​Dengan SmartGerdX, Penyakit GERD Kini Bisa Dideteksi Secara Digital

Dengan SmartGerdX, Penyakit GERD Kini Bisa Dideteksi Secara Digital
Penampakan aplikasi SmartGerdX di Smartphone. (ist)

​Malang, SERU.co.id – Di tengah tren self-diagnosis yang kerap dilakukan masyarakat melalui informasi internet, sebuah solusi inovatif lahir dari dunia akademik. Dr. dr. Syifa Mustika, Sp.PD., K-GEH., pakar penyakit dalam sekaligus dosen dan peneliti dari Universitas Brawijaya (UB), resmi memperkenalkan SmartGerdX.

SmartGerdX adalah platform digital berbasis website yang dirancang khusus untuk membantu masyarakat mendeteksi dini Gastroesophageal Reflux Disease (GERD). Inovasi ini hadir sebagai jawaban atas keprihatinan Dr. Syifa terhadap banyaknya pasien yang mengklaim menderita GERD hanya berdasarkan kesamaan gejala atau informasi hoaks. SmartGerdX menggunakan dasar medis yang kuat, mengadopsi kuesioner GERD-Q yang telah teruji secara klinis di dunia kedokteran.

Bacaan Lainnya

​“Terdapat enam pertanyaan yang saya modifikasi untuk diisi oleh pengguna. Setelah itu, sistem akan mengeluarkan skor beserta rekomendasi terkait penggunaan obat serta modifikasi gaya hidup,” seru Dr. Syifa.

Dengan inovasi ini, masyarakat bisa mendapatkan penilaian awal yang lebih akurat sebelum melakukan pemeriksaan lebih lanjut ke dokter spesialis. ​Inovasi yang telah dikembangkan sejak 2024 ini bukan sekadar prototipe dan telah sukses diuji coba kepada 250 warga di Kabupaten Banyuwangi. Kehadiran platform ini pun mendapat apresiasi langsung dari Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani.

​“SmartGerdX menunjukkan bahwa teknologi dapat membuat layanan kesehatan lebih inklusif, cepat, dan berbasis data. Inilah kolaborasi yang kami harapkan antara pemerintah daerah dan perguruan tinggi,” ungkap Ipuk.

Versi Bahasa Inggris

​SmartGerdX kini menjadi bukti nyata keberhasilan program hilirisasi riset yang didorong oleh Direktorat Inovasi dan Kawasan Sains Teknologi (DIKST) Universitas Brawijaya. Inovasi ini bahkan berhasil menembus daftar 117 karya inovasi Business Innovation Center (BIC), Kementerian Riset dan Teknologi. ​

Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi UB, Prof. Unti Ludigdo juga menegaskan, pihaknya akan terus memastikan riset dosen tidak hanya berhenti di jurnal ilmiah dan laboratorium.

“Harapan kami ini menjadi solusi nyata bagi publik,” pungkasnya.

Bagi masyarakat yang ingin melakukan deteksi dini secara mandiri, platform ini dapat diakses secara bebas melalui laman SmartGerdX.com. Diharapkan masyarakat juga dapat lebih teredukasi dan bijak dalam menangani gangguan kesehatan pencernaan mereka.(dik/ono)

 

disclaimer

Pos terkait

iklan lowongan marketing seru.co.id