Surabaya, SERU.co.id – Forum Dosen Indonesia (FoRDESI) mengecam keras tindakan brutal aparat kepolisian yang menyebabkan meninggalnya Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek online (ojol), dalam sebuah insiden yang diduga sarat kekerasan.
Tragedi ini, menurut FoRDESI, bukan sekadar kasus kriminal biasa, tetapi mencerminkan persoalan serius dalam tubuh institusi kepolisian yang masih kerap mempertontonkan wajah represif terhadap rakyat kecil.
Ketua Umum FoRDESI, Dr. Sholikh Al Huda, M.Fil.I, menegaskan bahwa peristiwa tersebut merupakan pelanggaran nyata terhadap prinsip demokrasi dan hak asasi manusia.
“Kematian Affan adalah tamparan keras bagi negara hukum. Aparat seharusnya melindungi, bukan malah mencabut nyawa rakyat yang mencari nafkah. Kami menuntut pengusutan tuntas, proses hukum transparan, dan pertanggungjawaban moral maupun politik dari pejabat Polri,” ujarnya.
Untuk itu, lanjut Gus Sholikh, panggilan akrabna, FoRDESI mengajukan tiga tuntutan, yakni;
1. Mengusut tuntas kematian Affan dengan membentuk tim investigasi independen.
2. Mengadili aparat terlibat sesuai hukum tanpa diskriminasi.
3. Mendesak Kapolri untuk bertanggung jawab secara langsung serta memastikan tidak ada praktik impunitas di tubuh kepolisian.
Dr. Sholikh menambahkan, kekerasan aparat yang berulang adalah ancaman bagi demokrasi.
“Negara ini tidak boleh dibiarkan berjalan dengan logika kekuasaan yang bengis. Rakyat kecil, seperti para ojol, seharusnya mendapat perlindungan, bukan perlakuan brutal. Bila negara gagal memberi keadilan untuk Affan, itu pertanda hukum hanya jadi alat kuasa, bukan penjaga martabat manusia,” tegasnya.
FoRDESI mengajak masyarakat sipil, akademisi, dan media untuk mengawal kasus ini agar tidak tenggelam dalam retorika semata. Bagi FoRDESI, keadilan untuk Affan adalah ujian nyata keseriusan negara dalam menghormati demokrasi dan kemanusiaan. (*/ono)