Malang, SERU.co.id – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang merespons polemik menu MBG di bulan Ramadan. Ia memperingatkan, pihak SPPG untuk memperhatikan standar gizi, meski menunya berupa makanan kering.
Kepala Disdikbud Kota Malang, Suwarjana SE MM mengungkapkan, pelayanan kepada siswa tidak boleh sekadar berjalan. Tapi juga harus memenuhi standar gizi dan kesehatan sesuai tahap usia perkembangan peserta didik.
“Harapan kami, SPPG memberikan layanan terbaik. Mutu makanan harus disesuaikan dengan kebutuhan anak-anak, baik TK, SD, SMP, maupun SMA,” seru Jana, sapaannya, Jumat (27/2/2026).
Diakuinya, pemberian menu kering dilakukan, karena menyesuaikan momentum Ramadan. Sebagai penerima program, Disdikbud tidak mempermasalahkan bentuk menu tersebut.
“Namun, pihak SPPG tetap harus mengedepankan kualitas. Jangan sampai tidak sesuai dengan kebutuhan gizi, seperti karbohidrat, protein dan vitamin,” ungkapnya.
Di Kota Malang, terdapat sekitar 63 SPPG yang saat ini beroperasi melayani kurang lebih 80 ribu siswa. Dengan jumlah penerima yang besar, ia menyoroti pengawasan kualitas menjadi hal yang krusial.
Pria kelahiran Bantul itu menyebut, terdapat potensi risiko kesehatan apabila makanan kering tidak dikelola dengan baik. Karena itu, pihak SPPG harus mempertimbangkan menu yang disajikan bagi para siswa.
“Kalau nasi mungkin sudah umum. Tapi kalau makanan kering, harus diperhatikan juga dampaknya bagi kesehatan. Jangan sampai justru menyebabkan tenggorokan sakit atau gangguan lainnya,” tegasnya.
Senada, Kepala SPPG Tulusrejo 2, Julfa Hannan mengatakan, aspek gizi dan kesehatan harus menjadi perhatian serius. Ia memastikan, menu MBG yang didistribusikan ke 13 sekolah di wilayahnya telah sesuai dengan standar kebutuhan gizi.
“Pengaturan dan pemilihan menu MBG telah disesuaikan dengan Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 28 Tahun 2019. Selain itu ada Petunjuk Teknis (Juknis) Kepala Badan Gizi Nasional tentang Program MBG Perubahan Ketiga,” bebernya, ketika dikonfirmasi.
Dalam Juknis Perubahan Ketiga tersebut, pagu anggaran menu MBG per hari untuk tingkat PAUD, TK hingga kelas 3 SD sebesar Rp8 ribu. Sedangkan untuk kelas 4 SD sampai SMA ditetapkan pagu anggaran sebesar Rp10 ribu.
“Dengan pagu anggaran sebesar itu, maka tentunya kita usahakan semaksimal mungkin. Untuk MBG makanan kering yang didistribusikan selama Ramadan, kami selalu menyediakan roti, telur hingga buah-buahan,” urainya.
Julfa menuturkan, pengaturan menu tersebut juga selalu dikoordinasikan dengan ahli gizi. Menu makanan yang dibagikan setiap hari harus mengandung karbohidrat, protein, serat dan vitamin.
“Kami juga selalu berdiskusi dengan ahli gizi terhadap menu yang dibagikan. Ini merupakan komitmen kami untuk menjaga kualitas MBG, supaya guru dan orang tua tidak khawatir,” tandasnya. (bas/rhd)









