Malang, SERU.co.id – Universitas Negeri Malang (UM) berhasil masuk jajaran sepuluh besar perguruan tinggi terbaik di Asia. Berdasarkan pemeringkatan AD Scientific Index, UM bahkan menempati peringkat ke-4 Top 10 Asian Universities in Education. Capaian ini menjadi bukti konsistensi UM menjaga kualitas sekaligus mendorong transformasi dan inovasi pendidikan.
Berdasarkan pemeringkatan AD Scientific Index, UM berhasil menempati peringkat ke-4 dalam daftar Top 10 Asian Universities in Education. Capaian ini menjadikan UM sebagai salah satu institusi pendidikan terbaik di Asia. Di tingkat nasional, UM juga menempati posisi pertama di bidang pendidikan versi lembaga sama.
Rektor UM, Prof Dr Hariyono MPd, mengapresiasi pengakuan dari lembaga pemeringkatan internasional tersebut. Menurutnya, capaian ini merupakan hasil kerja keras seluruh sivitas akademika. Terutama yang konsisten menjaga mutu dan mendorong inovasi.
“Keberhasilan ini menjadi energi bagi kami untuk terus melakukan transformasi, baik secara individu maupun institusi. UM yang dikenal sebagai The Learning University. Jadi harus senantiasa berkembang dalam menjawab tantangan zaman,” seru Prof Hariyono, dikutip dari website UM, Kamis (9/4/2026).
Prof Hariyono menegaskan, transformasi UM tidak hanya sebatas perubahan struktural. Namun mencakup penguatan nilai, budaya kerja dan proses pelembagaan berkelanjutan. Ia menekankan, pentingnya menjaga identitas budaya Nusantara sekaligus terbuka terhadap perkembangan global.
“UM harus tetap berakar pada budaya Nusantara dan adaptif terhadap dinamika global. Sebagai bagian dari peradaban dunia, kita memiliki tanggung jawab berkontribusi melalui ilmu pengetahuan dan teknologi,” tambahnya.
Lebih lanjut, Prof Hariyono mengatakan, capaian di bidang pendidikan, harus terus dijaga melalui inovasi berkelanjutan. Ia menilai, kualitas pendidikan tidak boleh berhenti pada prestasi semata. Melainkan harus memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Sementara itu, Wakil Rektor IV UM, Prof Ahmad Munjin Nasih SPd MAg mengungkapkan, UM berkomitmen memperkuat budaya meritokrasi terbuka, demokratis dan partisipatif. Upaya ini sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan. Yakni dalam bidang pendidikan berkualitas, inovasi dan kemitraan.
“Tantangan terbesar kita justru adalah rasa nyaman. Dalam dunia akademik, pertanyaan adalah mesin utama ilmu pengetahuan. Karena itu, dialog dan semangat berpikir kritis harus terus dipelihara,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Prof Ahmad berharap, prestasi ini dapat terus dipertahankan bahkan ditingkatkan melalui kerja kolaboratif.
“Ini adalah capaian membanggakan. Kami berharap seluruh sivitas akademika terus berkarya dan menjaga prestasi ini agar semakin meningkat,” pungkasnya. (aan/mzm)









