Jakarta, SERU.co.id – Pernyataan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut stok BBM nasional hanya cukup 20–25 hari memicu panic buying kekhawatiran masyarakat. Informasi tersebut memicu fenomena panic buying di sejumlah daerah, khususnya daerah terdampak bencana. Pemerintah meminta masyarakat tetap tenang, karena cadangan BBM terus diperbarui melalui distribusi dan impor rutin.
Bahlil menjelaskan, keterbatasan stok BBM bukan semata karena pasokan terbatas. Melainkan karena kapasitas fasilitas penyimpanan di dalam negeri juga terbatas. Saat ini, kapasitas storage BBM Indonesia hanya mampu menampung cadangan sekitar 22–23 hari.
“Kalau kita diminta menyimpan 60 hari, mau taruh di mana? Kita tidak punya storage-nya,” seru Bahlil, dikutip dari KompasTV, Jumat (6/3/2026).
Sebelumnya, Bahlil juga menyebut, cadangan BBM nasional hanya cukup sekitar 20 hari jika terjadi gangguan distribusi global. Seperti penutupan jalur pelayaran strategis Selat Hormuz akibat konflik Iran melawan AS-Israel di kawasan Timur Tengah.
Pernyataan tersebut kemudian memicu kecemasan di tengah masyarakat. Di beberapa wilayah, warga mulai antre panjang di SPBU untuk mengisi BBM lebih banyak dari biasanya.
Daftar Isi
Trauma dan Momentum Mudik
Fenomena panic buying tidak hanya dipicu pernyataan pemerintah. Namun juga oleh pengalaman masa lalu masyarakat saat terjadi kelangkaan BBM akibat bencana banjir.
Trauma tersebut membuat sebagian warga memilih mengamankan stok BBM lebih dulu. Kondisi ini semakin diperkuat oleh meningkatnya kebutuhan energi menjelang arus mudik Idul Fitri.
“Saat banjir November lalu, BBM sangat sulit didapatkan. Harus antre lama dan panjang, bahkan seringkali tidak kebagian. Kalau mau eceran harga bisa lebih dari Rp50.000 per liternya,” ujar Iqbal Wahyudi, warga korban bencana Tapanuli Selatan, Sumatra Utara.
Pertamina Minta Masyarakat Tidak Panik
Menanggapi keresahan tersebut, Pertamina memastikan pasokan energi masih dalam kondisi aman. Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut, Fahrougi Andriani Sumampouw mengatakan, stok BBM dan LPG masih mencukupi hingga periode Lebaran.
“Kami mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak melakukan panic buying. Pertamina telah melakukan berbagai langkah antisipasi. Mulai dari build up stock, penguatan sarana distribusi dan koordinasi dengan berbagai pihak,” ujarnya.
Senada, Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi menyatakan, distribusi BBM di wilayah Jawa Timur, Bali dan Nusa Tenggara masih berjalan normal.
“Pertamina juga menerapkan metode distribusi RAE (Regular, Alternative, dan Emergency). Khususnya untuk menjaga stabilitas pasokan jika terjadi lonjakan permintaan,” imbuhnya.
Versi Bahasa Inggris
Stok 20 Hari Bukan Berarti BBM Habis
Ekonom senior INDEF, Tauhid Ahmad menilai, masyarakat tidak perlu menafsirkan angka cadangan BBM secara keliru. Menurutnya, angka 20 hari tersebut merupakan indikator cadangan operasional. Dimana terus berputar dan diperbarui setiap hari melalui impor dan distribusi rutin.
“Bukan berarti setelah 20 hari BBM akan habis. Pertamina terus melakukan pembelian dan distribusi secara berkelanjutan,” jelasnya, dilansir dari Sindonews.
Ia menambahkan, cadangan operasional tersebut juga sesuai dengan aturan pemerintah. Dalam Peraturan BPH Migas No 9 Tahun 2020, pemegang izin usaha diwajibkan menyediakan cadangan operasional BBM minimal selama 23 hari.
“Keterbatasan cadangan tersebut juga berkaitan dengan kemampuan finansial negara. Saat ini, sebagian besar kebutuhan minyak mentah Indonesia masih berasal dari impor. Sekitar 20 persen di antaranya berasal dari Arab Saudi, sementara sisanya dari negara lain,” pungkasnya. (aan/rhd)
View this post on Instagram









