Walking Tour ini, salah satu titik yang paling menarik perhatian peserta adalah El Hotel Kartika Wijaya (Vila Jambe Dawe). Bangunan yang didirikan tahun 1891 oleh keluarga Sarkies, pendiri hotel-hotel legendaris di Asia Tenggara ini masih mempertahankan ventilasi krepyak dan pilar megah. Ini menjadi sebuah bukti kecerdasan arsitektur dalam merespon iklim pegunungan.

​Namun, kegiatan ini juga memberikan catatan kritis terhadap kondisi Wisma Kereta Api (Indrakila). Aset peninggalan Staatsspoorwegen seluas 1,8 hektar tersebut terpantau kurang terawat.

“Kami berharap melalui kegiatan ini, perhatian pemerintah dan pihak terkait dapat kembali tertuju pada penyelamatan aset-aset bersejarah tersebut,” pungkasnya.

​Sebagai penutup, para peserta diajak menikmati racikan jamu tradisional di Omah Djamoe yang dikelola oleh Cak Mad Berlin, seorang budayawan, seniman lokal. Konsep “Hulu-Hilir” yang diterapkan di sana menjadi simbol bagaimana tradisi lokal tetap relevan dan mampu menjadi daya tarik wisata yang unik di tengah gempuran tren modern.

“​Dengan suksesnya Batu Heritage Walk 2026 ini, Mandala Creative House dan jejaring kolektifnya berkomitmen untuk menjadikan agenda ini sebagai program rutin yang akan memperkuat posisi Kota Batu dalam peta kota kreatif dunia yang berbasis pada pelestarian sejarah,” pungkasnya. (dik/mzm)

 

disclaimer

Pos terkait