Cara Nikmati Opor dan Rendang Lebaran Tanpa Takut Kolesterol

Cara Nikmati Opor dan Rendang Lebaran Tanpa Takut Kolesterol
Ilustrasi hidangan saat Lebaran. (AI Generated)

Jakarta, SERU.co.id – Menikmati opor dan rendang saat Lebaran tanpa harus dibayangi rasa takut kolesterol. Meski tinggi lemak dan berisiko bagi kesehatan, hal itu bisa diatasi dengan pola makan tepat. Para ahli menyarankan pola makan seimbang dan aktivitas fisik untuk menjaga tubuh tetap sehat selama Lebaran.

Dokter spesialis penyakit dalam, dr. Roy Panusunan Sibarani SpPD-KEMD menjelaskan kolesterol sebenarnya tidak semata-mata berasal dari makanan. Tubuh memproduksi kolesterol secara alami di hati dan membutuhkannya untuk berbagai fungsi penting.

Bacaan Lainnya

“Asupan lemak dari makanan tetap berperan dalam meningkatkan kadar lemak dalam darah. Lemak ini akan diolah menjadi lipoprotein, termasuk Low-Density Lipoprotein (LDL) atau yang sering disebut kolesterol jahat,” seru Roy, dikutip dari detikHealth, Sabtu (21/3/2026).

Menurut dr. Roy, konsumsi makanan tinggi lemak jenuh dan trans fat dapat memicu pembentukan plak di pembuluh darah. Terutama opor ayam dan hidangan bersantan lainnya. Kondisi ini jika berlangsung terus-menerus berisiko menyebabkan gangguan kardiovaskular.

“Opor itu kan penuh lemak. Trans fat bisa menjadi cikal bakal pembentukan plak di pembuluh darah,” ujarnya.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, ia menyarankan masyarakat tidak hanya fokus pada lauk berlemak. Namun juga menyeimbangkannya dengan konsumsi serat dari sayur dan buah. Serat diketahui mampu membantu mengurangi penyerapan lemak di dalam usus.

“Kalau hanya makan nasi, rendang, dan gulai, itu cepat jadi lemak di tubuh. Tapi kalau ditambah sayur atau buah seperti nanas, penyerapan lemak bisa ditekan,” jelasnya.

Tak hanya itu, aktivitas fisik juga menjadi kunci penting. Tubuh memiliki waktu sekitar tiga jam setelah makan sebelum lemak menumpuk secara signifikan. Dalam rentang waktu tersebut, disarankan melakukan aktivitas ringan seperti berjalan kaki.

Strategi Menikmati Hidangan Lebaran

Sementara itu, pakar gizi klinik Universitas Muhammadiyah Jakarta, Tirta Prawita Sari, membagikan lima strategi sederhana. Khususnya agar tetap bisa menikmati hidangan Lebaran tanpa mengorbankan kesehatan.

1. Modifikasi cara memasak. Santan kental dapat diganti sebagian dengan santan encer atau susu rendah lemak. Selain itu, kulit ayam sebaiknya dibuang. Kemudian konsumsi rendang dibatasi sekitar 75 gram untuk mengurangi asupan lemak jenuh.

2. Dahulukan konsumsi serat sebelum makan utama. Mengonsumsi sayur atau setengah buah alpukat sebelum makan besar terbukti memperlambat penyerapan lemak dan gula dalam tubuh.

3. Lakukan aktivitas fisik ringan setelah makan. Jalan kaki selama 15–30 menit terbukti efektif membantu menurunkan kadar gula darah. Terutama setelah makan sekaligus meningkatkan metabolisme.

4. Cukupi kebutuhan cairan tubuh. Minum delapan hingga sepuluh gelas air putih per hari. Hal tersebut membantu ginjal bekerja optimal dalam membuang zat sisa. Termasuk kelebihan sodium dan asam urat.

5. Manfaatkan rempah alami dalam masakan. Kandungan kunyit dan jahe dalam hidangan Lebaran memiliki efek antiinflamasi yang baik bagi tubuh. Namun selama tidak dimasak dengan minyak berlebihan.

Tirta menegaskan, masyarakat tidak perlu menghindari makanan Lebaran secara total. Kunci utamanya adalah pengaturan porsi, keseimbangan gizi dan pola hidup aktif.

“Tidak perlu diet ketat. Modifikasi kecil dan kebiasaan sehat sudah cukup untuk menekan risiko,” ujarnya.

Waspada Penyakit setelah Lebaran

Di sisi lain, orang tua diminta waspada terhadap sejumlah penyakit yang kerap muncul setelah Lebaran. Terutama pada anak-anak.

Diare menjadi keluhan paling umum. Biasanya dipicu oleh makanan kurang higienis atau kebersihan tangan yang terabaikan. Selain itu, sakit perut juga sering terjadi akibat perubahan pola makan drastis.

Gejala lain yang perlu diperhatikan adalah muntah. Bisa berkaitan dengan gangguan pencernaan atau infeksi. Kemudian konstipasi akibat kurang minum dan perubahan kebiasaan selama perjalanan mudik.

Tak kalah penting, risiko Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) juga meningkat setelah Lebaran. Interaksi intens seperti bersalaman dan berpelukan memudahkan penularan penyakit, terutama pada anak-anak. (aan/rhd)

 

disclaimer

Pos terkait

iklan lowongan marketing seru.co.id