Bank Indonesia Tantang Milenial Kembangkan Ekonomi dan Keuangan Syariah

Azka Subhan menyampaikan pemaparan Eksyar. (rhd)

Kota Malang, SERU – Sebagai negara mayoritas muslim, Indonesia masih berada di 10 dari top 15 players industri halal global. Sementara industri halal di Indonesia menyumbang 11 persen dari total devisa hasil ekspor nasional atau senilai USD 1,6 Miliar. Seiring meningkatnya penjualan produk bersertifikat halal, potensi peningkatan devisa dari ekspor, khususnya bahan makanan halal akan ikut meningkat.

“Indonesia merupakan pasar (konsumen) yang besar, namun belum menjadi supplier utama produk halal dunia. Sehingga ini menjadi potensi besar. Namun, pengembangan industri halal juga dukungan keuangan syariah. Pangsa aset perbankan syariah terhadap keuangan domestik masih rendah, dibanding negara mayoritas muslim lainnya. Total asset bank syariah global sebesar USD 1,57 triliun, sementara perbankan syariah Indonesia masih menduduki peringkat ke-9 sebesar 1,9 persen atau senilai USD 28,5 miliar,” jelas Kepala Kantor Perwakilan BI (KPwBI) Malang, Azka Subhan Amminurridho.

Bacaan Lainnya
Mahasiswa menyimak pemaparan para pemateri. (rhd)

Di sisi lain, Global Islamic Finance Report (GIFR) 2019 menempatkan Indonesia pada peringkat nomor satu, naik dari peringkat keenam pada tahun lalu. Indonesia juga berhasil menyalip negara anggota Gulf Cooperation Council (GCC) dan Malaysia yang selalu mendominasi peringkat teratas sejak 2011. “Faktor penilaiannya, yaitu pertumbuhan institusi keuangan syariah, produk dan layanan keuangan syariah, serta infrastruktur pendukung keuangan syariah,” tambah Azka, dalam sambutan Talkshow bertajuk “Pejuang dan Tantangan Pengembangan Ekonomi dan Keuangan Syariah (Eksyar)” di Aula Gedung Pascasarjana FEB UB lantai 7, Senin (28/10/2019).

Ditambah Azka, pembiayaan perbankan syariah di wilayah kerja KPwBI Malang September 2019 tercatat sebesar Rp 3,92 triliun meningkat dibandingkan September 2018 sebesar 9,49% (yoy). Dari sisi sumber dana, pertumbuhan DPK perbankan syariah di wilker KPwBI Malang pada September 2019 tercatat sebesar Rp 4,36 triliun atau meningkat 17,9% (yoy), dengan komposisi Tabungan Rp 2,25 triliun, Deposito Rp 1,54 triliun, dan Giro Rp 357,24 miliar.

Selain Azka Subhan, para narasumber turut memberikan materi kepada mahasiswa FEB UB dan UIN Maliki, dalam rangkaian Road to FESyar
Bank Indonesia (BI), yaitu Ketua Umum Pengurus Daerah Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Kota Malang, KH M Mas’udi Busyiri LC.MA, dan Analis Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah (DEKS) Bank Indonesia, Shandy Primanda Setio.

Senada, Shandy Primanda Setio, mengatakan Ekonomi dan Keuangan Syariah (Eksyar) sebagai bagian dari bauran kebijakan Bank Indonesia 2019 dan bagian program Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS), untuk memperkuat stabilitas Perekonomian dan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.

Bersama para pemateri, jajaran BI dan mahasiswa. (ist)

“Dalam pengembangan eksyar, diantaranya perluasan program pemberdayaan usaha pesantren dan linkage usaha antar pesantren, termasuk pengembangan virtual market. Dan pengembangan ekosistem halal value chain, khususnya makanan, fashion, dan pariwisata, didukung kampanye halal life style untuk membedakan mana yang halal dan haram. Prinsipnya menggunakan bagi hasil, bukan lagi konvensional menggunakan riba,” terang Shandy.

Sementara, pendalaman Pasar Keuangan Syariah, yaitu Penerbitan Sukuk Bank Indonesia (SUKBI) sebagai instrumen moneter syariah,manajemen likuiditas perbankan, dan pendalaman pasar keuangan. Serta turut mendorong pemberdayaan zakat dan wakaf produktif. “Nah untuk edukasi dan kampaye halal life style, meliputi penyelenggaraan secara rutin Festival Ekonomi Syariah (FeSyar) di tiga wilayah Indonesia dan Indonesia Economic Sharia Festival (ISEF) bertaraf internasional,” tandas Shandy.

Sementara itu, KH M Mas’udi Busyiri Lc.MA, mengatakan untuk mencapai Falah, setiap muslim harus memperhatikan Maslahah, yaitu segala bentuk keadaan, baik secara material maupun non-material, yang mampu meningkatkan kedudukan manusia sebagai makhluk Allah yang paling mulia. “Mengutip as-Shatibi, mashlahah dasar bagi kehidupan manusia terdiri dari lima hal, yaitu agama, jiwa, intelektual, keluarga dan keturunan, dan material. Kelima hal tersebut merupakan keutuhan dasar manusia, yaitu kebutuhan yang mutlak harus dipenuhi agar manusia dapat hidup bahagia di dunia dan di akhirat. Jika salah satu tidak terpenuhi secara seimbang maka kebahagian hidup juga tidak tercapai,” tandas KH M Mas’udi Busyiri Lc.MA. (rhd)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *