Serbuan Truk China Tekan Industri Nasional Ancam Sektor Otomotif

Serbuan Truk China Tekan Industri Nasional Ancam Sektor Otomotif
Pabrik Hino di Indonesia. (Dok Hino)

Jakarta, SERU.co.id – Banjir impor truk utuh asal China kian menekan industri kendaraan niaga dan karoseri nasional. Kondisi ini membuat utilisasi pabrik dalam negeri anjlok, hingga memicu kekhawatiran di sektor otomotif.

Pelaku industri menilai lemahnya pengendalian impor dan ketimpangan penerapan regulasi mempercepat pelemahan daya saing manufaktur nasional.

Bacaan Lainnya

Ketua Umum Askarindo, Jimmy Tenacious menilai, secara persentase pangsa pasar truk impor belum dominan. Namun dampaknya sangat terasa di tingkat industri.

“Tahun lalu, sekitar 14.000 unit masuk ke pasar domestik. Truk-truk itu masuk dalam kondisi sudah berkaroseri. Pada akhirnya mematikan peluang karoseri nasional,” seru Jimmy.

Hino Motors Manufacturing Indonesia (HMMI) bahkan memperingatkan potensi krisis industri, jika arus impor truk murah asal China dibiarkan tanpa pengendalian. Director HMMI, Harianto Sariyan menyebut, situasi ini berpotensi melahirkan ‘Sritex kedua’.

“Kalau ini terus berlangsung, industri akan sangat berat, bahkan tutup bisa terjadi. Sritex kedua bisa muncul, tapi di industri kendaraan niaga,” kata Harianto, dikutip dari CNN Indonesia, Jumat (23/1/2026).

Harianto mengungkapkan, tingkat utilisasi produksi pabrik Hino pada 2025 hanya sekitar 25 persen dari kapasitas terpasang 75.000 unit per tahun. Penurunan ini tidak hanya berdampak pada pabrikan, namun juga pada rantai pasok yang melibatkan ribuan tenaga kerja dan ratusan pemasok komponen.

“2025 menjadi tahun paling suram bagi pabrik. Utilisasi tinggal seperempat kapasitas, salah satunya karena derasnya truk China masuk,” ujarnya.

Padahal, Hino merupakan salah satu pabrikan dengan tingkat Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) tertinggi di segmen kendaraan komersial. Bahkan secara terbuka menyatakan produknya sebagai “Made in Indonesia”. Perusahaan ini menggandeng lebih dari 480 pemasok, dengan sekitar 150 di antaranya sebagai pemasok utama.

Tak hanya untuk pasar domestik, produk Hino Indonesia juga berkontribusi pada pasar global. Sejak ekspor perdana pada 2011, Hino rutin mengekspor kendaraan utuh (CBU), CKD dan komponen ke berbagai negara Asia Tenggara.

“Meski tertekan, kami masih berupaya menahan laju Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Saat ini, perusahaan mempekerjakan 1.548 tenaga kerja,” ujar Harianto.

Dampak lain paling terasa menghantam industri karoseri lokal. Berbeda dengan truk produksi dalam negeri yang umumnya dikirim ke perusahaan karoseri untuk pembuatan bodi, truk impor China masuk dalam kondisi siap pakai.

Masalah tak berhenti di aspek ekonomi. Sejumlah pabrikan menyoroti ketidakadilan regulasi. Direktur Marketing PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors (Mitsubishi Fuso), Aji Jaya menilai, banyak truk impor China masuk tanpa memenuhi standar. Dimana diwajibkan bagi produsen dalam negeri.

“Indonesia sudah menerapkan standar emisi Euro 4, tapi truk-truk itu masuk dengan Euro 2. Mereka datang tanpa investasi, tanpa mengikuti standar regulasi yang berlaku,” kata Aji, seperti dilansir dari detikOto.

Ia juga menyoroti uji tipe kendaraan. Truk yang diproduksi di Indonesia wajib menjalani uji tipe di Kementerian Perhubungan. Sementara truk impor tertentu diduga masuk tanpa melalui proses serupa.

“Kalau kami tidak dilindungi, dampaknya bukan hanya ke perusahaan, tapi ke aktivitas manufaktur dan masyarakat. Kami sudah berkontribusi besar, tapi sekarang berada dalam situasi sulit,” katanya.

Sayangnya, hingga kini pelaku industri menilai, belum ada langkah konkret pemerintah untuk merespons derasnya impor truk China. Tanpa intervensi kebijakan, industri memprediksi arus impor akan terus berlanjut. Bahkan memperbesar ancaman bagi sektor otomotif nasional.

“Kami berharap, pemerintah segera mengambil langkah nyata, agar persaingan lebih adil dan seimbang,” pungkas Aji. (aan/rhd)

 

disclaimer

Pos terkait

iklan lowongan marketing seru.co.id