Malang, SERU.co.id – Peningkatan literasi dan pemahaman masyarakat terhadap pemanfaatan energi panas bumi (geotermal) menjadi solusi pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panasbumi (PLTP). Di sisi lain, pemanfaatan 10-20 persen geotermal justru meminimalisir/mitigasi terjadinya gempa maupun bencana alam gunung berapi meletus.
Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Brawijaya (UB), Prof Ir Sukir Maryanto SSi MSi PhD mengatakan, Indonesia berada di jalur Ring of Fire. Dengan ratusan gunung api aktif yang menyimpan energi panas bumi melimpah tersebar dengan patahan yang saling terhubung.
“Munculnya resistensi terhadap pengembangan geotermal di Indonesia bukan terletak pada keterbatasan teknologi, melainkan minimnya edukasi dan literasi publik terkait ilmu geotermal. Tantangan itu mengakibatkan hanya sedikit perguruan tinggi di Indonesia yang secara serius mengkaji geotermal dari sisi keilmuan. Namun, hanya UB yang berani menekuni dan memiliki laboratorium lapangan di Cangar, diapit oleh Gunung Welirang, Gunung Arjuno, dan Gunung Panderman,” jelas Prof Sukir, sapaan akrabnya, dalam ‘Ngopi Sam’ (Ngobrol Santai Sama Media) di Warung Bu Sukir.
Ia menegaskan, peningkatan literasi geotermal seharusnya menjadi tanggung jawab pemerintah dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan. Salah satunya, melalui pendekatan pentahelix, yakni pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas atau masyarakat, serta media massa.
“Mestinya pemerintah punya program masif pendidikan masyarakat terkait Geotermal lebih lengkap, termasuk manfaatnya meminimalisir kebencanaan. Karena ada banyak success story beberapa PLTP di Indonesia, awalnya investasinya mahal, namun sampai sekarang terus berproduksi dan menguntungkan semua pihak,” ucap guru besar bidang volcanology dan geotermal ini.
Diakuinya, edukasi tidak dapat dilakukan secara instan karena membutuhkan proses jangka panjang. Namun, hal itu merupakan bagian dari kewajiban negara dalam memberikan informasi dan perlindungan kepada masyarakat, bukan hanya dibebankan pada individu atau institusi tertentu.
“Kami coba menerapkan edukasi kepada anak-anak PAUD dan TK, karena ini literasi jangka panjang, akhirnya orang tua dan perangkat desa ikut tertarik,” testimoninya.
Pemanfaatan geotermal tidak boleh dipandang dari sudut sempit eksplorasi, namun bagaimana aspek mitigasi kebencanaan. Serta manfaat satu PLTP dapat memberikan banyak manfaat bagi penduduk di sekitar gunung berapi. Dimana energi panas bumi dapat dimanfaatkan secara tidak langsung (indirect use) maupun langsung (direct use).
“Pemanfaatan tidak langsung berupa PLTP, dengan memanfaatkan uap untuk menggerakkan turbin. Sementara pemanfaatan langsung dapat diterapkan pada berbagai sektor, seperti penyulingan minyak wangi, pengeringan kayu dan hasil pertanian. Hingga pengelolaan rumah kaca (greenhouse) dan mendukung konsep pertanian cerdas (smart farming),” bebernya.
Disebutkannya, Indonesia memiliki sebaran potensi panas bumi di berbagai wilayah, seperti Lahendong (Sulawesi), Kamojang dan Darajat (Jawa Barat). Kemudian Dieng (Jawa Tengah), Ijen dan Kawah Wurung (Jawa Timur), Ulubelu (Lampung), Sarulla (Sumatra), hingga Aceh dan Sulawesi.
Versi Bahasa Inggris
“Success story lain di negara maju seperti Jepang, energi panas bumi digunakan untuk pemanas ruangan, pengairan pertanian hingga pengendalian salju. Di Hawai yang dikenal memiliki gunung berapi ekstrim dapat memanfaatkan geotermal sebagai sumber listrik, sehingga gempa dapat diminimalisir,” tandasnya.
Diakuinya, saat ini dirinya telah menjalin kerjasama dengan beberapa kelompok dari berbagai negara yang memiliki potensi pemanfaan geotermal. Pengembangan dilakukan bersama Ranau Malaysia, Johor Bahru Malaysia, CMB Srilanka, HVD Mongolia, Ashibeten Japan, Australia dan lainnya. (rhd)









