PPDB Dibuka Mei, Ada Indeks Sekolah di Jalur Prestasi 30 Persen

Suwarjana berikan penjelasan terkait PPDB. (ws1) - PPDB Dibuka Mei, Ada Indeks Sekolah di Jalur Prestasi 30 Persen
Suwarjana berikan penjelasan terkait PPDB. (ws1)

Malang, SERU.co.id – Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kota Malang bakal dilaksanakan setelah lebaran, tepatnya bulan Mei. Ada indeks sekolah yang juga dilihat dalam PPDB jalur prestasi akademik.

Kepala Disdikbud Kota Malang, Suwarjana mengungkapkan, sesuai petunjuk teknis (juknis) sudah dipatok, untuk jalur prestasi 30 persen. Terbagi 10 persen untuk non akademik serta 20 persen untuk akademik.

Bacaan Lainnya

“Tahun kemarin hanya prestasi saja, tidak dipisah. Dan prestasi akademik tahun kemarin tidak ada indeks sekolah, tahun ini ada indeks sekolah,” seru Suwarjana, ditemui di Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Mota Malang.

Disdikbud menuturkan, alasan meninggikan prosentase jalur prestasi karena pembelajaran adalah sebuah proses. Semata-mata tidak hasil saja yang dilihat.

“Anak-anak yang berprestasi harus kita apresiasi, sehingga orang tua juga lebih semangat,” paparnya.

Sekolah yang difavoritkan oleh masyarakat, menurutnya, lebih sulit dalam memperoleh nilai. Akan kalah dengan sekolah pinggiran yang dalam pemberian nilai lebih tinggi, meski belum tentu peserta didik tersebut pintar.

“Nanti walaupun disana ditinggikan seberapapun (nilainya), karena dasarnya adalah tahun lulus 3 tahun,” ungkap Kadisdikbud Kota Malang.

Pihaknya mengaku, sosialisasi PPDB baik jenjang TK, SD, SMP, rencananya pada bulan April mendatang. Dibuka setelah lebaran, atau tepatnya bulan Mei. Pun rencana pemisahan waktu dalam PPBD, dimulai jenjang TK, kemudian SD, dilanjutkan SMP.

“Mohon maaf nanti juga akan kami buat terpisah. Kalau kemarin TK, SD, SMP kan bersama-sama. Agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, seperti kerumunan, apalagi ketika bulan puasa,” terang mantan Kadis Perpustakaan dan Kearsipan ini.

Suwarjana menceritakan, kebijakan pemisahan ini dibuat berdasarkan pengalaman orang tua beberapa tahun sebelumnya. Misalnya, dua anak yang harus masuk SD dan SMP, maka orang tua akan kebingungan jika harus satu waktu.

“Kami akan memudahkan masyarakat,” pungkasnya. (ws1/rhd)

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *