Terduga Penderita TBC Kabupaten Malang Mencapai 28.073 Jiwa

Terduga Penderita TBC Kabupaten Malang Mencapai 28.073 Jiwa
Konferensi pers pernyataan bersama upaya kolaborasi penanggulangan tuberkulosis.(foto: ist)

Malang, SERU.co.idKabupaten Malang menjadi salah satu daerah prioritas dalam program penanggulangan tuberkulosis (TBC) di Provinsi Jawa Timur. Pasalnya, di tahun 2023, ditemukan angka terduga penderita TBC di Kabupaten Malang melampaui hingga 40 persen dari target SPM (Standar Pelayanan Minimal) yang telah ditentukan, yakni 28.073 jiwa.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kabupaten Malang, Tri Awignami Astoeti menerangkan, berdasarkan hasil pemeriksan dahak yang telah dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Malang, ditemukan angka terduga penderita TBC jauh diatas target.

Bacaan Lainnya

“Kabupaten Malang memiliki target SPM pada tahun 2023 yaitu penemuan terduga TBC sebanyak 19.040 terduga. Sedangkan di tahun 2023 (hingga akhir November) ini Kabupaten Malang telah menemukan sebanyak 28.073 orang terduga (140,88 persen),” seru Awig, Senin (4/12/2023).

Baca juga: Kota Malang Sukses Tangani TBC dengan Tingkat Kesembuhan 82 Persen

Awig menjelaskan, adapun kondisi penemuan kasus penderita TBC di Kabupaten Malang saat ini ibarat menghadapi fenomena gunung es. Begitu sedikit yang terlihat di permukaan, namun di bawah permukaan masih banyak kasus yang belum berhasil terlaporkan.

“Tercatat hingga akhir November 2023 ini sebanyak 3.108 (79,33 persen) kasus TBC yang telah ditemukan dan diobati. Kasus tersebut berasal dari 28.073 orang terduga TBC yang telah melakukan pemeriksaan dahak,” jelasnya.

Dirinya menyebut, jumlah penemuan kasus tersebut masih kurang dari target estimasi yakni 3.918 kasus. Sedangkan tingkat keberhasilan pengobatan penderita TBC tahun 2022 di Kabupaten Malang sampai saat ini masih mencapai 83,82 persen, sedangkan target nasional mencapai 90 persen. “Masih kurangnya jumlah temuan kasus yang diobati ini dikarenakan beberapa faktor,” terangnya.

Baca juga: Jatim Tertinggi Kedua Kasus TBC di Indonesia

Awig mengatakan, faktor penyebabnya adalah masih ada penderita TBC yang belum mengakses layanan untuk berobat. Kemudian masih banyak terduga yang sudah mengakses layanan, belum mampu mengeluarkan dahak untuk pemeriksaan. Serta, masih kurangnya pencatatan dan pelaporan yang tercatat SITB yang menyebabkan under-reporting akibat jejaring internal fasilitas kesehatan yang belum optimal.

Oleh sebab itu, Dinas Kesehatan Kabupaten Malang melakukan beberapa upaya untuk mengatasi tanda-tanda tersebut. Seperti strategi akselerasi dan optimalisasi penemuan kasus dimulai dari melakukan surveilans penemuan kasus baik secara aktif masif maupun pasif intensif. Dan penemuan kasus secara aktif masif melalui kegiatan penemuan pasien TBC di luar faskes, melakukan investigasi kontak pada orang dengan kontak erat pasien TBC dan berbagai upaya lainya.

Sebagai infromasi, Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis, penyakit ini menular secara langsung melalui udara.

Sumber penularan tuberkulosis berasal dari droplet (percikan dahak) dari orang yang terinfeksi kuman TBC dan ditularkan saat mereka batuk, bersin, ataupun saat berbicara. Infeksi akan terjadi ketika seseorang menghirup udara yang telah terkontaminasi droplet TBC tersebut.

Baca juga: Otsuka Bareng Najwa Shihab Tepis Stigma Negatif TBC di Tempat Kerja

TBC masih menjadi masalah global hingga saat ini. Penyakit ini  menjadi pembunuh yang paling mematikan di dunia. Menurut WHO dalam Global Report pada tahun 2021, saat ini Indonesia berada di peringkat kedua negara dengan kasus tuberkulosis terbesar setelah India dengan estimasi insiden sebesar 824.000 kasus atau 391 per 100.000 penduduk.

Sedangkan untuk Provinsi Jawa Timur sendiri merupakan provinsi yang menyumbang beban tuberkulosis terbesar di Indonesia. Dengan estimasi insiden sebesar 95.925 kasus atau 239 per 100.000 penduduk di tahun 2021. Target dalam rangka eliminasi TBC di tahun 2023 adalah penurunan angka kejadian TBC menjadi 65 per 100.000 penduduk, dan penurunan angka kematian akibat TBC menjadi 6 per 100.000 penduduk. (wul/ono)

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *