Selain itu, dirinya menyebut potensi hujan yang akhir-akhir ini terjadi disebabkan karena turut aktifnya Monsun Asia dimana membawa uap air. Sehingga, dapat membentuk awan hujan di Indonesia.
Pihak BMKG juga memprediksi, dalam dua hingga tiga tahun terakhir memang terjadi La Nina, sehingga memicu meningkatkan intensitas hujan yang cukup tinggi. Tak jarang juga, hujan akan menyapa di musim kemarau. Diprediksi pula, di penghujung bulan Maret 2023 fenomenna La Nina kemudian berlangsung netral.
“Oleh karena itu, masyarakat dihimbau untuk waspada akan dampak dari potensi cuaca ekstrem yang bisa terjadi, baik itu hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, petir maupun angin kencang,” tutur Meilani. (wul/mzm)
Baca juga:
- Perselisihan Dua Yayasan di Turen Belum Temukan Titik Terang di RDPU DPRD Kabupaten Malang
- Wujudkan Smart Green Campus, UB Tekankan Lima Aspek Ini
- Kesiapan Mental dan Finansial Jadi Pertimbangan Gen Z Menunda Pernikahan
- KAI Batalkan 38 Perjalanan KA Akibat Banjir, Penumpang Dapat Refund
- Warga Wiyurejo Digegerkan Penemuan Jenazah Petani Tergantung di Gubuk Kebun Apel







