Konflik Timur Tengah Memanas, Indonesia Siaga Dampak Kesulitan Ekonomi

Konflik Timur Tengah Memanas, Indonesia Siaga Dampak Kesulitan Ekonomi
Ilustrasi konflik Timur Tengah terus memanas dan berdampak pada ekonomi banyak negara. (AI Generated)

Jakarta, SERU.co.id – Ancaman Iran menutup sepenuhnya Selat Hormuz memicu ketegangan baru dalam konflik Timur Tengah. Presiden Amerika Serikat Donald Trump merespons dengan ancaman serangan balasan yang jauh lebih menghancurkan. Menanggapi situasi ini, Prabowo Subianto mengingatkan rakyat Indonesia siaga menghadapi dampak kesulitan ekonomi akibat perang.

Perang Iran dengan AS-Israel Terus Memanas

Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan, siap memblokade pengiriman minyak melalui Selat Hormuz. Juru bicara IRGC melalui media pemerintah Iran menegaskan, pihaknya memegang kendali penuh terhadap jalannya konflik yang sedang berlangsung.

Bacaan Lainnya

“Kami adalah pihak yang akan menentukan akhir dari perang ini. Termasuk keputusan mengenai akses pelayaran di Selat Hormuz,” seru juru bicara pernyataan tersebut, dikutip dari CNBC, Selasa (10/3/2026).

Iran menegaskan, tidak akan membiarkan minyak keluar dari kawasan Timur Tengah selama serangan militer AS-Israel masih berlangsung. Situasi semakin tegang setelah kabar pengangkatan Mojtaba Khamenei, pemimpin tertinggi baru Iran. Pergantian ini menjadi sinyal Teheran tidak akan melunak dalam konflik yang sedang berlangsung.

Menanggapi ancaman tersebut, Presiden AS, Donald Trump mengatakan, Washington siap melancarkan serangan balasan jauh lebih besar. Terutama jika Iran benar-benar mengganggu jalur distribusi minyak dunia.

“Iran akan menghadapi serangan dua puluh kali lebih keras sebelumnya. Amerika Serikat dapat menghancurkan berbagai target strategis Iran yang mudah dilumpuhkan. Death, fire and fury akan berkuasa atas mereka,” tulis Trump di media sosial Truth Social.

Prabowo Minta Masyarakat Bersiap Hadapi Dampak Ekonomi

Presiden RI, Prabowo Subianto mengingatkan, masyarakat Indonesia bersiap menghadapi dampak ekonomi konflik Timur Tengah. Menurutnya, pemerintah tidak boleh menutup mata terhadap potensi kesulitan yang mungkin muncul akibat ketidakstabilan global.

“Kita harus berani menghadapi kesulitan. Kita tidak boleh pura-pura bahwa kesulitan itu tidak ada,” ungkap Prabowo.

Ia juga menegaskan, akan menyampaikan penjelasan lebih lengkap kepada masyarakat. Khususnya mengenai kondisi yang sedang dihadapi Indonesia dalam waktu dekat.

Sementara itu, sejumlah ekonom juga mulai mengkaji potensi dampak konflik tersebut terhadap perekonomian nasional. Beberapa ekonom bertemu dengan Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla di Jakarta. Pertemuan itu membahas tantangan ekonomi yang muncul akibat situasi global.

Dalam pertemuan tersebut, Jusuf Kalla menekankan, kondisi ekonomi nasional sangat dipengaruhi oleh faktor global. Kemudian kebijakan masa lalu dan kebijakan pemerintah saat ini.

“Pemerintah masih memiliki ruang untuk mengintervensi kebijakan saat ini. Terutama ketika Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) menghadapi tekanan defisit,” ujar Kalla, dilansir dari Tempo.

Ia menyarankan, pemerintah memprioritaskan program-program bersifat produktif. Begitu juga yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan penerimaan negara.

“MBG itu penting, beli alutsista penting, koperasi penting. Cuma ada yang lebih penting lagi. Pemerintah tetap harus menentukan mana paling prioritas,” kata Kalla.

Versi Bahasa Inggris

Sinyal Penyesuaian Anggaran

Pemerintah juga mempertimbangkan kemungkinan penyesuaian anggaran pada sejumlah program nasional. Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana menyatakan, pelaksanaan program MBG akan mengikuti sepenuhnya keputusan Presiden Prabowo Subianto.

Hal ini disampaikan menanggapi pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Dimana membuka kemungkinan efisiensi anggaran jika tekanan terhadap APBN meningkat akibat lonjakan harga energi global. Hal ini ditambah nilai tukar rupiah yang melemah tajam hingga Rp17.000 per satu USD.

Menurut Dadan, BGN siap menjalankan apa pun keputusan presiden terkait kelanjutan program tersebut. Sebelumnya, BGN memperkirakan anggaran pelaksanaan program MBG pada 2026 mencapai sekitar Rp1,2 triliun per hari. (aan/rhd)

disclaimer

Pos terkait

iklan lowongan marketing seru.co.id