Malang, SERU.co.id – Pemerintah Kota (Pemkot) Malang mencatat, terjadi lonjakan harga cabai, telur menjelang Lebaran 2026. Pihaknya melalui Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) akan menyiapkan skenario intervensi pasar untuk menekan lonjakan harga bahan pokok.
Wali Kota Malang, Dr Ir Wahyu Hidayat MM mengungkapkan, ia telah meninjau langsung ke sentra produksi cabai dan ayam potong. Hal itu dilakukan untuk memastikan ketersediaan stok dan menjaga stabilitas harga pangan di pasaran.
“Dari hasil rapat TPID, kami melihat kondisi terkini, kemudian kami cek langsung ke hulu, khususnya komoditas cabai dan ayam potong. Setelah ini juga akan kami lihat kondisi di hilir atau pasar,” seru Wahyu, Rabu (4/3/2026).
Diakuinya, permintaan cabai dan ayam potong menjelang Lebaran cenderung meningkat. Meski harga cabai di tingkat petani sekitar Rp80 ribu per kilogram, harga di pasar masih menembus di atas Rp100 ribu per kilogram.
“Pasokan cabai dari daerah seperti Jawa Tengah dan Banyuwangi belum mampu menekan harga di Kota Malang. Karena itu, TPID tengah menyiapkan sejumlah skenario intervensi, salah satunya melalui pembentukan Warung Tekan Inflasi (WTI),” ungkapnya.
Orang nomor satu di jajaran Pemkot Malang itu mengatakan, Anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT) telah disiapkan untuk WTI. Intervensi yang bisa dilakukan, misalnya membeli cabai dan menjual dengan harga yang sama untuk mempengaruhi harga di pasar.
Kepala Dispangtan Kota Malang, Slamet Husnan Hariyadi SP menyebut, produksi cabai di Kota Malang bergantung pada masa tanam dan masa panen. Kota Malang memiliki sekitar 40 hektare lahan cabai di Kedungkandang dan 25 hektare di wilayah Merjosari.
“Namun, masa panen tiap lahan berbeda-beda, sehingga tidak bisa langsung ditotal untuk memastikan kecukupan kebutuhan kota. Contohnya, lahan seluas 4.000 meter persegi dengan 4.500 pohon bisa menghasilkan tiga kuintal pada panen ke-13 hingga ke-15. Tapi ada juga yang panen kedua hanya 80 kilogram,” terang Slamet.
Secara total, produksi cabai Kota Malang dalam setahun bisa mencapai 3.000 hingga 4.000 ton jika dihitung dari seluruh masa panen. Namun kebutuhan bersifat fluktuatif, terutama saat aktivitas mahasiswa kembali normal sehingga konsumsi meningkat.
“Meskipun produksi lokal cukup besar, pasokan dari luar daerah tetap masuk mengikuti mekanisme pasar. Begitu harga di Kota Malang naik, cabai dari luar masuk. Saat pasokan bertambah, harga biasanya turun,” ujarnya.
Untuk mendukung petani, Dispangtan memfasilitasi bantuan benih cabai setiap tahun. Selain itu, petani juga mendapat bantuan tandon air, mulsa dan hand tractor dari program CSR.
“Di sektor peternakan, harga telur ayam ras saat ini berkisar Rp29 ribu per kilogram, sedangkan telur ayam kampung mencapai Rp60 ribu per kilogram. Produksi telur di Kota Malang masih belum mencukupi kebutuhan, sehingga pasokan dari luar daerah tetap diperlukan,” tuturnya.
Peternak ayam petelur paling banyak berada di Kelurahan Wonokoyo, dengan sekitar sembilan kandang dengan kapasitas 2.500 hingga 9.000 ekor per kandang. Sementara untuk ayam pedaging, terdapat lima lokasi peternakan dengan kapasitas rata-rata 3.000 hingga 6.000 ekor.
“Untuk komoditas daging sapi, harga relatif stabil di kisaran Rp122 ribu per kilogram, meski di pasar besar dilaporkan mencapai Rp135 ribu per kilogram. Pasokan daging sapi sebagian besar berasal dari luar daerah dan diproses melalui Rumah Potong Hewan (RPH) Kota Malang,” jelasnya.
Kenaikan harga daging, lanjutnya, dipengaruhi tingginya permintaan selama Ramadan dan menjelang Lebaran. Di sisi lain, selama Ramadan terjadi peningkatan aktivitas masyarakat, termasuk mahasiswa yang kembali berkuliah. (bas/rhd)









