Butuh Perhatian Pemkot, Lahan Kritis Sebab Kepunahan Apel Batu

Apel Batu butuh perhatian. (ilustrasi)

Batu, SERU – Laju penurunan produksi buah apel di Kota Batu semakin terasa. Buah andalan Kota Batu ini menurun hingga 70 persen akibat makin kritisnya lahan pertanian. Selain itu, menyempitnya lahan hijau tiap tahun akibat banyaknya pembangunan, cuaca yang semakin panas dan faktor utama yaitu rusaknya kondisi tanah akibat penggunaan pupuk kimia secara besar-besaran memperburuk kondisi lahan apel.

Sebagian besar lahan miskin unsur hara, imbasnya produktifitas hasil panen merosot tajam. Belum lagi daya imun tanaman berkurang dan gampang terserang penyakit. Untuk itu, anggota DPRD Kota Batu, Didik Subiyanto, berharap ada perhatian secara serius dan berkala dari Dinas Pertanian (Dispertan) Kota Batu untuk menanggulangi dan memperbaiki kondisi lahan pertanian.

Bacaan Lainnya

“Menurut saya, jauh lebih baik pemerintah melalui dinas terkait, segera mencari solusi bagaimana memulihkan keadaan lahan. Daripada memberikan bantuan bibit, sarana prasarana produksi (saprodi) dan program pertanian organik dengan biaya puluhan miliar tiap tahun yang masih semu, tapi belum terlihat nyata,” keluh politisi Partai PKB ini, Selasa (15/10/2019).

Jika tidak, dia khawatir produksi apel bakal merosot bahkan hilang di Kota Batu akibat petani apel beralih ke komoditi lainnya, xg seperti jeruk karena biaya perawatan lebih ringan dan mudah. “Perbandingannya tahun 2000-an dengan sekarang, setiap 1 hektar produksi apel bisa menghasilkan 10-15 ton, sekarang hanya 2 ton perhektar. Biaya perawatan dahulu pun sangat murah, sekarang obat-obat pertanian meningkat tajam hingga 12 kali lipat. Itu yang dikeluhkan petani, perhatian pemerintah sangat diperlukan untuk menjaga kelangsungan produksi apel,” serunya.

Perkebunan apel yang terus terancam (ilustrasi)

Kaji Bianto, panggilan akrabnya, menuturkan ketersediaan apel dari Kota Batu sangat krusial. Terutama apel karena hasilnya mampu menyumbang 30 persen kebutuhan apel skala nasional. Sekarang produksi apel untuk memenuhi permintaan pasar paling besar hasil dari Nongkojajar, Poncokusumo dan Pujon.

Menanggapi hal ini, Kadis Pertanian Kota Batu, Sugeng Pramono, saat dikonfirmasi belum memberikan penjelasan. Dikutip dari pemberitaan sebelumnya, Dispertan mengaku serius mencari solusi tersebut dengan program revitalisasi lahan pertanian.  Ada beberapa sasaran titik lahan, seperti lahan tanaman pangan, sayur dan buah.

Memang, tanah yang selalu mendapatkan pupuk kimia secara terus menerus bisa mengalami degradasi. Untuk itu, dispertan memberikan pupuk organik supaya bisa mengurai pengaruh kimiawi dan prosesnya sangat lama. “Sesuai Rencana Program Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Pemkot Batu. Misal lahan jeruk di Dadaprejo, tanaman padi di Pendem, dan jambu di Bumiaji. Untuk apel masih belum maksimal, tapi tiap tahun kami genjot melalui penyaluran pupuk organik demi mempertahankan keberlangsungan produksi apel asli Kota Batu,” kata Sugeng, silam. (lih)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *