Surabaya, SERU.co.id – Sektor pariwisata Jawa Timur mulai merasakan imbas meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Dewan Pimpinan Daerah Himpunan Pramuwisata Indonesia (DPD HPI) Jawa Timur melaporkan adanya gelombang pembatalan pesanan (order cancellation) dari wisatawan mancanegara, khususnya asal Eropa, yang sedianya dijadwalkan berkunjung ke sejumlah destinasi unggulan di Jawa Timur.
Ketua DPD HPI Jawa Timur, Sujai Asmed, mengungkapkan bahwa kondisi ini merupakan dampak domino dari terganggunya jalur penerbangan internasional.
“Beberapa maskapai internasional telah membatalkan penerbangan menuju Bali. Karena Bali merupakan pintu masuk utama, wisatawan yang rencananya melanjutkan perjalanan ke Jawa Timur akhirnya turut membatalkan kunjungan mereka,” serunya dalam keterangan tertulis di tengah suasana bulan suci Ramadhan.
Menurut analisis HPI Jawa Timur, terdapat tiga faktor utama yang saat ini menekan industri pariwisata.
Pertama, gangguan rute dan biaya logistik. Konflik yang melibatkan wilayah udara Timur Tengah memaksa maskapai mencari rute alternatif yang lebih jauh. Kondisi ini memicu kenaikan harga tiket pesawat secara signifikan.
Kedua, peringatan perjalanan (travel warning) dari negara-negara besar seperti Amerika Serikat dan Inggris yang menciptakan keraguan bagi wisatawan untuk bepergian jauh, termasuk ke kawasan Asia Tenggara.
Ketiga, tekanan ekonomi global. Ketidakstabilan politik memicu fluktuasi harga minyak mentah dunia yang berdampak pada inflasi global, sehingga menurunkan daya beli dan minat berwisata masyarakat internasional.
Meski menghadapi tantangan tersebut, HPI Jawa Timur melihat adanya peluang yang dapat dioptimalkan. Indonesia, termasuk Jawa Timur, dinilai tetap sebagai destinasi yang relatif stabil dan aman secara politik dibandingkan kawasan konflik.
“Kita harus menonjolkan citra Indonesia sebagai Safe Destination. Fokus promosi perlu digeser sementara ke pasar yang lebih stabil seperti negara-negara ASEAN, Australia, China, dan Asia Timur,” tambah Sujai.
Selain itu, penguatan wisata domestik dinilai menjadi kunci untuk menjaga keberlangsungan mata pencaharian para pemandu wisata. Dengan memaksimalkan pergerakan wisatawan antarprovinsi, ketergantungan terhadap pasar Eropa yang tengah berfluktuasi dapat diminimalkan.
Versi Bahasa Inggris
Di tengah situasi ini, DPD HPI Jawa Timur mengajak seluruh anggotanya untuk tetap solid dan adaptif. Semangat “HPI Jaya, Bersatu Untuk Maju” diharapkan menjadi motor penggerak agar para pramuwisata tetap inovatif dalam mengemas paket wisata yang menarik bagi pasar lokal maupun regional.
Menutup keterangannya, Sujai berharap ketegangan di Timur Tengah segera mereda agar arus pariwisata global kembali normal.
“Di bulan Ramadhan yang penuh ampunan ini, doa kita adalah kedamaian dunia agar industri pariwisata yang baru saja pulih tidak kembali terpuruk,” pungkasnya. (dik/ono)









