BMKG Akhiri Peringatan Tsunami di Maluku Utara, Ini Tips Penting Hadapi Tsunami

BMKG Akhiri Peringatan Tsunami di Maluku Utara, Ini Tips Penting Hadapi Tsunami
Ilustrasi peringatan tsunami. (AI Generated)

Jakarta, SERU.co.id – BMKG resmi mengakhiri peringatan dini tsunami pascagempa di wilayah Pulau Batang Dua, Ternate, Maluku Utara. Meski peringatan dicabut, getaran kuat menyisakan kepanikan dan kekhawatiran di masyarakat. Peristiwa ini kembali mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan saat tsunami.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani menjelaskan, gempa ini tergolong gempa dangkal yang dipicu aktivitas subduksi di Laut Maluku. Hasil analisis menunjukkan mekanisme sumber berupa sesar naik (thrust fault). Berpotensi memicu pergerakan vertikal dasar laut.

Bacaan Lainnya

“Terjadi kenaikan muka air laut di beberapa wilayah. Seperti Halmahera Barat setinggi 0,30 meter, Bitung 0,20 meter, hingga Minahasa Utara mencapai 0,75 meter,” serh Faisal, dikutip dari website BMKG, Sabtu (4/4/2026).

Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida R menyebutkan, gempa dirasakan di tiga provinsi, yakni Maluku Utara, Sulawesi Utara dan Gorontalo.

“Di Kota Ternate, intensitas gempa mencapai V–VI MMI, membuat warga panik dan berhamburan keluar rumah. Sejumlah bangunan mengalami kerusakan ringan. Seperti plester dinding runtuh dan kerusakan pada cerobong pabrik,” ujarnya.

Gempa Bisa Picu Tsunami

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari menjelaskan, gempa susulan dengan kedalaman 62 kilometer tidak berpotensi tsunami. Namun masyarakat diminta tetap waspada terhadap kemungkinan gempa lanjutan.

“Secara ilmiah, tsunami umumnya dipicu gempa tektonik bawah laut. Biasanya, gempa dengan magnitudo di atas 6,5 berpotensi memicu tsunami. Terutama jika terjadi di laut dan disertai deformasi dasar laut,” ungkap Abdul.

Tips Penting Saat Terjadi Tsunami

BMKG mengingatkan masyarakat memahami langkah mitigasi sederhana tetapi krusial. Berikut tiga langkah penting yang visa dilakukan masyarakat:

1. Tanggap Gempa
Jika gempa terasa kuat lebih dari satu menit, segera menjauh dari pantai dan tepi sungai. Kemudian cari informasi resmi.

2. Tanggap Peringatan
Jika sirine atau peringatan terdengar, segera evakuasi ke tempat tinggi. Jangan kembali meski gelombang pertama telah surut.

3. Tanggap Evakuasi
Siapkan rencana darurat keluarga. Termasuk jalur evakuasi dan titik kumpul serta aktif mengikuti simulasi bencana.

Versi Bahasa Inggris

Kearifan Lokal sebagai Mitigasi Tsunami

Indonesia memiliki sistem peringatan alami berbasis budaya. Salah satunya adalah “Smong”, tradisi lisan masyarakat Simeulue, Aceh. Dalam syair “Nandong Smong”, masyarakat diajarkan tanda-tanda tsunami. Yakni gempa kuat, air laut surut, lalu segera lari ke tempat tinggi.

Budayawan Simeulue, Muhammad Riswan Roesli menyebut, memori kolektif ini terbukti menyelamatkan warga saat tsunami 2004.

“Masyarakat seperti mendapat komando tanpa perintah. Begitu gempa kuat dan air surut, semua langsung lari sambil berteriak ‘smong’,” ujarnya, seperti dilansir dari dwcom.

Riswan menjelaskan, tradisi ini diwariskan sejak tsunami tahun 1907 melalui cerita pengantar tidur atau tuturan keluarga. Hasilnya, saat tsunami 2004 melanda Aceh dengan korban mencapai sekitar 230.000 jiwa, di Simeulue korban hanya sekitar 3–5 orang. (aan/rhd)

 

disclaimer

Pos terkait

iklan lowongan marketing seru.co.id