Jakarta, SERU.co.id – Gelombang teror menyasar para pengkritik penanganan banjir Sumatra. Rumah Manajer Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia serta aktivis dan influencer lain dikirimi bangkai ayam hingga bom molotov. Pola teror ini diduga membungkam kritik publik atas kebijakan lingkungan dan respons pemerintah terhadap bencana ekologis.
Kepala Greenpeace Indonesia, Leonard Simanjuntak menilai, teror tersebut bukan insiden tunggal. Ia menduga kuat adanya pola intimidasi sistematis terhadap masyarakat sipil yang vokal mengkritik kebijakan pemerintah. Khususnya terkait penanganan bencana ekologis di Sumatera.
“Sulit untuk tidak mengaitkan teror ini dengan upaya pembungkaman kritik. Polanya mirip dan sasarannya jelas. Yakni orang-orang yang belakangan aktif menyuarakan kritik,” seru Leonard, dikutip dari website Greenpeace Indonesia, Kamis (1/1/2026).
Rumah Manajer Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia, Iqbal Damanik, menjadi salah satu sasaran intimidasi. Keluarganya menemukan bangkai ayam tergeletak di teras rumah dengan pesan ancaman yang terikat di kakinya. Tertulis pesan bernada intimidatif “Jagalah ucapanmu apabila Anda ingin menjaga keluargamu. Mulutmu harimaumu.”
Dalam beberapa pekan terakhir, Iqbal memang kerap mengunggah temuan lapangan terkait banjir di Sumatra dan kritik atas respons pemerintah. Unggahan itu, menurut Leonard, bersumber dari investigasi Greenpeace di wilayah terdampak bencana. Seiring meningkatnya kritik tersebut, Iqbal juga mengalami serangan digital berupa hujatan dan ancaman melalui media sosial.
Teror serupa juga dialami DJ Donny (Ramon Dony Adam). Disjoki asal Aceh itu melaporkan dua kali teror ke polisi. Selain kiriman bangkai ayam, rumahnya bahkan menjadi target pelemparan bom molotov. Laporan tersebut telah diterima dengan nomor LP/B/9545/XII/2025/SPKT
“Kejadian itu terekam kamera CCTV pada Rabu (31/12/2025) dini hari. Ini bukan cuma soal saya. Ini sudah mengancam keselamatan keluarga dan lingkungan sekitar,” kata Donny.
Sementara itu, influencer dan kreator konten asal Aceh, Sherly Annavita mengungkap, teror terhadap dirinya memuncak pada 29–30 Desember 2025. Rumahnya dilempari telur busuk dan mobil pribadinya dicoret-coret. Ia bahkan menerima pesan tertulis menuduhnya memanfaatkan bencana Sumatra demi popularitas.
“Semuanya bermula dari ancaman lewat pesan pribadi. Lalu meningkat jadi teror fisik,” tulis Sherly melalui akun Instagram pribadinya, @sherlyannavita.
Aktivis HAM sekaligus Direktur Eksekutif Amnesty Internasional Indonesia, Usman Hamid, mengecam keras rangkaian intimidasi tersebut.
“Jika teror berlalu tanpa penegakan hukum, negara secara tidak langsung merestui iklim anti-kritik. Ini memperkuat kekhawatiran kami bahwa 2025 adalah tahun malapetaka HAM,” ujar Usman, dilansir dari Kompascom.
Usman menilai, rangkaian teror tersebut merupakan upaya menciptakan ketakutan kolektif. Padahal, kritik yang disampaikan para aktivis dan influencer tersebut merupakan hak konstitusional warga negara.
“Benang merahnya jelas. Pembungkaman kritik atas kebijakan pro-deforestasi dan buruknya penanganan bencana ekologis di Sumatra,” tegas Usman.
Greenpeace Indonesia menegaskan tidak akan mundur menghadapi intimidasi. Leonard menyatakan, kritik publik seharusnya dipandang sebagai pengingat demokrasi. Bukan justru ancaman kekuasaan. (aan/mzm)









