Pentingnya Konservasi Wisata Alam Dalam Menjaga Ekosistem Flora Fauna

Pidato pengukuhan Prof Luchman Hakim, SSi, MAgrSc, PhD. (rhd)

• Buah penelitian dikukuhkannya Prof Luchman Hakim, SSi, MAgrSc, PhD.

Kota  Malang, SERU– Sebagai seorang biolog, Prof Luchman Hakim, SSi, MAgrSc, PhD, memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan pariwisata. Atas kepeduliannya, Prof Luchman Hakim, SSi, MAgrSc, PhD, dikukuhkan Universitas Brawijaya (UB) sebagai Profesor dalam Bidang llmu Manajemen Lingkungan dan Pariwisata Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA). Sekaligus mencatatkan diri sebagai Profesor ke-22 di FMIPA, dan Profesor ke-256 di UB, di Gedung Widyaloka UB, Rabu (4/12/2019).

Bacaan Lainnya

Dalam pidato pengukuhannya, Prof Luchman Hakim, SSi, MAgrSc, PhD, memaparkan Penguatan Aspek Lingkungan Dalam Industri Wisata Alam Di Indonesia Yang Berdaya Saing Dan Berkelanjutan.

Sumberdaya alam sebagai industri pariwisata memiliki potensi yang cukup menjanjikan. Tak hanya mampu mendatangkan wisatawan lokal, namun juga nasional dan mancanegara. “Semakin meningkatnya kebutuhan wisata, minat mengunjungi area itu tumbuh secara alamiah. Terlebih wisata alam. Pemerintah Indonesia seyogyanya mendorong pengelolaan sumberdaya hayati dan ekosistem, untuk mewujudkan destinasi wisata alam yang berdaya saing serta berkelanjutan,” ungkap Luchman.

Potensi keuntungan dari beragam kegiatan wisata berbasis sumberdaya alam, akan berdampak pada perubahan dan perbaikan dari sisi ekonomi, sosial dan pendidikan, sekaligus memberikan peran besar sebagai faktor pendorong orang melakukan kegiatan rekreasi ke tempat-tempat alami.

“Sebagai sebuah entitas ekosistem, keindahan dan keberlangsungan sistem-sistem kehidupan dalam destinasi wisata perlu perbaikan sudut pandang perencanaan dan pengelolaan destinasi wisata dengan meletakkan dasar-dasar keilmuan ekologi dan biologi konservasi. Jika tidak, maka akan mempengaruhi keberlangsungan ekosistem yang ada,” beber Luchman.

Bersama Ketua Senat UB Prof Dr Ir Arifin MS, dan Prof Dr Drs Warsito, MS,, yang juga dikukuhkan bersama. (ist)

Setiap bentuk flora-fauna dan ekosistemnya mempunyai respon dan kapasitas yang beragam dalam menerima kunjungan wisatawan. “Beberapa flora fauna memiliki kepekaan terhadap orang asing. Pola-pola eksis pengunjung dengan ber-selfie tanpa mengindahkan apa yang diinjaknya, dapat merusak ekosistem yang ada. Maka perlu dibuatkan aturan dan edukasi, bagaimana akses yang dilalui tanpa harus mengganggu ekosistem,” terang Luchman.

Konservasi biodiversitas juga memegang peran penting. Perlu sinergitas seluruh stakeholder wisata alam dalam mendorong aspek konservasi sumberdaya hayati dan ekosistemnya. “Penguatan area konservasi (taman nasional) sebagai tempat pelestarian keanekaragaman hayati secara in situ, sekaligus area dimana kegiatan wisata alam perlu terus dilakukan, terutama untuk memastikan kelestarian flora-fauna setempat,” tambah Luchman.

Ekologi wisata dapat dibangun dengan menggabungkan instrumen sains, teknologi dan sudut pandang wisata alam untuk pengelolaan sumber daya lingkungan secara berkesinambungan. “Mass tourism di Bromo, Ranu Pani, lambat laun akan menjadikan kepunahan ekosistem yang terganggu. Tak menutup kemungkinan jika tak dijaga, maka akan mengacaukan ekosistem karena banyak pola kesalahan yang dilakukan pengunjung,” contoh Luchman.

Tak hanya di gunung, lanjut Luchman, namun juga di lautan malah sangat riskan. Pasalnya, sampah di perairan menjadi isu dan perhatian global. “Mengalirnya sampah entah darimana, dapat membunuh ekosistem yang dilaluinya. Ini lebih luas dan semakin parah,” tandas Luchman. (rhd)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *