Faktor Genetik, Malnutrisi, Virus, dan Perokok, Dituding Penyebab Penyakit Jantung Bawaan pada Anak

Dr Dyahris Koentartiwi SpA(K) (tengah), dan Dr Anik Puryanti SpA(K) (kanan), menjelaskan Penyakit Jantung Bawaan. (rhd)

Kota Malang, SERU – Penyakit Jantung Bawaan (PJB) perlu diwaspadai sejak dalam kandungan. Pasalnya, banyak faktor penyebab terjadinya PJB pada janin yang berdampak terbuka ketika lahir. Selain faktor genetik, malnutrisi, virus, dan perokok dapat menjadi kemungkinan penyebab PJB.

Bacaan Lainnya

Berdasarkan letak dan tingkat keparahannya, lebih dari 34 jenis PJB telah teridentifikasi dan kebanyakan menghambat aliran darah pada jantung dan pembuluh darah sekitarnya, atau dapat menyebabkan aliran darah abnormal dari atau ke jantung. Angka kejadian PJB di Indonesia diperkirakan mencapai 43.200 kasus dari 4,8 juta kelahiran hidup, atau sekitar 7-8 diantara 1.000 kelahiran setiap tahunnya.

Bunda Keyla dan bunda Zhafran, dari Komunitas Pejuang Jantung, menceritakan pengalaman anaknya yang menderita PJB. (rhd)

“PJB adalah kelainan pada struktur jantung yang dialami sejak lahir. Salah satu kelainan jantung bawaan terbanyak yang dialami bayi baru lahir, di antaranya Ventricular Septal Defect (VSD), Atrial septal defect (ASD), Patent Ductus Arteriosus (PDA) dan Tetralogy of Fallot,” jelas Konsultan Kardiologi Anak, Dr Dyahris Koentartiwi SpA(K), dalam acara Bicara Gizi bertajuk ‘Pencegahan Malnutrisi pada Anak dengan Penyakit Jantung Bawaan’, di Hotel Savana, Kota Malang, Sabtu (19/10/2019).

Disebutkan Dyahris, meskipun hingga saat ini belum diketahui pasti penyebabnya apa, namun beberapa faktor yang diduga dapat meningkatkan risiko terjadinya PJB, diantaranya genetik atau turunan, malnutrisi, virus, dan perokok aktif/pasif pada ibu hamil dan bayi. “Sebelum usia 20 minggu kehamilan, jantung belum terbetuk sempurna, sehingga diharapkan bagi ibu hamil sebaiknya menghindari terkena infeksi, seperti infeksi rubella, toksoplasma. Makanan juga harus dijaga yang tidak mengandung banyak pengawet. Tidak merokok dan menjauhi perokok (perokok pasif, red),” sebut Dyahris.

Dari literatur, PJB bisa diturunkan dari salah satu atau kedua orang tua, dan anggota keluarga lainnya. Selain itu, kandungan yang ada di dalam rokok juga dapat mempengaruhi perkembangan janin dan bayi. Malnutrisi mempengaruhi tumbuh kembang bayi dan anak. Virus yang dibawa hewan peliharaan menyebabkan infeksi.

“Sebaiknya menghindari perokok agar tidak menjadi perokok pasif yang akan mengakibatkan anak akan sering mengalami infeksi saluran nafas berulang. Karena seharusnya lingkungan anak itu steril, tidak polusi rokok. Bagi bapak-bapak, sebaiknya berhentilah merokok demi kesehatan keluarga. Dampaknya tidak langsung, tapi nanti. Daripada menyesal,” imbau Dyahris.

Gejala PJB sendiri bervariasi tergantung jenis dan berat ringan kelainan jantungnya. Gejala PJB pada bayi, kalau yang berat biasanya langsung kelihatan kulit bayi menjadi  kebiruan. Tapi kalau tidak berat, biasanya kalau minum terputus putus, berat badan sulit naik, bahkan kalau sudah gagal jantung bisa ada pembengkakan pada kelopak mata, kakinya, atau sering infeksi berulang. “Pada beberapa kasus, gejala bisa tidak terdeteksi pada waktu bayi lahir, tapi baru muncul saat mencapai usia tertentu. Itulah kenapa harus dilakukan deteksi dini,” serunya.

Pada beberapa PJB sederhana, kebocoran jantung bisa menutup sendiri ketika sudah menginjak usia 4 tahun, namun tidak semuanya PJB bisa nutup sendiri. “Misalkan yang bocor di serambi, biasanya kita tunggu sampai usia 4 tahun. Kalau 4 tahun tidak menutup akan ada gejala klinis pada anaknya, misalnya gagal jantung, hipertensi paru, dan lainnya. Kalau muncul, akan kita tutup melalui jalan operasi, agar jantung kembali normal,” terangnya.

Dr Dyahris Koentartiwi SpA(K) dan Dr Anik Puryanti SpA(K), menjawab pertanyaan awak media. (rhd)

Sementara itu, Konsultan Nutrisi dan Penyakit Metabolik Anak, Dr Anik Puryanti SpA(K), mengatakan, anak dengan penyakit jantung bawaan memerlukan asupan nutrisi yang intensif dan makanan tinggi kalori untuk memberikan optimalisasi pertumbuhan dan perkembangan, serta kuatitas hidup yang lebih baik pada anak. “Hal tersebut meliputi pemantauan dengan melakukan diagnosis status gizi dan masalah nutrisi, menentukan kebutuhan kalori, protein, jumIah cairan, menentukan rute pemberian nutrisi, jenis makanan, serta monitoring keberhasilan. Dengan pendekatan tersebut anak dengan PJB, diharapkan dapat terhindar dari kondisi serius, seperti malnutrisi dan stunting yang dapat memperburuk kesehatannya,” tandasnya.

Sementara itu, Digital & Internal Communication Danone Indonesia, Indah Tri Novita, mengatakan, Nutricia-Sarihusada sebagai bagian dari Danone Specialized Nutrition, melalui Bicara Gizi ingin memberikan edukasi kepada masyarakat bahwa pemenuhan gizi pada 1000 hari kehidupan sangat penting. Apalagi dengan kondisi medis khusus dengan anak PJB. Karena apabila tidak diberikan treatment yang benar dan tepat waktu, bisa mengakibatkan malnutrisi. “Jadi kita ingin melalui acara ini masyarakat bisa mendapatkan edukasi yang benar langsung dari pakarnya, sehingga bisa diaplikasikan pada kehidupan sehari-hari,” pungkasnya, mewakili Corporate Communication Director Danone Indonesia, Afif Mujahidin, dalam memperingati Hari Jantung Nasional. (rhd)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *