Jakarta, SERU.co.id – Israel melancarkan lebih dari 100 serangan udara ke wilayah Lebanon di tengah gencatan senjata. Perdana Menteri Israel menegaskan, gencatan senjata dengan Iran tidak mencakup Hizbullah di Lebanon. Di tengah eskalasi ini, keselamatan pasukan TNI dalam misi perdamaian PBB di Lebanon ikut terancam.
Israel Defense Forces (IDF) mengklaim serangan tersebut menargetkan lebih dari 100 pusat komando dan fasilitas militer milik Hizbullah. Namun, dampak di lapangan menunjukkan korban sipil besar. Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan, sedikitnya 182 orang meninggal dan 890 lainnya luka-luka dalam serangan tersebut.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu menegaskan, gencatan senjata dengan Iran tidak mencakup Hizbullah di Lebanon. Pernyataan menyiratkan operasi militer Israel di Lebanon akan terus berlanjut.
Reaksi Keras Dunia Internasional
Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) memperingatkan, akan merespon jika serangan terhadap Lebanon tidak dihentikan. Pihak Iran juga menuduh Amerika Serikat melanggar kesepakatan gencatan senjata.
Sementara itu, Pemerintah Mesir menyebut, serangan tersebut sebagai upaya menyeret kawasan ke dalam kekacauan. Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sánchez, mendesak Uni Eropa menangguhkan perjanjian kerja sama dengan Israel. Ia bahkan menyebut, serangan tersebut sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional.
Bagaimana Nasib Pasukan Perdamaian Indonesia?
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui Juru bicara Sekjen PBB, Stéphane Dujarric mengungkap, temuan awal tiga prajurit TNI yang gugur diduga terkena proyektil tank Merkava milik Israel. Insiden tersebut terjadi pada 29 dan 30 Maret 2026 di wilayah penugasan.
“Analisis fragmen proyektil menunjukkan tembakan berasal dari arah posisi militer Israel. Temuan ini sudah disampaikan kepada pemerintah Indonesia, Israel dan Lebanon,” ungkap Stéphane Dujarric.
Di Tanah Air, Presiden RI ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono, mendesak PBB menghentikan sementara penugasan UNIFIL di Lebanon. Ia menilai, kondisi di lapangan telah berubah dari zona damai menjadi wilayah perang aktif.
“Hal ini membahayakan pasukan penjaga perdamaian yang sejatinya tidak dipersenjatai untuk pertempuran. Pasukan UNIFIL ditempatkan di wilayah Blue Line sebagai zona penyangga Israel dan Lebanon. Namun kini pasukan Israel dilaporkan telah maju hingga sekitar 7 kilometer ke dalam wilayah tersebut,” kata SBY, dikutip dari MSN, Kamis (9/4/2026).
Senada, anggota DPR RI, Dave Laksono meminta, pemerintah Indonesia mempertimbangkan kembali keberadaan prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) di Lebanon. Ia bahkan mendorong dilakukan evaluasi menyeluruh. Termasuk opsi penarikan pasukan demi menjaga keselamatan personel di tengah eskalasi konflik.
“Ada baiknya pemerintah melakukan penarikan ataupun evaluasi terhadap keberadaan prajurit kita di Lebanon,” pungkasnya. (aan/rhd)









