Memasuki Pancaroba, BPBD Jatim Imbau Masyarakat Tetap Waspada Bencana

• Potensi angin puting beliung hingga akhir Desember

Kota Malang, SERU – Hingga akhir Desember 2019, diperkirakan memasuki pancaroba masih berpotensi terjadi angin kencang. Untuk itu, warga Jawa Timur dihimbau tetap meningkatkan kesiapsiagaan jika terjadi bencana. Merujuk analisa Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), setelah Desember angin diprediksi agak mereda.

Baca Lainnya

“Sebagaimana analisa (BMKG), pada November ini sebagian besar wilayah Jawa Timur mengalami masa pancaroba. Jeda pergantian musim kemarau ke musim hujan ini, memiliki potensi munculnya angin kencang yang sifatnya merusak. Kecepatannya kira-kira 45 kilometer per jam,” beber Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur, Suban Wahyudiono ST MM, usai memberikan kuliah tamu “Tantangan Menghadapi Bencana di Provinsi Jawa Timur,” di Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang, Senin (18/11/2019).

Suban Wahyudiono ST MM, menyampaikan materi tanggap bencana kepada mahasiswa ITN. (rhd)

Suban mencontohkan kejadian puting beliung di Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, pada September lalu dan Minggu (17/11/2019) kemarin. Angin yang sifatnya merusak tersebut membawa material debu. “Sebetulnya anginnya nggak papa. Cuma membawa debunya itu yang jadi masalah. Seperti di Batu itu, yang dibawa tanah. Kemudian tanah itu masuk ke rumah-rumah, sehingga membuat orang susah bernapas. Kalau bangunan rusak itu relatif dan wajar,” bebernya.

Keadaan susah bernafas dan kecepatan angin yang bersifat merusak hingga merobohkan atap bangunan, mengharuskan warga berbondong-bondong mengungsi untuk menyelamatkan diri. “Yang menjadikan warga berbondong-bondong mengungsi itu sebetulnya adalah angin yang membawa material debu tersebut. Sebelumnya, 1.357 orang yang mengungsi, nah yang (Minggu, red) kemarin itu, 270 orang yang ngungsi,” terangnya.

Disebutkannya, angin di Bumiaji tersebut sifatnya seperti aliran sungai. Hanya terjadi di sekitar Bumiaji saja. Dan kejadian tersebut seperti ulang tahun yang tidak bisa diprediksi kapan terjadinya. “Angin itu ya di situ-situ saja. Makanya di Batu ya di Bumiaji itu aja. Menurut informasi dari BMKG, alirannya seperti aliran sungai. Kalaupun yang terjadi sebelumnya karena saat basah, jadi tidak membawa material debu/tanah,” terangnya.

Disaat hampir bersamaan, lanjut Suban, angin puting beliung juga terjadi di wilayah Jatim lainnya pada tanggal 9 sampai 11 November lalu. Daerah yang diterjang meliputi wilayah Tuban, Bojonegoro, Lamongan, Mojokerto, dan Madiun. “Yang paling parah itu di Bojonegoro, sekitar 1.300 rumah rusak, dimana 45 rumah kategori rusak berat,” bebernya.

Tak hanya material dan kerusakan, angin ini diduga kuat juga menjadi penyebab kebakaran 7 gunung di Jawa Timur, seperti Gunung Arjuno, Bromo, Semeru, Raung, Kawi, Arjuna dan Welirang (Panderman). Luas hutan terbakar sekitar 4.000 hektar dari total luasan hutan 1.360.000 hektar di Jawa Timur. “Kami sampai menggunakan helikopter water bombing untuk memadamkan Gunung Kawi, Arjuno, Welirang-Panderman itu. Jumlah hutan terbakar sedikit meningkat dibandingkan tahun sebelumnya,” sebut Suban.

Mahasiswa menyimak pemaparan materi tanggap bencana. (rhd)

Dari total 8.501 desa dan kelurahan di Jawa Timur, desa yang potensi tinggi rawan bencana sekitar 2.742 desa dan kelurahan. Sementara baru 612 desa berkategori desa tangguh bencana. “Orang yang selamat dalam bencana itu 34 persen dari kemampuannya sendiri. Jadi masih banyak desa di Jawa Timur yang perlu kita bina menjadi desa tangguh bencana. Setiap tahun kami bersama-sama pemerintah daerah dan BPBD kabupaten/kota terus mengedukasi mereka,” papar Suban.

Menurutnya, upaya mensosialisasi dan mengedukasi masyarakat akan tanggap bencana dengan menjadikan desa tangguh tangguh sesuai kerawanan bencananya. “Ada perubahan mindset dalam penyelenggaraan penanganan bencana. Kalau dulu responsif, sekarang preventif. Untuk itu, kami menggandeng Perguruan Tinggi dalam pembentukan desa tangguh melalui KKN tematik. Salah satunya ITN Malang. Harapannya, mahasiswa dan dosen bisa mensosialisasikan dan mengedukasi masyarakat tentang kebencanaan,” tandasnya. (rhd)

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *