Berawal dari Riset SDGs, Dioola Indonesia Berkembang dengan Beragam Usaha

Berawal dari Riset SDGs, Dioola Indonesia Berkembang dengan Beragam Usaha
Danty Oktiana Prastiwi menunjukkan produk maggot kering, pelet, bubuk dan cair. (rhd)

Malang, SERU.co.id – Jumlah sampah sisa makanan dari rumah tangga dan pasar mencapai puluhan juta ton per tahun. Mengatasi permasalahan tersebut, Dioola Indonesia turut ambil bagian dengan fokus utama pada food loss dan food waste di Malang, Jawa Timur. Berawal dari riset Sustainable Development Goals (SDGs), kini Dioola Indonesia berkembang dengan beragam usaha di berbagai bidang.

Ketua Yayasan Dioola Karya Indonesia, Danty Oktiana Prastiwi menyampaikan, pihaknya berkomitmen mengurangi penumpukan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Serta memperpendek jejak karbon dan mendukung terwujudnya Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).

Bacaan Lainnya

“Kami memulai research and development (RnD) SDGs sejak 2019 lalu, dengan menggandeng Pondok Pesantren Bahrul Maghfiroh, Kec. Lowokwaru, Kota Malang. Dengan mengelola sampah berbasis masyarakat dan pondok pesantren; memanfaatkan sampah organik dari sisa makanan, sayur dan buah,” seru Danty, sapaan akrab alumni Biokimia Institut Pertanian Bogor (IPB) lulusan tahun 2019 ini.

Alasan Dioola Indonesia memilih pengelolaan sampah organik sebagai solusi, lantaran lebih mudah dan praktis dibandingkan pengelolaan sampah anorganik. Dengan memilih pengembangan maggot karena memiliki banyak manfaat.

Maggot merupakan larva dari jenis lalat Black Soldier Fly (BSF) sehingga sering disebut maggot BSF, berupa ulat berwarna putih keabu-abuan dengan tubuh seperti belatung. Ukuran larva dewasa 15-22 mm dan berwarna coklat, dimana siklus hidup lalat BSF dan maggot kurang lebih selama 40-45 hari.

Panen maggot hasil budidaya di Ponpes Bahrul Maghfiroh. (Dioola for SERU.co.id)

Adapun manfaat Maggot BSF, di antaranya:

  • Pengelola Sampah Organik:
    Mampu mengurai dan memakan sisa sayuran, sisa makanan, dan limbah organik lainnya dengan sangat cepat.
  • Pakan Ternak:
    Kandungan protein dan lemaknya tinggi, menjadikannya sumber pakan alternatif yang bergizi untuk unggas, ikan, dan hewan peliharaan.
  • Pupuk Alami:
    Limbah dari proses biokonversi maggot dapat digunakan sebagai pupuk organik yang subur.
  • Potensi Ekonomi:
    Budidaya maggot dapat menjadi usaha yang menguntungkan dan berkelanjutan.

Sementara itu, keunggulan Maggot BSF, yakni:

  • Tidak Berbahaya,
  • Lalat BSF (induk maggot) tidak menggigit, tidak membawa penyakit, dan tidak menyebarkan bau tidak sedap seperti lalat biasa,
  • Produksi Cepat:
    Pertumbuhan dan pemanenan maggot dapat dilakukan dengan cepat, hanya dalam waktu sekitar 17 hari dari telur hingga bisa digunakan sebagai pakan.

 

Pos terkait