Ketum PP Muhammadiyah: Masa Tenang Hindari Penyimpangan, Kecurangan, Pencederaan Pemilu 2024

Ketum PP Muhammadiyah, Prof Dr H Haedar Nashir MSi. (ws9) - Ketum PP Muhammadiyah: Masa Tenang Hindari Penyimpangan, Kecurangan, Pencederaan Pemilu 2024
Ketum PP Muhammadiyah, Prof Dr H Haedar Nashir MSi. (ws9)

Malang, SERU.co.id – Ketua Umum (Ketum) Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah himbau masyarakat di masa tenang Pemilihan Umum (Pemilu) Tahun 2024. Untuk dapat menghindari segala bentuk penyimpangan, kecurangan, proses politik pencederaan. Terhadap proses Langsung, Umum, Bebas, Rahasia, Jujur, Adil (Luber-Jurdil), bermartabat dan berbasis konstitusi.

Ketua PP Muhammadiyah, Prof Dr H Haedar Nashir MSi menegaskan, masuk masa tenang ini dari segi peraturan tidak boleh adanya kampanye. Baik langsung maupun tidak langsung, terbuka maupun terselubung dengan segala ketentuannya.

Bacaan Lainnya

“Termasuk bersifat materi dalam pembagian apapun, kuncinya dalam hal etika paduan moralitas politik seluruh warga, bangsa, kontestan dengan seluruh pendukungnya. Agar tidak melakukan pergerakan apapun, bahkan ada di masyarakat dikenal dengan serangan fajar. Berkonotasi yang sebenarnya diterima,” seru Haedar, Senin (12/2/2024).

Baca juga: Haedar Nashir Terpilih Lagi Jadi Ketua Umum PP Muhammadiyah 2022-2027

Haedar menekankan, sebenarnya budaya politik semacam itu tidak bagus baginya. Ia meminta untuk menghentikan budaya tersebut, jika Indonesia ingin menjadi bangsa yang besar.

“Tahan, kalau memang sudah berikhtiar selama masa kampanye jangan lagi ingin menambah-nambah, untuk apa. Kedua, kami harapkan di hari H, semua warga negara yang telah memperoleh haknya untuk mempergunakan hak itu dengan baik, tanggungjawab dan tidak golput,” tekan Haedar.

Karena merupakan wujud dari pertanggungjawaban, Haedar ingin warga Indonesia semakin dewasa dan tidak asal pilih.

“Monggo soal kekuatan hati dan rasio itu ada di setiap individu. Tapi, jangan milih karena materi dan iming-iming, kalau kita ingin menjadi bangsa yang semakin dewasa. Dan demokrasi kita naik kelas dari demokrasi formatif menjadi demokrasi subtantif,” tegas Haedar.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *