Malang, SERU.co.id – Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) yang berganti nama Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem (FTAB) Universitas Brawijaya (UB). Berhasil mempertahankan dan meraih predikat Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM) dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KemenPAN-RB).
Rektor Universitas Brawijaya, Prof Widodo SSi MSi PhD mengatakan, keberhasilan FTAB mempertahankan predikat tertinggi ini selama lima tahun berturut-turut. Hal ini membuktikan, perubahan budaya kerja di UB merupakan komitmen permanen, bukan sekadar tren sesaat.
“Standarisasi WBBM adalah predikat tertinggi. Ini berarti FTAB tidak hanya ‘bersih’ dari korupsi, tetapi juga ‘melayani’ dengan standar prima,” seru Prof Widodo, sapaan akrabnya.
Daftar Isi
Memotivasi Fakultas dan Unit Lain
Menurutnya, FTAB UB merupakan satu-satunya perwakilan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) saat penerimaan. Belum ada fakultas lain yang menerima WBBM. Harapannya, semua fakultas dan unit lainnya nanti juga menerima WBBM.
“Memang tidak mudah, harus mengubah mindset SDM, budaya kultur melayani. Tentunya didukung bahkan faktor lainnya, seperti IKM (indeks Kepuasan Masyarakat) dengan mendekati skala 4 sempurna,” imbuh mantan Dekan FMIPA ini.
Rektor akan mendorong unit lain dan memotivasi pimpinan di UB untuk melakukan pelayanan terbaik. Menurutnya, ada 3 indikator yang mendukung upaya tersebut.
“Pertama, memenuhi indikator KPAI. Kedua, proses pendampingan. Ketiga, pemberian fasilitas untuk mencapai hal itu. Salah satunya manajemen berbasis digitalisasi agar transparan,” terangnya.
Tiga Poin Utama Capaian Dilaporkan ke KemenPAN-RB
Dekan FTAB UB, Prof. Hendrawan, mengungkapkan, konsistensi UB dalam meraih penghargaan ini telah dimulai sejak tahun 2019. Sekaligus hasil dari perjalanan transformasi digital dan penguatan integritas yang dimulai sejak tahun 2019. Ia memaparkan tiga poin utama capaian yang dilaporkan kepada KemenPAN-RB.
Pertama, mengenai evaluasi lima tahun pasca-meraih predikat Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK). FTP melakukan perbaikan berkelanjutan (continuous improvement) pada enam area perubahan, khususnya pada penguatan kualitas pelayanan publik yang inklusif dan responsif.
Kedua, penciptaan inovasi unggulan berupa ekosistem birokrasi yang meminimalkan interaksi tatap muka guna menutup celah maladministrasi.
“Digitalisasi total dilakukan melalui aplikasi terintegrasi untuk layanan persuratan, akademik, hingga keuangan. Kami juga menyediakan fasilitas bagi kelompok rentan, seperti penyandang disabilitas dan lansia sebagai standar wajib WBBM,” kata Prof. Hendrawan.
Ketiga, memberikan dampak nyata bagi mahasiswa dan pemangku kepentingan (stakeholder). Hal ini tercermin dari Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) yang mengalami kenaikan signifikan hingga mendekati skala sempurna (Skala 4).
“Selain itu, terjadi efisiensi waktu administrasi yang semula membutuhkan waktu harian menjadi hitungan jam atau menit,” terangnya.
Prof. Hendrawan menegaskan, WBBM bukanlah titik akhir, melainkan standar baru dalam pelayanan. Pihaknya berkomitmen untuk menularkan semangat ‘Bersih Melayani’ ke fakultas lain di lingkungan Universitas Brawijaya.
“Jika WBK adalah bukti bahwa kami jujur, maka WBBM adalah bukti bahwa kami bekerja nyata untuk memudahkan urusan masyarakat,” tegasnya.
Pihaknya berkomitmen menjaga dan meningkatkan apa yang sudah diraih, contohnya bagaimana WBBK menjadi WBBM, sehingga harapannya tidak turun. Bahkan segala kegiatan harus terbuka dan transparan, serta mau menerima semua masukan.
“Visi kita Go Internasional, apapun yang kita kerjakan harus berdampak internal dan eksternal dalam skala internasional. Kita ada budaya coffee morning, mulai level bawah hingga pimpinan, itu sebagai upaya kami lebih dekat dan komitmen bersama,” tandasnya. (*/rhd)









