Malang, SERU.co.id – Warga Malang beserta rombongan ziarah rohani Kristen selamat dari rudal Israel-Iran selama berada di Timur Tengah. Mereka sempat bersembunyi di bunker Yerusalem dan hanya mengandalkan pertolongan Tuhan di tengah situasi mencekam.
Salah satu peserta ziarah asal Malang, Pendeta Yoel Sianto menceritakan, rombongan berangkat pada 21 Februari 2026 untuk mengunjungi sejumlah situs suci Kristen. Perjalanan dimulai dari Mesir sebelum melanjutkan perjalanan ke Yerusalem dan Betlehem pada 26 Februari.
“Awalnya tanggal 26 dan 27 Februari situasinya aman, baik di wilayah Palestina maupun Israel. Situasi berubah tanggal 28 Februari saat kami berada di Kota Lama Yerusalem, tepatnya di jalur Jalan Salib atau Via Dolorosa,” seru Yoel saat ditemui wartawan SERU.co.id, Rabu (11/3/2026).

Ia melanjutkan, saat rombongan berada di sekitar kompleks Al-Aqsa dan melihat Kubah Emas (Dome of the Rock), tiba-tiba ponsel berbunyi. Situasi mencekam saat muncul peringatan darurat ponsel, di hari wafatnya Ayatollah Ali Khamenei akibat serangan rudal Israel-Amerika Serikat ke Iran.
“Sirine panjang berbunyi dan orang-orang di sekitar langsung berlarian masuk rumah. Pemandu wisata kami kemudian menghubungi agensi perjalanan dan mendapat informasi kalau situasi tersebut dipicu serangan Israel ke Iran,” ungkapnya.
Meski sempat melanjutkan perjalanan hingga Gereja Makam Kudus, rombongan kembali dikejutkan oleh sirene saat hendak memasuki area makam Yesus. Mereka pun segera masuk ke bunker bawah tanah di sekitar lokasi.
“Kami berada di bunker sekitar pukul 10.30 sampai 12.00 siang. Suasananya campur aduk, ada yang menangis dan ketakutan, apalagi ada yang lansia dan dikawatirkan kena serangan jantung,” ujar pria yang juga Wakil Gembala Gereja Bethany Yestoya Malang itu.
Dari Yerusalem ke Bunker Nazaret: Nihil Komunikasi dengan KBRI Terdekat
Yoel menuturkan, rombongan setidaknya tiga kali harus berlindung di bunker. Setelah kejadian di Yerusalem, mereka dievakuasi menggunakan bus menuju Nazaret di wilayah utara.
“Tapi setibanya di hotel di Nazaret sekitar pukul 16.00 waktu setempat, sirene kembali berbunyi dan kami masuk lagi ke bunker. Banyak yang kembali menangis, khawatir tidak bisa pulang ke Indonesia, saat Israel-Iran saling mengirimkan rudal,” terangnya.
Akibat meningkatnya eskalasi konflik, jalur udara di wilayah tersebut juga ditutup dan seluruh perjalanan dialihkan melalui jalur darat dan laut. Selama berada di bunker, komunikasi sempat terganggu, karena sinyal telepon hilang. Namun Yoel mengatakan, masih bisa menghubungi keluarga melalui jaringan Wi-Fi.
“Selagi di bunker atau saat masuk shelter, kami tetap mengabari keluarga di Indonesia. Dalam situasi genting, kami hanya bisa berdoa, melantunkan puji-pujian bersama untuk saling menguatkan dan mengandalkan pertolongan Tuhan,” ujarnya.
Yoel juga mengatakan, komunikasi dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) baru terjalin setelah rombongan berhasil tiba di Yordania. Hal itu dikarenakan Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel.
“Wilayah Yordania relatif lebih aman, disamping ada sejumlah situs yang kami kunjungi di sana. Di Yordania, kami mendapat informasi ada sekitar 200 peziarah WNI dari 11 grup yang juga tertahan akibat konflik,” jelasnya.
Yoel beserta rombongannya kemudian menuju Kairo, Mesir untuk mengunjungi sejumlah situs suci Kristen. Atas arahan KBRI, mereka akhirnya bisa kembali pulang melalui penerbangan dengan rute Kairo–Turki–Indonesia dan tiba tanggal 9 Maret 2026.
“Meski ada 10 situs batal dikunjungi akibat peningkatan eskalasi konflik, kami bersyukur situs tersebut tidak terdampak dan bisa pulang dengan selamat. Kami juga tidak lupa berdoa untuk perdamaian di wilayah Timur Tengah,” tandasnya. (bas/rhd)
Kanal: Peristiwa









