Malang, SERU.co.id – Sembilan siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al Maarif 9, yang berada di Desa Randuagung, Kecamatan Singosari mengalami gejala keracunan usai menyantap Makanan Bergizi Gratis (MBG), Rabu (11/2/2026). Diketahui, makan tersebut disiapkan oleh Satuan Penyedia Pemenuhan Gizi (SPPG) Randuagung 3 di bawah naungan Yayasan Sumber Pangan Nuswantoro Lancar.
Anggota DPRD Kabupaten Malang, Zulham Akhamad Mubarrok membeberkan, dari informasi di lapangan terdapat 9 siswa yang mengalami keracunan massal. Karena menyangkut keselamatan anak-anak dan penerima manfaat, peristiwa ini harus tidak boleh ditutup-tutupi. Sehingga nantinya dapat menjadi bahan evaluasi lagi bagi SPPG lain agar tidak terjadi kejadian serupa.
“Harus transparan dan evaluasi total, ini menyangkut kesehatan anak-anak. Seperti mulai dari proses produksi, distribusi hingga pengawasan mutu makanan. Sehingga program ini jangan sampai tercoreng karena kelalaian teknis,” seru Zulham, Sabtu (14/2/2026).
Dirinya menerangkan, seusai menyantap MBG, sembilan siswa ini mengalami gejala yang hampir sama yakni mual, sakit kepala dan sakit perut. Melihat hal tersebut, para korban kemudian dilarikan ke puskesmas terdekat. Setelah mendapatkan penanganan medis, keenam siswa yang sudah membaik diperbolehkan pulang dan di keesok harinya, dua siswa juga diperbolehkan pulang.
“Salah satu siswa, sempat dirawat di puskesmas lalu dirujuk ke Rumah Sakit Muslim. Karena suhu badan meningkat dan keluhanya tidak membaik,” terang Zulham.
Dikatakan zulham, di hari itu para siswa mendapatkan jatah MBG dengan menu nasi putih, tempe sambal hijau, ayam kungpao, tumis baby buncis tauco dan potongan buah naga. Dari keterangan para siswa, ada perubahan aroma dan rasa pada masakan tumis baby buncis tauco dan tempe sambal hijau.
Ia menerangkan, waktu itu pihak sekolah juga meminta agar SPPG mengirim jatah MBG pada pukul 06.45 WIB. Namun, pendistribusian terjadi kelambatan kurang lebih selama dua jam dari permintaan.
“Dua menu tersebut diduga menjadi penyebab. Selisih waktu tersebut diduga menjadi celah makanan terkontaminasi bakteri sebelum dikonsumsi,” ungkapnya. (wul/ono)









