Ancaman El Niño Godzilla jadi Sorotan, BMKG Prediksi Muncul Juni–Agustus 2026

Ancaman El Niño Godzilla jadi Sorotan, BMKG Prediksi Muncul Juni–Agustus 2026
Ilustrasi ancaman El Niño Godzilla. (AI Generated)

Jakarta, SERU.co.id – Ancaman fenomena El Niño menjadi sorotan usai istilah ‘Godzilla’ muncul menggambarkan kekuatan ekstrem. BMKG memprediksi potensi kemunculannya pada periode Juni–Agustus 2026. Para pakar mengingatkan, pentingnya kesiapsiagaan sejak dini untuk mengantisipasi dampak pada sektor air, pertanian, hingga pangan.

Apa itu El Niño Godzilla

Pengamat Meteorologi dan Geofisika (PMG) dari BMKG, Muhammad Hafizh Suwandi menjelaskan, secara ilmiah El Niño hanya terbagi dalam tiga kategori. Yakni lemah, moderat dan kuat. Istilah ‘Godzilla’ sendiri muncul dari kajian BRIN yang mengaitkan kemungkinan kombinasi antara ENSO positif dan IOD positif.

Bacaan Lainnya

“Sederhananya, El Niño terjadi ketika suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur menjadi lebih hangat dari normal. Dalam kondisi biasa, angin pasat mendorong air hangat ke wilayah barat. Termasuk Indonesia, sehingga mendukung pembentukan awan dan hujan,” seru Hafizh, dikutip dari website BMKG, Jumat (3/4/2026).

Hafizh melanjutkan, saat El Niño, angin ini melemah. Air hangat bergeser ke tengah dan timur Pasifik, menyebabkan pusat pembentukan awan ikut berpindah menjauh dari Indonesia. Dampaknya, curah hujan di Indonesia menurun dan musim kemarau cenderung lebih kering.

“Berdasarkan outlook NOAA per 12 Maret 2026, kondisi ENSO diperkirakan bertahan hingga Mei–Juli 2026. Peluang El Niño meningkat menjadi sekitar 62 persen pada periode Juni–Agustus 2026. Artinya, ancaman El Niño masih berupa potensi, bukan kepastian,” ujarnya.

Dampak El Niño di Indonesia

Jika El Niño terjadi, penurunan curah hujan terjadi di Indonesia. Kondisi ini menyebabkan berkurangnya air sungai, sumur mengering, penurunan hasil panen hingga risiko kebakaran hutan dan lahan.

“Secara langsung, masyarakat bisa merasakan kemarau lebih panjang. Kemudian tanah retak, tanaman mudah layu, hingga meningkatnya biaya untuk memenuhi kebutuhan air,” urai Hafizh.

Sementara itu, Guru Besar Agroklimatologi Universitas Gadjah Mada, Bayu Dwi Apri Nugroho menegaskan, El Niño merupakan siklus alami. Namun kini menjadi lebih sulit diprediksi akibat perubahan iklim global.

“Tanaman pangan seperti padi dan jagung sangat rentan terhadap kekurangan air. Kalau suplai air menurun, pertumbuhan tanaman terganggu, bahkan bisa berujung gagal panen,” imbuhnya, seperti dilansir dari website UGM.

Dampak ini tidak hanya menurunkan produksi, tetapi juga memukul pendapatan petani. Dalam kondisi ekstrem, biaya tanam yang sudah dikeluarkan bisa hilang tanpa hasil.

Adaptasi dan Kesiapsiagaan jadi Kunci

Prof Bayu menekankan, langkah utama bukan panik, melainkan bersiap. Beberapa upaya dapat dilakukan, di antaranya:

• Bagi masyarakat:
1. Menghemat penggunaan air
2. Memperbaiki kebocoran instalasi
3. Menampung air hujan
4. Menggunakan air secara bijak

• Bagi petani:
1. Menyesuaikan waktu tanam
2. Memilih varietas tahan kekeringan
3. Menggunakan teknik irigasi hemat air

• Bagi pemerintah:
1. Memperkuat distribusi air bersih
2. Mengelola tampungan air
3. Meningkatkan kesiapsiagaan kebakaran lahan
4. Memberikan peringatan dini hingga tingkat desa

“Komunikasi petani dengan penyuluh jadi kunci keberhasilan adaptasi di lapangan. Dengan informasi cuaca akurat dan pendampingan tepat, petani dapat mengambil keputusan lebih baik,” tegasnya.

Versi Bahasa Inggris

Menurut Prof Bayu, kolaborasi lintas sektor menjadi hal krusial menghadapi potensi El Niño besar. Pemerintah, lembaga riset dan perguruan tinggi harus bekerja sama menyediakan data akurat dan mengembangkan inovasi pertanian.

“El Niño bukan hal baru, tapi dampaknya bisa semakin besar. Kuncinya ada pada kesiapan kita dalam mengantisipasi,” pungkasnya. (aan/rhd)

 

disclaimer

Pos terkait

iklan lowongan marketing seru.co.id