Penataan Pasar Gadang Harus Jadi Pilot Project Revitalisasi Pasar Besar Malang

Penataan Pasar Gadang Harus Jadi Pilot Project Revitalisasi Pasar Besar Malang
Pemkot Malang telah memulai penataan Pasar Gadang secara bertahap. (Seri.co.id/bas)

Malang, SERU.co.id DPRD Kota Malang menekankan pentingnya persiapan matang terkait penataan Pasar Gadang. Pihaknya optimis, apabila program ini berhasil dapat menjadi pilot project revitalisasi Pasar Besar Malang.

Anggota Komisi B DPRD Kota Malang, Dwicky Salsabil Fauza mengakui, dua pasar di Kota Malang tersebut memiliki persoalan serupa. Yakni, menghadapi pro dan kontra dari para pedagang terkait upaya revitalisasi.

Bacaan Lainnya

“Pasar Gadang adalah gambaran permasalahan pedagang, macet, sepi, pedagangnya tidak merasa aman, hingga pedagang tidak punya bedak. Proses penyelesaian masalah ini menjadi pilot project, kalau pembangunan Pasar Gadang berhasil maka perbaikan juga bisa dilaksanakan di Pasar Besar Malang,” seru Dwicky.

Penataan Pasar Gadang tahap pertama akan difokuskan untuk mengurai kepadatan lalu lintas. (Seru.co.id/bas)
Penataan Pasar Gadang tahap pertama akan difokuskan untuk mengurai kepadatan lalu lintas. (Seru.co.id/bas)

Ia menyampaikan, Pasar Besar Malang merupakan ikon Kota Malang. Maka, keberhasilan revitalisasi harus diawali dari pasar-pasar lainnya, seperti Pasar Oro-oro Dowo, Pasar Klojen, hingga Pasar Gadang.

“Dimana keberhasilan itu tidak hanya menggerakkan ekonomi orang yang berdagang bahan pokok di sana, tapi ekonomi lain juga tercipta. Salah satunya ekonomi kreatif yang mendatangkan para wisatawan,” ujarnya.

baca juga: Pemkot Malang Mulai Pengerjaan Tahap Awal Penataan Pasar Gadang

Dwicky menjelaskan, Pasar Gadang sebagai pilot project pembangunan perlu mendapatkan dukungan dan pendampingan dari Pemkot Malang. Apalagi pembangunan tersebut akan dilaksanakan 3 tahun dari penataan ini dimulai.

“Kami menekankan pendampingan sangat diperlukan, baik secara moral maupun finansial. Pendampingan finansial berapa anggaran diperlukan pedagang, agar dalam proses relokasi tidak terjadi polemik,” tegasnya.

Anggota DPRD termuda di Kota Malang itu mengatakan, adanya anggaran pendamping akan melindungi pedagang selama relokasi. Termasuk ketika pembangunan Pasar Gadang berlangsung.

“Jangan seperti Pasar Besar Malang, ketika anggaran revitalisasi sudah siap, tetapi ada polemik pedagang. Akibatnya anggaran dari pusat tidak bisa turun dan tidak jadi dilaksanakan pembangunannya,” ungkap Dwicky.

Pria berusia 25 tahun itu juga menyoroti kemacetan di Pasar Gadang, karena banyaknya angkutan besar yang melakukan dropping barang. Hal itu mengingat pasar ini menjadi pasar penghubung antar pasar dan pusat perdagangan dari sektor pertanian di sekitar Kota Malang.

“Banyaknya kendaraan besar seperti truk yang melakukan dropping barang menimbulkan kemacetan, itu perlu penataan. Meski begitu, perlu ada kajian terlebih dahulu mengingat tidak semua petani yang melakukan dropping barang menggunakan kendaraan besar,” ujarnya.

Tidak menutup kemungkinan, dibutuhkan dropping zone untuk titik penurunan barang dari para petani atau distributor. Namun kepastiannya baru bisa dilihat setelah proses penataan berlangsung.

baca juga: Pemkot Malang Rencanakan Relokasi Pedagang Pasar Gadang, Optimalkan Fungsi Jalan & Jembatan

“Saat ini kami sedang mengupayakan pendampingan anggaran dari Pemkot Malang. Karena relokasi para pedagang bukan hanya persoalan bedak, tapi juga infrastruktur penunjang seperti air dan sebagainya harus tetap ada,” pungkasnya.

Terakhir, Dwicky menyampaikan harapannya, agar proses penataan Pasar Gadang berjalan lancar. Seperti diketahui, pedagang mendapatkan tenggat waktu hingga tiga bulan untuk relokasi di selatan pasar. (bas/mzm)

disclaimer

Pos terkait