Malang, SERU.co.id – Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Malang telah merampungkan skema penataan PKL dan lalu lintas menjelang Lebaran. Penataan itu utamanya menyasar kawasan Jalan Merdeka Selatan yang telah rampung uji cobanya.
Kepala Dishub Kota Malang, Drs Widjaja Saleh Putra mengungkapkan, skema penataan PKL tetap menggunakan badan jalan tanpa penutupan akses. Penempatan para pedagang dan area parkir pun tetap seperti kondisi saat ini, sebagaimana uji coba yang telah dilakukan.
“Untuk hari Sabtu, PKL ditempatkan di sisi utara atau merapat ke Alun-alun. Sedangkan parkir berada di depan Kantor Pos,” seru Jaya, Selasa (3/3/2026).
Ia menuturkan, penataan PKL ke depan perlu dilakukan lebih masif. Termasuk mendorong kolaborasi dengan PKL di kawasan Jalan Agus Salim dan Jalan Merdeka Barat.
“Meski begitu, secara umum penataan arus lalu lintas dan PKL sudah bisa difasilitasi. Tinggal ditingkatkan dari sisi layanan, komoditas, serta kerapian,” ungkapnya.
Ia menyebut, beban lalu lintas di kawasan tersebut relatif masih terkendali. Namun menjelang Ramadan dan pasca-Lebaran, kunjungan masyarakat ke Alun-alun dan kawasan Kayutangan diperkirakan meningkat signifikan.
“Kondisi ini memungkinkan kepadatan di Jalan Merdeka Selatan bertambah. Karena arus lalu lintas sifatnya dinamis, bisa saja dilakukan penutupan jika kondisi sangat padat,” tegasnya.
Dishub Kota Malang Hadapi Mudik Lebaran 2026
Selain penataan kawasan Jalan Merdeka Selatan, Dishub juga menyiapkan langkah menghadapi arus mudik Lebaran 2026 atau Idul Fitri 1447 Hijriah. Hal ini merujuk pada hasil rapat koordinasi lintas sektoral nasional yang dipimpin Kapolri, termasuk kebijakan pembatasan angkutan berat melalui Surat Keputusan Bersama Menteri Perhubungan dan Kapolri.
Jaya mengatakan, secara nasional pergerakan masyarakat saat Lebaran 2026 diprediksi mencapai 143,6 juta orang. Angka ini lebih rendah dibanding prediksi tahun sebelumnya yang mencapai 163 juta, namun realisasinya hanya sekitar 150 juta pergerakan.
“Untuk Kota Malang, diperkirakan terjadi penurunan mobilitas keluar-masuk sekitar 1,75 persen. Penurunan ini dipengaruhi sejumlah faktor, di antaranya musim penghujan serta kecenderungan masyarakat menghemat biaya perjalanan,” terangnya.
Dishub memprediksi puncak arus mudik terjadi dalam dua gelombang. Gelombang pertama diperkirakan berlangsung pada 13–15 Maret, sedangkan gelombang kedua pada 18–19 Maret.
“Ada dua gelombang puncak arus mudik, karena ada dua momen besar, yakni Nyepi dan Idulfitri. Sementara untuk arus balik, masih menunggu perkembangan timeline lebih lanjut,” ujarnya.
Terkait rekayasa lalu lintas, Jaya menegaskan, penerapannya bersifat situasional. Tidak ada kebijakan tetap seperti penutupan jalan total atau sistem contraflow, kecuali jika kondisi di lapangan mengharuskan.
“Kota Malang ini kota destinasi sekaligus kota lintasan, baik menuju Kota Batu, Kabupaten Malang, maupun arah Blitar. Jadi rekayasanya sangat tergantung situasi,” jelasnya.
Versi Bahasa Inggris
Titik Rawan Kepadatan
Dishub Kota Malang memetakan sejumlah titik rawan kepadatan selama periode mudik dan libur Lebaran. Titik tersebut terbagi menjadi dua kategori, yakni pusat perdagangan dan jasa serta ruas jalan utama.
“Untuk pusat perdagangan dan jasa, di antaranya kawasan MOG, Pasar Besar, Ramayana, Trend, pusat oleh-oleh, serta Matos. Sedangkan ruas jalan rawan meliputi Jalan Raden Intan, Gatot Subroto, kawasan Kacuk, Ahmad Yani, Borobudur hingga sekitar MCC, sampai arah Sengkaling,” bebernya.
Adapun puncak kunjungan wisata ke Kota Malang diperkirakan terjadi setelah Lebaran. Prediksi itu berdasarkan evaluasi libur tahun-tahun sebelumnya, termasuk periode Natal dan Tahun Baru. (bas/rhd)









