Selain itu, complacency pada otomatisasi dan confirmation bias kemungkinan menyebabkan kurangnya monitoring sehingga pilot tidak menyadari adanya asimetri dan penyimpangan arah penerbangan.
Nurcahyo menjelaskan, pesawat berbelok ke kiri dari arah yang seharusnya yaitu ke kanan. Sedangkan, kemudi miring ke kanan dan kurang monitoring mungkin telah menyebabkan asumsi bahwa pesawat berbelok ke kanan sehingga tindakan pemulihan tidak sesuai.
“Keenam, belum adanya aturan dan panduan tentang Upset Prevention and Recovery Training (UPRT) memengaruhi proses pelatihan oleh maskapai untuk menjamin kemampuan dan pengetahuan pilot dalam mencegah dan memulihkan kondisi upset secara efektif dan tepat waktu,” kata Nurcahyo.
KNKT memberikan tiga rekomendasi keselamatan untuk Sriwijaya Air, yaitu sebagai berikut.
- Sriwijaya Air perlu berkonsultasi dengan DJPU sebelum melakukan perubahan prosedur terbang. Kemudian meminta No Technical Objection (NTO) dari pabrikan pesawat udara sebelum melakukan perubahan prosedur terbang yang sudah disiapkan di buku panduan.
- Sriwijaya Air meningkatkan jumlah pengunduhan data dalam Flight Data Analysis Program (FDAP) untuk peningkatan pemantauan operasi penerbangan.
- Sriwijaya untuk menekankan pelaporan bahaya atau hazard kepada seluruh pegawai.
(hma/rhd)
Baca juga:
- Strategi Entaskan Kemiskinan, Pemkab Jember Siapkan Kolaborasi Perhutanan Sosial Lewat Skema IAD
- CIMB Niaga Resmikan Syariah Digital Branch Dukung Ekosistem Halal di Malang Raya
- Tutup KCS 39, SMK PGRI 3 Malang Kukuhkan 987 Siswa Baru Skariga
- Ustazah Nia Hajar Ternyata Sosok AI, Begini Respons Berbagai Pakar
- Mengapa Rumah Jampidsus Dijaga TNI di Tengah Penyidikan Kasus Korupsi Besar?









