Malang, SERU.co.id – Dari data yang dimiliki Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang, angka kesadaran masyarakat untuk memeriksakan deteksi dini kanker leher rahim (serviks) masih sangat rendah. Dari 700 ribu jiwa untuk ditargetkan melakukan skrining rutin, hingga kini tercatat hanya sekitar 35 ribu atau 5 persen yang telah melakukannya.
Plt Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kabupaten Malang, Titis Ari Respatilatsih menjelakan, target pemeriksaan dini kanker serviks untuk perempuan di Kabupaten Malang dengan usia 30-65 tahun kurang lebih mencapai 700 ribu-an jiwa. Namun, terdapat beberapa faktor mengakibatkan tingkat kesadaran masyarakat untuk dilakukannya pengecekan dini masih tergolong rendah.
“700 ribu itu sasaran usia yang bisa dilakukan deteksi dini Kanker leher rahim. Hanya 5 persen yang skrining atau yang periksa,” seru Titis, saat dikonfirmasi SERU.co.id.
Ia menerangkan, rasa malu saat pemeriksaan menjadi salah satu faktor utama masyarakat enggan untuk melakukan skrining. Untuk melakukan skrining kanker serviks utama meliputi tes IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat), Pap smear dan tes DNA HPV. Dimana metode tersebut masih memerlukan bantuan tenaga medis untuk melakukan pengambilan sampel cairan pada alat kemaluan pasien.
“Metodenya itu pasiennya itu harus di fasilitas kesehatan, kemudian diambil sampelnya oleh tenaga kesehatan. Jadi harus melibatkan orang lain, pasien harus tidur dalam posisi tertentu, kemudian diambil sampelnya. Seperti itu ada ketakutan, terutama malu,” jelasnya.
Titis menerangkan, dari data yang dikantongi oleh Dinkes Kabupaten Malang, kurang lebih terdapat 400 perempuan yang terdeteksi mengidap kanker serviks. Rata-rata para pasien tersebut diketahui mengidap penyakit mematikan ini sudah berada pada stadium lanjut.
“Yang sudah positif, itu sekitar 400. Karena banyak yang tidak screening,” tuturnya.
Dikatakan Titis, karena rendahnya kesadaran masyarakat terhadap skrining rutin tersebut. Kanker leher rahim atau serviks tersebut, masih menjadi penyakit penyebab kematian yang cukup tinggi di Kabupaten Malang.
“Separu nya kalau gak salah, 50 persen yang terkonfirmasi kasus itu meninggal. (Meninggal) setelah diobati, kan banyak yang datang dalam kondisi sudah terlambat,” bebernya.
“Kalau dia secara teratur melakukan pemeriksaan, ya deteksi dini, misalnya setahun sekali. Begitu ada ketahuan kan masih dini, nah itu lebih mudah untuk dilakukan penanganan,” imbuh Titis.
Dirinya menjelaskan, skrining kanker serviks tersebut dapat didapatkan dengan gratis oleh masyarakat dengan JKN. Wanita dengan kriteria umur atau yang sudah berumah tangga akan mendapatkan jatah satu kali skrining setiap tahunya.
Sebagai informasi, kanker serviks adalah tumor yang ganas tumbuh di leher rahim yang terhubung ke vagina. Dimana sebagian besar penyakit tersebut disebabkan karena terinfeksi parasit Human Papillomavirus (HPV) tipe organik. Penularan tersebut terjadi terjadi karena beberapa faktor, seperti aktivitas seks, merokok, penggunaan pil KB jangka panjang dan kekebalan tubuh yang lemah.
Seringkali penyakit tersebut tidak menimbulkan gejala awal dan perkembangannya sangat lambat. Namun seiring berjalannya waktu, akan timbul gejala seperti nyeri pada vagina, pendarahan serta keputihan yang tidak wajar dan lain sebagainya.(wul/ono)









